Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. AS Pindahkan Kapal Induk Terakhirnya dari Jepang ke Timur Tengah, Bakal Bombardir Iran Lagi?

AS Pindahkan Kapal Induk Terakhirnya dari Jepang ke Timur Tengah, Bakal Bombardir Iran Lagi?

as-pindahkan-kapal-induk-terakhirnya-dari-jepang-ke-timur-tengah,-bakal-bombardir-iran-lagi?
AS Pindahkan Kapal Induk Terakhirnya dari Jepang ke Timur Tengah, Bakal Bombardir Iran Lagi?
service

Arina.idAmerika Serikat (AS) memindahkan kapal induk terakhirnya, USS George Washington, dari Jepang ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang telah beroperasi selama sembilan bulan berturut-turut. Beberapa laporan menunjukkan adanya kasus kekurangan makanan dan kerusakan toilet serta kamar mandi di USS Abraham Lincoln. 

Dikutip dari Aljazeera, kondisi tersebut menyebabkan keadaan kapal tidak higienis sehingga kesehatan prajurit memburuk. Laporan juga menyebutkan setidaknya satu pelaut mencoba melompat dari kapal. Situasi itu membuat kapal induk tersebut dinilai kurang siap menghadapi eskalasi perang, sehingga harus diganti. 

Kabar tentang pemindahan USS George Washington dari kawasan Asia Pasific menyusul laporan awal tahun ini AS juga telah memindahkan sebagian sistem Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) dari Korea Selatan untuk digunakan melawan Iran, serta laporan lain bahwa AS mengurangi persediaan rudal dan amunisinya di Pasific untuk menjaga agar perang terus berlanjut.

“Secara keseluruhan, hal itu melemahkan proyeksi kekuatan AS di Asia dan kemampuannya untuk melawan ancaman dari China,” kata William Yang, analis senior untuk Asia Timur Laut di International Crisis Group.

“Jika kita melihat ini (perang dengan Iran) sebagai bagian dari situasi yang lebih besar… hal ini tentu saja berdampak pada efektivitas pencegahan di kawasan regional secara keseluruhan yang dipimpin AS terhadap Tiongkok,” kata Yang tentang pengerahan USS George Washington.

Setelah kapal induk AS terakhir meninggalkan kawasan itu – untuk saat ini – akan membuat armada Tiongkok semakin berani menjelajahi perairan melampaui Rantai Pulau Pertama, yang membentang dari utara Jepang melalui Taiwan dan Filipina utara hingga Borneo.

William Yang menambahkan, garis pertahanan Perang Dingin awalnya dirancang untuk membendung Beijing, tetapi belakangan kurang efektif dalam mencegah Kapal Induk Liaoning dan Shandong milik China bergerak ke Pasifik Barat. Dalam perkembangan lain yang mengkhawatirkan bagi para sekutu AS, aktivitas penjaga pantai Tiongkok telah meningkat sejak Juni di perairan timur Taiwan–yang tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif Jepang dan Filipina.

“Operasi maritim ini ditujukan ke Taipei, ditujukan ke Manila, ditujukan ke Tokyo,” kata Yang kepada Al Jazeera. “Sebagian dari operasi ini juga bertujuan untuk menguji reaksi AS terhadap operasi-operasi ini dan kemampuan AS untuk merespons.”

Ja Ian Chong, ilmuwan politik dan pakar keamanan di Universitas Nasional Singapura, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekutu AS mungkin khawatir China akan menjadi semakin berani seiring dengan pergeseran aset militer AS ke arah barat.

“Saya pikir sekutu dan mitra AS mungkin bertanya-tanya apakah langkah ini memberi [China] lebih banyak kepercayaan diri untuk menguji dan menekan. Hal itu pada gilirannya dapat memberi tekanan lebih besar pada mereka,” katanya kepada Aljazeera.

Chong mengatakan, penarikan kembali kapal induk tersebut telah mengurangi beberapa fleksibilitas operasional AS, meskipun sekutu AS masih dapat merasa tenang karena sebagian besar pasukan AS tetap berada di wilayah tersebut.

Kawasan Asia Pasifik menampung sekitar 375.000 personel militer dan sipil AS yang ditugaskan di Komando Pasifik AS. Puluhan ribu pasukan di antaranya ditempatkan di Korea Selatan dan Jepang. Chong melihat pengerahan kembali pasukan tersebut lebih sebagai simbol pergeseran strategi AS terhadap Asia.

Apalagi Trump memandang sekutu regional AS sekarang sebagai pihak yang memegang peran utama dalam pertahanan mereka sendiri, meskipun dengan dukungan AS. Strategi Pertahanan Nasional AS 2026 menyerukan peningkatan “pembagian beban dengan sekutu dan mitra di seluruh dunia” untuk melawan ancaman dari Tiongkok, Korea Utara, Rusia, dan Iran.

Strategi ini juga menyerukan kepada sekutu di Eropa dan Asia untuk meningkatkan pengeluaran militer menjadi 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan pengeluaran terkait keamanan menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2030-an.

Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang misalnya, menyambut strategi Trump dengan cepat meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka. Bahkan Taipei pekan ini mengumumkan meningkatkan pengeluaran pertahanan pada 2027 sebesar 18 persen.

Bulan lalu, Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro menyerukan agar pengeluaran pertahanan meningkat menjadi 4 persen dari PDB untuk melawan China, seiring dengan upaya Manila memperdalam kerja sama keamanannya dengan Tokyo dan secara diam-diam dengan Taipei.

Chong mengatakan bahwa ke depannya, ia memperkirakan situasi ini akan semakin menguat seiring Asia terus bergerak maju. “Sekutu dan mitra AS telah meningkatkan pengeluaran dan kemampuan mereka setelah dukungan AS mengecil. Perkembangan terbaru ini bisa mendorong tren ini. Sekutu dan mitra AS juga mencari cara bekerja sama lebih erat satu sama lain, di samping membangun kemampuan internal mereka,” katanya

Para ahli keamanan Taiwan dan Jepang juga mengatakan bahwa mereka memperkirakan minat AS – beserta kapal induknya – pada akhirnya akan kembali ke Asia. Seperti disampaikan Kei Koga, ahli keamanan Asia Timur dan aliansi AS-Jepang di Universitas Teknologi Nanyang di Singapura, pengerahan aset militer ke Timur Tengah “mengkhawatirkan dari perspektif jangka pendek” tetapi tidak melihat langkah tersebut sebagai “bukti pelepasan strategis AS jangka panjang dari kawasan tersebut”.

K Tristan Tang, peneliti non-residen di National Bureau of Asian Research, memiliki pandangan serupa, karena aset-aset penting seperti US Amphibious Ready Groups – yang dapat menampung pesawat tempur siluman F-35B dan pesawat yang lebih kecil – tetap berada di wilayah Pasific meskipun USS George Washington telah dipindahkan.

Tang juga mengatakan bahwa meskipun perang melawan Iran masih berlanjut, dia tidak berpikir Trump akan mengabaikan China. “Jauh di lubuk hati Trump, hal terpenting tetaplah kepentingan ekonomi AS dan isu ekonomi dengan China,” katanya. “China tetaplah hal terpenting.”

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.