Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Menimbang Gagasan, Menguji Kepemimpinan, dan Membaca Masa Depan NU Jelang Muktamar Tambakberas

Menimbang Gagasan, Menguji Kepemimpinan, dan Membaca Masa Depan NU Jelang Muktamar Tambakberas

menimbang-gagasan,-menguji-kepemimpinan,-dan-membaca-masa-depan-nu-jelang-muktamar-tambakberas
Menimbang Gagasan, Menguji Kepemimpinan, dan Membaca Masa Depan NU Jelang Muktamar Tambakberas
service

Jika ada satu hal yang bikin buku Nakhoda Abad Kedua NU layak diperhatikan sejak halaman pertama, itu bukan semata karena sosok Hery Haryanto Azumi yang jadi fokus pembahasan, melainkan karena sifat keberaniannya melakukan sesuatu yang belum dilakukan kandidat-kandidat lain menjelang Muktamar NU ke-35. 

Di tengah maraknya manuver politik, konsolidasi dukungan, dan perang persepsi yang lazim mengiringi kontestasi kepemimpinan NU, Gus Hery, demikian sapaan, tampil dengan cara berbeda. Ia menyusun dan menyajikan gagasan blak-blakan kepada publik. Melalui buku ini, ia mencoba menumbuhkan kepercayaan warga Nahdliyin, dengan terlebih dahulu menawarkan visi, peta jalan, dan argumentasi tentang arah NU seratus tahun ke depan. Dalam tradisi intelektual NU yang menghargai hujjah/argumentasi langkah ini menarik sekaligus patut mendapat apresiasi. 

Setidaknya hingga naskah ini ditulis, dari sekian nama yang disebut-sebut dalam bursa Ketua Umum PBNU, hanya Gus Hery yang memilih mengajukan dirinya melalui pertarungan gagasan yang terdokumentasi dalam buku, sehingga publik memiliki kesempatan menguji, mengkritik, bahkan menolak atau menerima ide-idenya secara terbuka sebelum menentukan sikap.

Selama aktif dan menyaksikan pasang surut dinamika Nahdlatul Ulama dari dekat, saya membaca buku ini dengan dua kacamata sekaligus. Pertama, sebagai warga Nahdliyin yang menginginkan NU tetap relevan memasuki abad keduanya. Kedua, sebagai aktivis yang memahami dan mengikuti setiap momentum menjelang muktamar selalu melahirkan narasi, figur, dan perebutan tafsir mengenai arah organisasi.

Buku Nakhoda Abad Kedua NU pada satu sisi adalah buku yang menyoal masa depan NU. Namun pada sisi lain, sulit dipungkiri, buku ini juga upaya membangun legitimasi intelektual sosok Gus Hery Haryanto Azumi sebagai salah satu figur yang diproyeksikan dalam kontestasi kepemimpinan PBNU mendatang.

Kejujuran membaca dua dimensi itu penting agar buku ini tidak dipahami sebagai biografi politik, tetapi juga sebagai dokumen gagasan yang layak diuji secara kritis. Tema sentral buku ini dapat diringkas dalam satu kalimat: NU butuh regenerasi kepemimpinan dan transformasi organisasi menghadapi abad kedua. 

Gagasan tersebut berulang kali ditegaskan sejak sambutan, pengantar, prolog, hingga bab-bab awal. Buku ini menyatakan, NU tidak cukup hanya bangga sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, tetapi harus jadi kekuatan peradaban global.

Secara substansial, tesis tersebut sulit dibantah.

Kekuatan Utama Buku: Membaca NU dalam Lanskap Global

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah keberhasilannya menggeser percakapan NU dari persoalan internal organisasi menuju percakapan peradaban. Penulis mengingatkan, abad kedua NU tidak sedang berhadapan dengan tantangan abad sebelumnya. Revolusi digital, artificial intelligence, geopolitik global, perubahan budaya generasi muda, dan ekonomi berbasis pengetahuan telah mengubah arena perjuangan organisasi Islam.

Dalam konteks ini, buku tersebut menawarkan pertanyaan relevan: Apakah NU akan tetap kuat dan besar, bagian dari dunia Islam atau justru tertinggal oleh perubahan zaman?

Setidaknya ini pertanyaan penting karena selama satu dekade terakhir, sebagian energi organisasi sering tersedot pada urusan internal, politik elektoral, konflik elite, dan perebutan posisi struktural. Sementara itu, isu-isu strategis seperti transformasi pendidikan pesantren, ekonomi umat, penguasaan teknologi, dan pengembangan pengetahuan belum mendapat perhatian sebanding.

Sebagai aktivis Lakpesdam, saya melihat bahwa kegelisahan tersebut sesungguhnya bukan hal baru. Sejak era Gus Dur, diskursus pembaruan NU, penguatan masyarakat sipil, demokrasi, pluralisme, dan pemberdayaan warga telah membatin dalam tradisi intelektual NU. Menarik, buku ini berusaha menghubungkan kembali warisan itu dengan tantangan abad ke-21.

Regenerasi adalah Tema Dominan

Gagasan paling dominan dalam buku ini adalah regenerasi. Hampir seluruh argumentasi para sarjana yang dikutip, Greg Barton, Robert Hefner, Azyumardi Azra, Esposito, Eickelman, Menchik, hingga Feillard mengarah pada satu kesimpulan bahwa organisasi besar hanya akan bertahan jika mampu melahirkan generasi baru pemimpin.

Secara normatif, argumen ini kuat. Namun ada satu pertanyaan kritis yang belum dijawab memadai. Regenerasi seperti apa?

Dalam tradisi NU, regenerasi bukan sebatas pergantian usia atau pergantian figur. Regenerasi adalah reproduksi nilai, etika, sanad keilmuan, dan keberpihakan sosial. NU dengan populasi yang tidak sedikit maka tokoh muda bak cendawan di musim hujan. Masalah adalah minimnya kaderisasi pemikiran dan kepemimpinan strategis operasional.

Buku ini menekankan pentingnya generasi baru yang menguasai teknologi, ekonomi, diplomasi, dan wawasan global. Namun belum cukup menjelaskan bagaimana generasi tersebut akan tetap berakar pada tradisi sosial Nahdliyin yang jadi kekuatan utama NU selama satu abad.

Di sinilah letak kritik pertama. NU butuh regenerasi, namun bukan regenerasi elite. Kita kekeringan regenerasi gagasan dan regenerasi pengabdian dalam arti sesungguhnya.

NU Terlalu Dilihat dari Atas

Sebagai buku yang berbicara masa depan NU, terdapat kecenderungan kuat bahwa NU dibaca dari perspektif elite. Banyak muncul adalah narasi kepemimpinan, transformasi organisasi, diplomasi global, ekonomi besar, dan peran internasional.

Namun NU sesungguhnya hidup bukan karena PBNU melainkan karena jutaan jamaah di desa-desa, hidup karena madrasah kecil, hidup karena pengajian kampung, hidup karena jaringan pesantren, badan otonom, dan kerja-kerja sosial yang berlangsung setiap hari. Dalam buku ini, basis sosial tersebut belum mendapatkan perhatian yang seimbang.

Padahal pengalaman Lakpesdam selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kekuatan NU justru terletak pada kemampuan mengorganisir masyarakat dari bawah.

Karena itu, jika membicang “kebangkitan abad kedua”, maka pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa ketua umum PBNU berikutnya, tetapi, bagaimana nasib pesantren kecil di pinggiran? Soal masa depan petani Nahdliyin? Kedudukan dan peran perempuan NU? Signifikansi generasi muda NU dalam ekonomi digital? Kenapa NU harus menjawab isu kemiskinan, ketimpangan, perubahan iklim, dan disabilitas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memperoleh cukup ruang.

Gus Hery sebagai Simbol Generasi Transisi

Buku ini memposisikan Gus Hery sebagai “tokoh transisi generasi NU”. Narasi yang disajikan konsisten. Gus Hery digambarkan sosok yang berakar pada tradisi pesantren tetapi memiliki orientasi modern. Ia diproyeksikan sebagai jembatan antara warisan keulamaan dan tuntutan globalisasi.

Secara konseptual, posisi tersebut menarik, namun sebagai pembaca kritis, saya melihat buku ini masih lebih banyak menyampaikan pesan daripada pembuktian.

Kita banyak menemukan pernyataan mengenai kapasitas, jejaring, dan visi Gus Hery. Tetapi bukti empiris mengenai pencapaian, inovasi kelembagaan, atau model transformasi yang pernah dijalankan belum kuat dalam bagian-bagian awal naskah.

Padahal dalam tradisi NU, legitimasi kepemimpinan tidak lahir hanya dari narasi, tetapi juga dari rekam jejak khidmah. Muktamar NU selain memilih pemimpin yang mampu berbicara tentang masa depan juga mampu menunjukkan kemampuan mengelola perubahan.

Relevansi dengan Muktamar Tambakberas

Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung di Tambakberas memiliki makna simbolik. Tambakberas adalah lokasi historis sekaligus representasi tradisi pesantren yang telah melahirkan banyak ulama dan pemikir NU. Maka pertarungan gagasan menjelang muktamar seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa” tetapi bergerak pada pertanyaan “untuk apa”.

Buku ini layak diapresiasi karena mencoba menggeser diskursus dari politik figur menuju politik gagasan. Namun jelang Tambakberas, warga NU lagi-lagi butuhkan jawaban lebih membumi.

Jika benar NU kekuatan peradaban dunia, maka perlu menjelaskan: Agenda ekonomi abad kedua seperti apa? Model pendidikan pesantren masa depan seperti apa? Peta jalan teknologi NU bagaimana? Apa strategi kaderisasi ulama-intelektual? Reformasi tata kelola organisasi sampai level cabang dan ranting seperti apa? Tanpa jawaban operasional, gagasan besar berisiko berhenti jadi slogan.

Mengingat Tradisi Kritis Lakpesdam

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dalam tradisi intelektual dan aktivisme Lakpesdam, saya melihat satu hal yang perlu diperkuat dalam buku ini: keberanian melakukan kritik internal.

NU besar bukan karena budaya pujian. NU menjadi besar karena tradisi musyawarah, bahtsul masail, dan perdebatan gagasan. Buku ini sangat kuat dalam membangun optimisme.

Tetapi belum cukup kuat dalam mengidentifikasi problem internal NU. Misalnya: oligarki organisasi, lemahnya kaderisasi substantif, ketimpangan akses sumber daya, profesionalisme kelembagaan, hubungan antara struktur dan kultural, dan tantangan politik praktis.

Padahal transformasi organisasi hanya mungkin terjadi jika jujur mendiagnosis masalah. Samsul Muarif patut diapresiasi karena berhasil menyusun narasi yang mudah dibaca dan komunikatif. Ia tidak terjebak bahasa akademik yang kaku. Kekuatan jurnalistiknya terlihat dalam cara menghubungkan berbagai pemikiran sarjana dunia dengan dinamika NU kontemporer.

Gagasan bahwa “NU tidak boleh menjadi penonton zaman” menjadi salah satu pesan paling kuat buku ini. Pesan tersebut penting karena mengingatkan bahwa organisasi sebesar NU tidak boleh memuja masa lalu, tetapi juga harus merancang masa depan.

Catatan bagi Gus Hery

Apabila buku ini memang dimaksudkan sebagai pengantar bagi munculnya kepemimpinan Gus Hery dalam percakapan publik NU, maka ada tantangan yang harus dijawab.

Bagi warga NU selain visi besar juga kemampuan menerjemahkan visi menjadi agenda perubahan yang penting. Warga NU ingin mengetahui: bagaimana membangun ekonomi Nahdliyin, memperkuat pesantren, mengelola organisasi secara profesional, memperluas peran perempuan dan anak muda, bagaimana menjadikan NU relevan di era AI.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemungkinan besar menjadi ukuran penting menjelang Muktamar Tambakberas.

Buku ini patut dibaca berbagai kalangan Nahdliyin. Dari kalangan pesantren, buku ini berhasil mengingatkan bahwa pesantren tetap menjadi fondasi utama peradaban NU. Bagi kalangan akademisi, penjelasan buku ini mampu menghubungkan pemikiran sarjana internasional dengan tantangan organisasi Islam Indonesia. Dan aktivis muda NU, buku ini bisa membuka ruang diskusi mengenai regenerasi dan kepemimpinan abad kedua.

Dari kalangan penggerak masyarakat sipil gambaran buku ini mempertegas pentingnya NU tetap menjadi kekuatan demokrasi, moderasi, dan kebangsaan. Namun apresiasi tersebut akan semakin kuat apabila mengikuti argumentasi yang lebih kritis dan bukti yang lebih empiris.

Kesimpulan

Nakhoda Abad Kedua NU adalah buku yang penting dibaca menjelang Muktamar Tambakberas karena mengangkat isu yang sangat mendasar: regenerasi kepemimpinan dan transformasi organisasi. Tesis utamanya bahwa NU harus melampaui kebesaran jumlah dan menjadi kekuatan peradaban global merupakan gagasan yang relevan dan mendesak.

Kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya mengajukan visi besar tentang NU abad kedua. Kelemahannya terletak pada kecenderungan melihat perubahan dari perspektif elite serta belum cukup tajam membedah problem internal organisasi.

Bagi warga NU, khususnya menjelang Muktamar Tambakberas, buku ini sebaiknya dibaca bukan sebagai ajakan memilih figur tertentu, melainkan sebagai undangan untuk memperdebatkan masa depan NU secara lebih serius.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah siapa yang menjadi nakhoda, melainkan ke mana kapal besar bernama Nahdlatul Ulama akan diarahkan abad-abad mendatang?

=======

Judul Buku: Nakhoda Abad Kedua NU: Menavigasi Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama 2026–2126

Penulis: Samsul Muarif

Pengantar: Prof. Dr. H. M. Baharun


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Abi S Nugroho
Pengurus Lakpesdam PBNU

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.