Arina.id – Dukungan rakyat Amerika Serikat (AS) semakin menurun pada perang sepihak yang dimulai presidennya, Donald Trump, terhadap Iran. Penurunan ini bahkan disebut jatuh ke level terendah sejak tahap awal perang dimulai pada akhir Februari 2026.
Apalagi, seperti dikutip dari Aljazeera, belakangan dukungan dari basis massa Partai Republik, partai yang mengusung Trump menjadi presiden, juga turut menukik. Hal ini dibuktikan dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos dan dipublikasikan pada Senin kemarin, 24 Agustus 2026.
Hasilnya, hanya 31 persen warga Amerika yang disurvei mengatakan mendukung aksi militer AS terhadap Iran, turun dari 37 persen pada bulan Maret dan 34 persen pada awal bulan ini. Dukungan di antara responden Partai Republik turun menjadi 69 persen, dibandingkan dengan 77 persen pada bulan Maret.
Trump sebelumnya selalu membela kampanye militer tersebut sebagai tindakan yang diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Konflik dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Namun, dampak ekonomi perang menjadi kekhawatiran bagi warga Amerika. Iran telah mempertahankan blokade de facto terhadap ekspor minyak dari kawasan tersebut, yang berkontribusi pada kenaikan harga bensin AS hingga mendekati rekor tertinggi.
Pemerintahan Trump juga telah mengumumkan janji baru-baru ini untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan pada hari Senin bahwa AS akan menargetkan semua sumber pendapatan Iran, termasuk minyak, dengan tujuan mencegah negara dan perusahaan lain melakukan bisnis dengan Teheran. Kampanye ini dijuluki “Operasi Pengasingan Ekonomi”.
Sebagian besar warga Amerika memperkirakan perang akan berlanjut untuk beberapa waktu, menurut jajak pendapat tersebut. Delapan puluh tiga persen responden mengatakan mereka percaya konflik akan berlangsung dalam jangka waktu lama, naik dari 80 persen pada awal bulan ini.
Prospek perang yang berkepanjangan menghadirkan tantangan bagi Trump, yang berkampanye untuk kursi kepresidenan pada 2024 dengan janji menurunkan inflasi dan mengadopsi strategi “America First” dengan menghindari keterlibatan militer asing.
Enam bulan setelah konflik dengan Iran dimulai, harga bensin justru lebih dari USD1 per galon (3,8 liter) lebih tinggi daripada sebelum perang, menambah tekanan ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu bulan November. Kenaikan biaya bahan bakar juga dapat menciptakan kesulitan bagi Partai Republik dalam mempertahankan kursi mayoritas tipisnya di Kongres.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa pemilih independen lebih menyukai Demokrat daripada Republikan ketika ditanya partai mana yang akan mereka dukung dalam pemilihan kongres jika diadakan hari ini. Di antara pemilih independen, sebesar 33 persen mengatakan mereka akan memilih Demokrat, dibandingkan dengan 19 persen yang mengatakan akan memilih Republikan.
Survei Reuters/Ipsos bertanya kepada 1.215 responden orang dewasa di seluruh Amerika Serikat selama empat hari dan memiliki margin kesalahan (margin of error) 3 persen ke arah mana pun.




Comments are closed.