Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. ”Janganlah Kalian Berpecah-Belah”: Pesan Surat Ali Imran yang Dibaca Qari di Muktamar NU

”Janganlah Kalian Berpecah-Belah”: Pesan Surat Ali Imran yang Dibaca Qari di Muktamar NU

”janganlah-kalian-berpecah-belah”:-pesan-surat-ali-imran-yang-dibaca-qari-di-muktamar-nu
”Janganlah Kalian Berpecah-Belah”: Pesan Surat Ali Imran yang Dibaca Qari di Muktamar NU
service

Ada sesuatu yang terasa seperti teguran ketika sebuah ayat tentang persatuan dilantunkan di tengah sebuah forum yang sedang mempertemukan banyak kepentingan.

Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Dzaniyal Muhammad Chubaibillah ditunjuk sebagai qari untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Salah satu ayat yang dibacakan adalah Surat Ali ‘Imran ayat 103. Ayat yang sejak awal mengingatkan manusia agar berpegang teguh pada tali Allah dan tidak terpecah-belah.

Ayat itu seolah tidak hanya berhenti sebagai bacaan pembuka sebuah forum. Ia seperti pesan yang sengaja diletakkan di tengah kerumunan manusia yang membawa pandangan, kepentingan, dan pilihan masing-masing.

Sebab, semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula tantangan untuk tetap menjadi satu. Perbedaan pendapat hampir tidak mungkin dihindari. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, melainkan ketika perbedaan itu berubah menjadi pertentangan, lalu pertentangan menjelma menjadi permusuhan.

Di titik inilah Surat Ali ‘Imran ayat 103 layak dibaca kembali, bukan hanya sebagai ayat yang indah dilantunkan, tetapi sebagai cermin untuk melihat diri sendiri.

Simak firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 103;

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ 

Artinya, “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili menjelaskan bahwa perintah berpegang teguh pada agama Allah tidak dapat dipisahkan dari larangan untuk bercerai-berai (pecah-belah). 

Lebih jauh, perintah untuk berpedoman pada Al-Qur’an dan berpegang teguh pada ajaran agama ini tidak hanya tentang ajaran yang berkaitan dengan ibadah-ibadah saja, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan umat Islam yang kokoh. 

Simak penjelasannya berikut ini:

أمرنا تعالى بالاعتصام بالقرآن والتّمسك بالدّين، ونهانا عن التّفرّق والاختلاف

Artinya, “Allah swt memerintahkan kita semua untuk berpedoman pada Al-Qur’an dan berpegang teguh pada ajaran agama, serta melarang kita dari perpecahan dan perselisihan.” (Tafsir al-Munir fil Aqidah was Syari’ah wal Manhaj, [Damaskus: Darul Fikr, t.t.], jilid IV, halaman 35).

Dalam penjelasan lanjutannya, Syekh Wahbah menjelaskan cara-cara mewujudkan persatuan, yaitu dengan senantiasa saling mengajak pada kebaikan, memerintah perbuatan yang baik (amar makruf), dan mencegah terjadinya kemungkaran (nahi mungkar). Hal ini penting karena dengannya, setiap orang akan senantiasa ingat terhadap ajaran Islam, sehingga persatuan akan terus terjaga.

Selain ayat dan penafsiran di atas, pentingnya menjaga persatuan seyogianya juga telah digambarkan oleh Rasulullah, bahwa setiap orang sudah seharusnya saling mencintai, menyayangi, dan peduli antar satu dengan lainnya layaknya seperti satu tubuh, di mana ketika salah satu anggota merasa sakit, maka yang lain akan merasakan dampaknya.

Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling peduli, adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh (karena sakit), maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara itu, Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, menjelaskan ayat tersebut dengan mengutip penjelasan Ibnu Mas’ud, bahwa larangan berpecah-belah dapat dipahami sebagai larangan mengikuti hawa nafsu dan berbagai kepentingan yang berbeda-beda sehingga dapat menyebabkan perpecahan.

Karena itu, ayat 103 di atas memerintahkan umat Islam untuk menjadi saudara dengan menjaga hubungan dan kebersamaan di antara mereka. Simak penjelasannya berikut ini:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ: وَلَا تَفَرَّقُوا مُتَابِعِينَ لِلْهَوَى وَالْأَغْرَاضِ الْمُخْتَلِفَةِ، وَكُونُوا فِي دِينِ اللَّهِ إِخْوَانًا؛ فَيَكُونُ ذَلِكَ مَنْعًا لَهُمْ عَنِ التَّقَاطُعِ وَالتَّدَابُرِ

Artinya, “Dari Ibnu Mas’ud dan ulama lainnya. Bisa saja makna ayat tersebut adalah: ‘Janganlah kalian berpecah belah dengan mengikuti hawa nafsu dan berbagai kepentingan yang berbeda-beda, dan jadilah kalian bersaudara dalam agama Allah.’ Dengan demikian, ayat tersebut merupakan larangan bagi mereka untuk saling memutus hubungan dan saling membelakangi.” (Tafsir al-Qurthubi, [Riyadh: Dar Alamil Kutub, t.t.], jilid IV, halaman 159).

Untuk itu, Surat Ali ‘Imran ayat 103 berbicara tentang bagaimana umat Islam seharusnya hidup bersama. Ayat ini juga mengajak kita bercermin: apa yang sesungguhnya membuat kita bersatu, dan apa yang perlahan-lahan membuat kita saling menjauh?

Persatuan dalam Islam bukan sekadar berkumpul dalam satu forum, berada dalam satu organisasi, atau berdiri di bawah satu nama. Persatuan jauh lebih dalam daripada itu. Ia menyangkut hati tentang kesediaan untuk tetap melihat orang lain sebagai saudara, bahkan ketika pendapat tidak lagi sama.

Sebab, perpecahan sering kali tidak datang dengan suara gaduh. Ia bisa bermula dari sesuatu yang sangat kecil: perasaan paling benar, kepentingan yang ingin dimenangkan, kekecewaan yang tidak diselesaikan, atau ego yang tidak bersedia mengalah. 

Dari sana, jarak perlahan tumbuh. Yang semula hanya berbeda pendapat berubah menjadi saling mencurigai. Yang semula hanya kritik berubah menjadi saling menyerang. Dan tanpa terasa, persaudaraan yang dahulu dibangun dengan susah payah mulai retak.

Karena itu, ayat tentang persatuan yang dilantunkan dalam forum Muktamar terasa seperti sebuah pesan yang semestinya tidak berhenti setelah suara qari menghilang dari ruang sidang.

Ia justru harus dibawa pulang. Terlebih ketika kita melihat dinamika yang sempat terjadi di internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir. Perbedaan pandangan dan ketegangan antarpengurus tentu merupakan bagian dari dinamika sebuah organisasi.

Tidak ada organisasi besar yang steril dari perbedaan. Tetapi yang perlu dijaga adalah agar perbedaan itu tidak kehilangan batas, sehingga berubah menjadi permusuhan dan pada akhirnya mengancam persaudaraan.

Di sinilah ayat tersebut menjadi relevan. Al-Qur’an tidak meminta manusia untuk selalu sepakat dalam segala hal. Yang diperintahkan adalah berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Artinya, perbedaan boleh ada, tetapi harus ada sesuatu yang lebih besar yang menyatukan.

Pertanyaannya kemudian: ketika kepentingan mulai berbenturan, kepada apa kita berpegang?Apakah kepada kebenaran yang kita yakini dengan rendah hati, atau kepada ego yang ingin selalu dimenangkan? Apakah kepada kemaslahatan umat, atau kepada kepentingan kelompok sendiri? Apakah kepada persaudaraan, atau kepada kemenangan atas saudara sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting diajukan karena tidak jarang seseorang merasa sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang sedang dipertahankan adalah kepentingannya sendiri. Tidak jarang pula seseorang merasa sedang membela organisasi, padahal yang sebenarnya sedang dibela adalah posisi dan pengaruhnya.

Persatuan, pada akhirnya, bukan semata-mata hasil kepiawaian manusia mengatur organisasi. Ia juga merupakan anugerah yang harus dijaga. Maka, jika ayat itu kembali terdengar di tengah dinamika organisasi, barangkali kita perlu mendengarkannya bukan dengan telinga saja, melainkan dengan hati.

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”

Ayat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia mudah kita ucapkan dan sulit kita amalkan. Sebab ujian persatuan bukan ketika semuanya sepakat. Ujian persatuan justru datang ketika kita berbeda, ketika kepentingan berhadapan, ketika ego terluka, dan ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Pada saat itulah sebuah persaudaraan benar-benar diuji. Maka, barangkali pertanyaan terpenting bukan siapa yang menang dalam sebuah perbedaan, melainkan apa yang tersisa setelah perbedaan itu selesai.

Jika yang tersisa masih ada persaudaraan, masih ada saling menghormati, dan masih ada kesediaan untuk duduk bersama, maka perbedaan belum menjadi petaka. Tetapi jika yang tersisa hanyalah luka, kecurigaan, dan keinginan untuk saling menyingkirkan, mungkin kita perlu kembali membaca ayat itu, secara pelan-pelan, dengan hati yang lebih jernih.

Sebab bisa jadi, ayat tersebut bukan sedang berbicara tentang orang lain. Ia sedang berbicara tentang kita. Wallahu a’lam bisshawab.

———
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.