Jombang, Arina.id — Pesantren pada hakikatnya merupakan lembaga pendidikan, bukan sekadar tempat pengajaran.
Hal itu disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) saat mengisi Halaqah Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Se-Indonesia di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026) sebagai side event Muktamar Ke-35 NU.
Menurut Gus Mus, pengajaran lebih berfokus pada proses penyampaian atau pemindahan informasi dari guru kepada murid. Seseorang yang memperoleh pengajaran Al-Qur’an, fikih, atau hadis akan memiliki pengetahuan mengenai materi tersebut, tetapi pengetahuan itu belum tentu tercermin dalam perilakunya.
“Pengajaran jangan sekadar memindahkan informasi, tapi perilaku juga harus mencerminkan Al-Qur’an,” ujarnya.
Gus Mus kemudian menjelaskan, pendidikan di pesantren memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membentuk karakter santri sekaligus memastikan ilmu yang dipelajari diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan yang sejati itu ada pada keselarasan antara ucapan dan perbuatan, antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan,” tegasnya.
Gus Mus berharap RMI PBNU sebagai wadah pesantren nahdliyin terus menjaga esensi pesantren sebagai lembaga tarbiyah. Menurutnya, kiai dan nyai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter santri.
Oleh karena itu, ia mendorong RMI memperbanyak ruang pertemuan antarpengasuh pesantren untuk memperkuat hubungan dan ikatan antarpondok pesantren.
“RMI harus sering mempertemukan para pengasuh pesantren agar terjalin tabithah ma’ahid yang sebenarnya,” tuturnya.
Gus Mus menegaskan, pertemuan antarpengasuh tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan metode pendidikan di setiap pesantren. Setiap pesantren, menurutnya, tetap memiliki kekhasan dan metode masing-masing dalam mendidik santri.
Namun, perbedaan metode tersebut perlu tetap berada dalam kesatuan nilai, ideologi, tujuan, dan keyakinan. “Dengan itu ada kesatuan ideologi, tujuan, dan keyakinan di antara santri-santrinya, meskipun metode dan cara pengajarannya bisa berbeda-beda,” jelasnya.
Gus Mus juga mengingatkan luasnya peran kiai di tengah masyarakat pada masa lalu. Kiai tidak hanya berfungsi sebagai pengajar agama, tetapi juga menjadi tempat masyarakat berkonsultasi mengenai berbagai persoalan kehidupan.
“Dulu kiai merangkul seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kiai menjadi pengajar, pembimbing sampai tempat berkonsultasi mengenai masalah pertanian,” kata Gus Mus.





Comments are closed.