Mon,31 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Benarkah Uban Tanda Tubuh Melawan Kanker?

Benarkah Uban Tanda Tubuh Melawan Kanker?

benarkah-uban-tanda-tubuh-melawan-kanker?
Benarkah Uban Tanda Tubuh Melawan Kanker?
service

Uban atau rambut memutih mungkin tidak asing bagi siapa pun yang mulai memasuki usia dewasa. Belakangan ini, ada anggapan yang menyebut uban justru berkaitan dengan mekanisme tubuh dalam melawan kanker. Benarkah demikian?

Menurut Yenny Rachmawati, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, anggapan ini tidak tepat. Munculnya uban tidak berarti sistem imun sedang bekerja melindungi tubuh dari kanker.

“Uban bukan berarti tubuh secara aktif melawan kanker. Warna rambut tidak dapat digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan risiko kanker seseorang,” ujar Yenny.

Kesimpulan ini muncul setelah sebuah penelitian pada 2025 menemukan adanya hubungan kerusakan DNA dengan dua kemungkinan, yakni rambut memutih atau terbentuknya lesi yang dapat mengarah pada kanker kulit melanoma.

“Warna rambut dihasilkan oleh melanosit yang memproduksi pigmen melanin. Sel ini berasal dari sel punca melanosit yang tersimpan di folikel rambut.

Seiring bertambahnya usia, sebagian sel punca dapat berkurang, kehilangan fungsi, atau tidak lagi berada pada lokasi yang tepat. “Akibatnya, rambut yang tumbuh kekurangan pigmen sehingga tampak putih atau abu-abu,” urai Yenny.

Penelitian eksperimental pada tikus menunjukkan ketika sel punca melanosit mengalami kerusakan DNA, sel dapat mengambil jalur berbeda. Sebagian mengalami penuaan sel yang berujung pada pemutihan rambut.

Namun, dalam kondisi tertentu, terutama ketika dipengaruhi zat karsinogenik, sel dapat mempertahankan diri dan berpotensi berkembang menjadi lesi melanositik yang mengarah pada melanoma.

Meski demikian, Yenny menegaskan belum terdapat bukti epidemiologis yang memadai bahwa orang yang cepat beruban memiliki risiko melanoma atau kanker lain yang lebih rendah. Karena itu, cepat beruban tidak berarti seseorang lebih terlindungi, begitu pula belum beruban tidak otomatis menunjukkan risiko kanker lebih tinggi.

Menurut Yenny, kecepatan munculnya uban dipengaruhi berbagai faktor. Usia dan genetik menjadi faktor utama, sementara stres oksidatif, merokok, polusi, serta paparan lingkungan tertentu juga dapat berperan. Stres psikologis berat diduga mempercepat berkurangnya sel punca melanosit melalui aktivasi sistem saraf simpatis.

Selain itu, uban yang muncul dini dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin B12 atau zat besi, gangguan tiroid, maupun beberapa penyakit autoimun. Namun, uban tidak selalu menunjukkan kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu.

“Oleh karena itu, kita tidak perlu mengaitkan kemunculan uban dengan kemampuan tubuh menghentikan kanker. Pemahaman yang tepat ini penting agar kita tidak mengabaikan faktor risiko kanker hanya karena rambut mulai memutih,” tutur Yenny.

Sebaliknya, lanjut dia, perubahan pada kulit, terutama tahi lalat yang berubah bentuk, warna, ukuran, atau menimbulkan keluhan, perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Pemeriksaan juga dapat dipertimbangkan bila uban muncul sangat dini dan disertai keluhan lain, sehingga kemungkinan faktor nutrisi atau gangguan kesehatan dapat dinilai sesuai kondisi individu.

“Pencegahan kanker tetap perlu dilakukan tanpa melihat warna rambut, antara lain dengan pola hidup sehat, menghindari rokok, melindungi kulit dari paparan ultraviolet berlebihan, serta memperhatikan perubahan tahi lalat atau lesi kulit yang mencurigakan,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.