Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Kasidah Al-Hamziyah, Tradisi Maulid yang Hidup di Tunisia

Kasidah Al-Hamziyah, Tradisi Maulid yang Hidup di Tunisia

kasidah-al-hamziyah,-tradisi-maulid-yang-hidup-di-tunisia
Kasidah Al-Hamziyah, Tradisi Maulid yang Hidup di Tunisia
service

Jakarta, NU Online 

Kasidah Al-Hamziyah merupakan salah satu tradisi menarik dan unik di Tunisia, negara dengan mayoritas Muslim di benua Afrika yang diwarnai keberagaman budaya dan tradisi spiritualitas, khususnya ketika memasuki bulan suci Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Hal tersebut diterangkan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia Hilman Zidny kepada NU Online, Sabtu (29/8/2026) malam.

“Salah satu tradisi yang biasa ditemui yaitu pembacaan Kasidah Al-Hamziyah dihampir setiap majlis maulid dan Zawiyah Tarekat yang berada di penjuru negeri,” terangnya.

Lantas, apa sebenarnya Kasidah Al-Hamziyah? Mengapa kasidah ini begitu melekat pada tradisi maulid Nabi Muhammad saw di Tunisia?

Zidny, sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa pengarang Kasidah Al-Hamziyah adalah Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia dikenal sebagai Imam Al-Bushiri. Ia lahir di Bushir pada 609 H dan wafat pada 696 H dalam usia 87 tahun. Imam Al-Bushiri dimakamkan di Kota Iskandaria, Mesir.

Menurutnya, sejak kecil Imam Al-Bushiri tumbuh di lingkungan yang mencintai ilmu agama. Bahkan, pondasi keilmuan yang dimilikinya diperoleh langsung dari sang ayah.

“Besar dan tumbuh di lingkungan keluarga yang cinta akan ilmu. Sejak kecil, Imam Al-Bushiri di didik langsung oleh ayahnya dengan ilmu Al-qur’an dan Ilmu agama,” tuturnya.

Tidak berhenti di situ, selain mendapatkan pendidikan dari ayahnya, Imam Al-Bushiri juga menimba ilmu kepada Syaikh Abul Abbas Al-Mursi.

“Beliau juga berguru kepada Syaikh Abul Abbas Al-mursi murid kesayangan Imam Abu Hasan Syadzily pendiri tarekat Syadziliyah,” imbuh Zidny.

Semangat mencari ilmu menjadikan Imam Al-Bushiri sebagai sosok alim, sufi, sekaligus sastrawan. Hal tersebut terlihat dari sejumlah karyanya, di antaranya Al-Hamziyyah, Al-Haiyyah, Al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah, dan yang paling populer adalah Kasidah Burdah. Di antara karya-karya tersebut, Al-Hamziyyah menjadi salah satu karya yang menarik untuk dibahas.

Kasidah Al-Hamziyah dinamakan demikian karena huruf hamzah terletak di akhir bait-bait kasidah. Karya tersebut tidak hanya memiliki keindahan syair, tetapi juga kaya akan makna yang mendalam.

Di Tunisia, kasidah ini tidak hanya dibaca dan dipelajari, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang kerap hadir dalam majelis-majelis maulid dan Zawiyah Tarekat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan bulan maulid dengan mengenang kelahiran, perjalanan hidup, dan kemuliaan kekasih Allah. Tradisi ini hidup di kalangan masyarakat Tunisia secara turun-temurun hingga saat ini.

“Berkesempatan mengikuti langsung pembacaan Kasidah Al-Hamziyah di Zawiyah Sidi Bou Yahya, Rades, dan merasakan langsung bagaimana karya klasik ini hidup di tengah perkembangan zaman juga dibacakan bersama jama’ah lainya adalah pengalaman berharga,” ungkap Zidny.

Kasidah Al-Hamziyah bukan hanya sekadar tradisi yang dilantunkan setiap maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi memiliki makna yang lebih luas.

“Dengan Kasidah masyarakat Tunisia kembali menghidupkan tradisi turun temurun dengan mengajarkan kita bagaimana keteladanan nabi Muhammad saw dan juga bentuk cinta seorang hamba kepada sebaik-baik ciptaan-nya Nabi Muhammad SAW dan juga sang khalik Allah swt,” tutupnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.