• Karhutla mengancam kelestarian arsip informasi genetika keanekaragaman hayati.
• Kepunahan populasi lokal menghilangkan variasi genetik yang tak tergantikan.
• Pendokumentasian sampel genetik perlu dipercepat sebelum habitat terbakar habis.
Seiring ramainya perbincangan publik seputar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan, Sumatra, hingga Papua tahun ini, perhatian kita biasanya tertuju pada hal-hal yang mudah dilihat: luas hutan yang terbakar, satwa yang kehilangan habitat, asap yang mengganggu, atau karbon yang dilepaskan ke atmosfer.
Namun, sebenarnya karhutla juga memicu kehilangan lain yang jauh lebih sunyi: informasi genetika dari DNA hewan maupun tumbuhan di area terbakar.
Mengapa informasi genetika penting?
Ketika kebakaran memusnahkan individu atau suatu populasi, kita dapat kehilangan variasi genetik yang mereka bawa; variasi yang selama berjuta-juta tahun membantu mereka bertahan hingga saat ini.
Read more: Teknologi eDNA: Terobosan baru menyingkap kehidupan laut dalam dengan mudah dan murah
Variasi ini, misalnya, dapat menentukan mengapa orangutan begitu pandai melompat di pohon-pohon, atau mengapa tubuh harimau sumatra lebih kecil daripada harimau benggala.
DNA sebagai komponen penting genetika memang tidak terlihat. Namun, di dalamnya tersimpan sebagian dari sejarah kehidupan. DNA memungkinkan kita mempelajari hubungan kekerabatan, perbedaan antarpopulasi, perjalanan evolusi, serta bagaimana suatu populasi menghadapi perubahan lingkungan.
Bagi seorang pegiat biologi, satu sampel jaringan dari satwa atau tumbuhan bukan sekadar potongan kecil dari tubuh organisme. Ia adalah arsip biologis, yaitu catatan tentang kehidupan yang pernah ada di suatu tempat pada suatu waktu. Masalahnya, tidak semua arsip tersebut sudah kita simpan.
Kita memang belum bisa menghitung berapa banyak informasi genetik yang telah hilang akibat kebakaran tahun ini. Namun, penelitian terhadap kupu-kupu Drupadia theda di Kalimantan Timur pasca-kebakaran besar 1997–1998 menunjukkan bahwa kebakaran dapat diikuti oleh penurunan keberagaman genetik pada populasi yang terdampak.
Kekayaan yang belum selesai kita kenali
Risiko kehilangan informasi genetik menjadi semakin besar karena banyak kekayaan hayati Kalimantan belum sepenuhnya terdokumentasikan.
Di sejumlah wilayah yang saat ini terdampak kebakaran, seperti bentang hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sebagian Kalimantan Timur, kehidupan berbagai spesies menyimpan keberagaman genetika yang penting.
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), misalnya, memiliki populasi yang tersebar dan terpisah oleh bentang alam. Setiap populasi dapat menyimpan variasi genetik berbeda sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungannya.

Begitu pula bekantan (Nasalis larvatus) yang bergantung pada hutan rawa dan daerah riparian, serta trenggiling Sunda (Manis javanica) yang populasinya telah tertekan oleh perburuan dan perdagangan ilegal. Ketika kebakaran mempercepat hilangnya populasi-populasi lokal tersebut sebelum sempat dipelajari, informasi genetik yang ikut hilang mungkin tidak akan pernah dapat dipulihkan.
Burung rangkong, termasuk enggang gading (Rhinoplax vigil), juga menjadi contoh penting. Satwa ini memerlukan hutan primer yang masih utuh untuk mencari makan dan berkembang biak. Habitat yang terpencar akibat kebakaran dapat memutus hubungan antarpopulasi sehingga mengurangi peluang pertukaran genetik di alam.
Risiko serupa juga berlaku pada tumbuhan. Ulin (Eusideroxylon zwageri), pohon endemik yang menjadi salah satu ikon hutan Kalimantan, dikenal memiliki pertumbuhan yang sangat lambat dan populasinya terus menurun akibat eksploitasi serta degradasi habitat.
Kehilangan populasi ulin bukan hanya berarti berkurangnya pohon-pohon tua di hutan, tetapi juga berpotensi menghilangkan variasi genetik yang terbentuk melalui proses evolusi selama waktu yang sangat panjang.
Kalimantan memberi banyak contoh mengapa kita tak bisa menunda dokumentasi kekayaan Indonesia.
Taman Nasional Betung Kerihun, misalnya, telah mencatat 1.216 jenis flora dan 652 jenis fauna. Di antaranya terdapat orangutan Kalimantan, kelampiau, serta enggang gading. Pengelola kawasan bahkan menyebut bahwa penelitian genetik masih dapat menambah pengetahuan mengenai kekayaan hayati kawasan tersebut.
Di Taman Nasional Danau Sentarum, tercatat pula 147 jenis mamalia dan 311 jenis burung, termasuk orangutan, bekantan, trenggiling, serta berbagai jenis rangkong. Kawasan ini juga memiliki keragaman ikan dan flora yang tinggi.
Sebagian kawasan tersebut kini telah terbakar. Di kawasan masih terjaga, kita seharusnya masih punya kesempatan untuk mengenali dan menyimpan informasinya.
Read more: Apa itu ‘biobanking’ dan bagaimana perannya mencegah kepunahan satwa langka?
Indonesia sudah punya fondasi
Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. Kita sudah memiliki museum, koleksi spesimen, laboratorium, peneliti, proyek DNA barcoding, dan sistem pengelolaan data.
BRIN bahkan telah memiliki Peraturan Nomor 8 Tahun 2024 tentang Tata Kelola Koleksi Ilmiah, yang mengatur koleksi hayati dan nonhayati, baik dalam bentuk fisik maupun digital, serta pengelolaannya.
Pada 2025, BRIN juga menerbitkan Peraturan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Data Riset dan Inovasi, termasuk pengaturan mengenai penyelenggaraan data dan Portal Satu Data BRIN.
IndoBioSys, misalnya, telah menghasilkan 3.580 kelompok DNA barcode dari fauna (Insecta) Indonesia, dengan 3.366 di antaranya merupakan kelompok yang baru. Proyek tersebut juga menghasilkan lebih dari 23 spesimen voucher baru (sampel organisme yang diawetkan) yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense.
Oleh karena itu, pengambilan sampel perlu kita perluas dan penemuan spesies yang belum terdeteksi perlu kita percepat, terutama pada kawasan dan populasi yang belum terdokumentasikan dengan baik.
Sampel biologis perlu disimpan secara aman dan berkelanjutan. Data spesimen dan data genetik juga perlu semakin terhubung agar informasi yang dikumpulkan hari ini tetap dapat digunakan pada masa depan.
Read more: Berburu kekayaan alam Indonesia dari udara dengan ‘airborne DNA’
Kendati demikian, penyimpanan sampel bukan menandai kita harus berhenti melindungi habitat. Kita tetap membutuhkan hutan yang hidup agar populasi dapat bertahan dan berkembang. Karena itu, mencegah kebakaran harus tetap menjadi prioritas.
Sebelum terlambat
Selama ini, kita terbiasa menghitung luas hutan yang terbakar dan jumlah satwa yang kehilangan habitat. Padahal ada yang lebih sulit dihitung: informasi tentang kehidupan yang belum sempat kita kenali.
Minimnya data membuat kita sulit mengetahui berapa banyak informasi genetika yang hilang dalam kebakaran. Akibatnya, sulit pula menyadari kehilangan itu.
Api akan padam. Hutan mungkin kembali hijau. Tetapi jika sebuah populasi hilang sebelum DNA-nya sempat didokumentasikan, sebagian cerita evolusi Indonesia mungkin ikut hilang bersamanya, sebelum kita sempat memahaminya.
Read more: Indonesia titik panas ancaman populasi satwa, tapi kekurangan data untuk mengukurnya





Comments are closed.