Dengarkan artikel ini:
Gerakan politik Anies Baswedan tumbuh seperti rimpang: menyebar ke banyak arah, tanpa satu pusat komando, tetapi terhubung oleh nama yang sama. Kini, ketika jaringan itu berubah menjadi Partai Gerakan Rakyat, rimpang tersebut dipaksa tumbuh menjadi “pohon” politik dengan struktur, hierarki, dan aturan yang justru selama ini tidak dimilikinya. Mampukah akar rumput tetap menjadi sumber kekuatan Anies, atau justru mati ketika rimpang itu harus berdiri sebagai partai?
Paris, 1980. Dua filsuf duduk menulis buku yang akan mengacaukan cara Barat memandang kekuasaan. Gilles Deleuze dan Félix Guattari tidak memulai dari istana atau parlemen. Mereka memulai dari kebun belakang rumah.
Ada tumbuhan bernama rimpang — rhizome — yang hidup di bawah tanah tanpa akar tunggal dan tanpa batang utama. Potong satu ujungnya, tunas baru muncul dari ujung yang lain. Cabut satu titik, jaringan di bawah tanah tetap utuh, siap menyembul di tempat yang sama sekali tak terduga. Begitu cara jahe bertahan hidup. Begitu pula rumput teki yang bikin petani menyerah mencabutinya sampai ke akar.
Bagi Deleuze dan Guattari, rimpang adalah lawan dari pohon — struktur berjenjang dengan satu akar, satu batang, cabang-cabang yang tunduk pada hierarki, yang selama berabad-abad jadi metafora favorit peradaban Barat untuk menjelaskan kekuasaan, silsilah, dan pengetahuan.
Empat puluh enam tahun kemudian, di sebuah hotel bilangan Jakarta Selatan, ratusan orang berkumpul mendeklarasikan sesuatu yang, tanpa mereka sadari, persis mengikuti pola itu. Bukan partai. Bukan ormas resmi dengan ketua yang mengangkat semua orang di bawahnya.
Sekadar simpul-simpul kecil, tersebar dari Bogor sampai Banjarmasin, yang tumbuh sendiri-sendiri sejak 2022, tanpa komando pusat, mengangkat satu nama yang sama: Anies Baswedan.
Simpul-Simpul yang Tumbuh Sendiri
Cerita bermula jauh sebelum kotak suara dibuka pada Februari 2024. Saat itu Anies masih Gubernur DKI Jakarta, belum diusung partai mana pun, dan sekelompok orang di Bogor menamai diri mereka Beraksi — Bersama Anies Kami Siap. Targetnya sederhana: dua ribu lima ratus relawan se-Jawa Barat.
Di Yogyakarta, komunitas serupa menyambangi kantor-kantor partai sendiri, menawarkan dukungan dari bawah sebelum ada satu pun keputusan koalisi resmi di Jakarta. Di berbagai kota, warga mencetak sendiri banner “Saya Adalah Anies” dan menempelkannya di rumah masing-masing, tanpa ada yang memerintah.
Pola ini berulang lewat Kornas Go Anies, lewat Relagama yang mewadahi alumni Universitas Gadjah Mada, lewat puluhan simpul lain yang lahir dan bergerak tanpa pernah bertemu satu meja rapat yang sama. Ketika kampanye resmi dimulai, format “Desak Anies” — sesi tanya jawab terbuka yang menyapa mahasiswa, buruh, petani, sampai orang yang datang khusus untuk melontarkan pertanyaan paling tajam — menjadi ruang tempat energi simpul-simpul ini berkumpul tanpa pernah benar-benar dijinakkan. Di Surabaya, lebih dari tiga belas ribu orang mendaftar untuk satu sesi saja.
Sepintas ini terlihat seperti romantisme politik akar rumput biasa. Tapi bukan. Kekuatan sesungguhnya ada pada strukturnya, atau lebih tepat, ketiadaan strukturnya. Tidak ada satu markas yang, kalau dibubarkan, membuat seluruh gerakan mati. Tidak ada satu tokoh selain Anies sendiri yang, kalau ditangkap atau dijegal, memutus jaringan. Setiap simpul punya logika sendiri, bahasa sendiri, cara merekrut sendiri — dan justru karena itu semua bertahan meski koalisi partai di Jakarta pecah, ditinggal Demokrat, diguncang manuver PKB menjelang pendaftaran capres.
Ujian di Depan Meja Kemenkum
Anies dan Muhaimin Iskandar kalah di Februari 2024. Yang menarik justru terjadi setelah itu. Simpul-simpul relawan tidak bubar begitu saja seperti lazimnya kubu yang kalah pemilu. Sebagian justru mengonsolidasikan diri menjadi ormas bernama Gerakan Rakyat, dideklarasikan awal 2025, dengan Anies didapuk sebagai tokoh inspirator tanpa jabatan struktural apa pun.
Setahun kemudian arah berubah. Pada 18 Januari 2026, dalam rapat kerja nasional pertamanya, Gerakan Rakyat memutuskan bertransformasi menjadi partai politik. Alasannya masuk akal secara konstitusional: di Indonesia, jalan menuju kursi presiden hanya bisa ditempuh lewat partai atau gabungan partai peserta pemilu. Rimpang yang selama ini tumbuh liar di bawah tanah harus, cepat atau lambat, menyembul sebagai sesuatu yang bisa didaftarkan, diverifikasi, dan diaudit negara.
Syaratnya berat. Kepengurusan harus ada di seratus persen provinsi — tiga puluh delapan provinsi tanpa kecuali. Tujuh puluh lima persen kabupaten dan kota, sekitar empat ratus dua wilayah, juga harus punya struktur resmi. Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, bahkan menyebut ambisi membangun kepengurusan sampai tingkat RT. Pada 23 Juli 2026, rombongan pengurus mendaftarkan Partai Gerakan Rakyat ke Kementerian Hukum, membawa berkas yang baru rampung seratus persen sehari sebelumnya.
Di sinilah ironi yang sesungguhnya muncul, dan ironi ini bukan soal menang atau kalah pemilu.
Sosiolog Jerman Max Weber, satu abad lebih dulu dari Deleuze dan Guattari, sudah menulis tentang nasib yang menimpa setiap gerakan yang dibangun di atas karisma satu orang. Weber menyebutnya Veralltäglichung des Charisma — rutinisasi karisma. Kekuasaan yang lahir dari daya tarik pribadi seorang tokoh, cepat atau lambat, harus diterjemahkan ke dalam aturan, jabatan, dan prosedur kalau ingin bertahan melampaui umur sang tokoh sendiri. Masalahnya, proses penerjemahan itu selalu memakan sebagian energi asli yang membuat gerakan itu hidup.
Itulah yang sedang terjadi pada rimpang bernama Gerakan Rakyat. Selama menjadi jaringan tanpa struktur, kekuatannya datang justru dari ketiadaan pusat yang bisa dipotong. Begitu berubah menjadi partai, semua yang membuatnya lentur harus dikorbankan demi memenuhi syarat negara: ketua umum, sekretaris jenderal, bendahara umum, kantor cabang berjenjang dari pusat sampai kecamatan — persis arsitektur pohon yang tadinya dilawan oleh gerakan semacam ini.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Verdy Firmantoro, mengingatkan tantangan sesungguhnya bukan pada seremoni deklarasi, melainkan pada apakah gerakan ini bisa terus menjangkau akar rumput dan tidak berhenti jadi simbol belaka. Pengamat lain bahkan menilai modal akar rumput saja tidak cukup untuk mengantar Anies ke kursi presiden.
Anies sendiri berada di posisi yang ganjil dalam cerita ini: inspirator tanpa struktur, ikon tanpa kartu anggota, nama yang dipakai untuk menyatukan simpul-simpul yang justru kuat karena tak pernah benar-benar dikendalikannya.
Ada kisah lama dari mitologi Yunani tentang raksasa bernama Antaeus. Kekuatannya bukan dari otot atau senjata, melainkan dari tanah — setiap kali tubuhnya menyentuh bumi, tenaganya pulih berlipat ganda. Herakles akhirnya mengalahkannya bukan dengan pukulan lebih keras, melainkan dengan mengangkat tubuh Antaeus tinggi-tinggi, memutus kontaknya dengan tanah, sampai raksasa itu kehabisan daya di udara.
Gerakan yang menjadikan nama Anies Baswedan sebagai payung besarnya kini berada di titik serupa. Kekuatannya lahir dari akar rumput yang tersebar, tak berpusat, tak bisa dipatahkan dengan satu pukulan. Untuk sampai ke Istana lewat jalur yang sah, rimpang itu harus berdiri, terdaftar, dan diverifikasi negara — persis proses yang mengangkatnya dari tanah tempat selama ini ia menyerap kekuatan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Partai Gerakan Rakyat bisa lolos verifikasi Kemenkum dan melaju ke Pemilu 2029. Pertanyaannya, begitu rimpang itu berubah jadi pohon dengan cabang dan akar tunggal, apakah masih ada rimpang tersisa di baliknya — atau yang tersisa hanya partai baru, seperti partai-partai lain yang sudah lebih dulu ada. (S13)





Comments are closed.