Mubadalah.id – Dulu, saya mungkin akan melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang besar. Sesuatu yang perlu penjelasan, pembicaraan, bahkan kadang terasa perlu wadah khusus. Perbedaan terasa seperti jarak dan kubu yang membatasi kita untuk saling bertemu. Namun hari ini, saya sudah tidak lagi melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang luar biasa.
Bukan karena perbedaan itu hilang. Kami tetap berbeda dalam cara berdoa, tradisi, dan keyakinan. Tetapi semakin sering bertemu, belajar, dan bekerja bersama teman-teman dari beragam agama, saya semakin merasa bahwa perbedaan adalah bagian biasa dari kehidupan.
Sebab hari ini saya tidak hanya bertemu mereka dalam forum yang membicarakan toleransi, tetapi berkolaborasi dalam kerja-kerja kemanusiaan sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Seperti saat bersama teman-teman Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu dan Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Indramayu.
Di Ramadan lalu, kami berkolaborasi bersama teman-teman Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Indramayu untuk berbuka bersama dan membagikan takjil di depan Gereja Paroki Santo Mikail Indramayu.
Sederhana, tetapi bagi saya ini adalah hakikat kehidupan. Tidak ada yang sedang berusaha mengubah keyakinan satu sama lain. Tidak ada pula yang mencampuradukkan ibadah. Kami hanya berbagi makanan, waktu, dan kebaikan.
Dari sana saya belajar, keberagaman tidak selalu membutuhkan kata-kata besar. Kadang ia hadir ketika orang-orang yang berbeda keyakinan berdiri bersama, membagikan takjil kepada orang yang lewat, lalu pulang dengan perasaan bahwa hari itu kami telah melakukan sesuatu kebaikan bersama.
Ketika Agama Menjadi Jalan Merawat Bumi
Kebahagiaan spiritual lintas iman selalu membawa saya pada berbagai kerja lainnya baik bersama mubadalah.id maupun komunitas lainnya. Salah satunya melalui Eco Peace: Interreligious Learning on Environment, ruang belajar bagi orang muda untuk memahami, belajar, dan melakukan aksi lingkungan dengan basis pengetahuan agama-agama.
Program ini menghadirkan tokoh-tokoh agama untuk berbicara tentang lingkungan melalui Eco-Peace Workshop. Setelah itu, para peserta mengikuti Eco-Peace Writing and Content Creative, membuat tulisan dan konten kampanye tentang lingkungan berbasis pengetahuan agama-agama.
Pembelajaran kemudian dibawa keluar ruang kelas melalui Eco-Peace Field Trip. Peserta mengunjungi rumah ibadah maupun lembaga yang memiliki praktik pelestarian alam berbasis agama.
Kami mengajak para peserta Eco-Peace Workshop Yogyakarta untuk mengunjungi GKJ Baturetno Wonogiri. Di sana kita mengenal praktik ibadah hijau yang mengajak umat untuk mensyukuri berbagai elemen alam. Artinya alam bukan hanya sebagai sesuatu yang berada di sekitar manusia, tetapi sebagai bagian kehidupan yang perlu penjagaan dan perawatan.
Peserta Eco-Peace Semarang juga mengunjungi Lembaga Percik (Persemaian Cinta Kemanusiaan) Salatiga. Kita belajar di desa yang telah menerapkan Program Kampung Iklim (ProKlim), program nasional yang melibatkan masyarakat dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.
Yang menarik, proses belajar tidak berhenti pada kunjungan. Peserta kemudian menyusun rencana tindak lanjut. Dari proposal yang masuk, tiga aksi nyata di setiap kota mendapatkan mini grant. Secara keseluruhan, ada enam proyek orang muda lintas iman yang berjalan, mulai dari pembuatan eco-enzyme, eco-seed, eco-printing, hingga penanaman mangrove di pesisir Semarang.
Di titik ini saya semakin memahami bahwa keberagaman bukan hanya tentang mengakui bahwa kita berbeda. Ia juga bisa menjadi sumber pengetahuan dan kekuatan untuk melakukan sesuatu bersama-sama.
RASA Project dan Ruang Belajar tentang Relasi
Pengalaman lintas iman lainnya saya temukan melalui RASA Project. Bersama empat teman lainnya dari Padang, Jakarta, Pontianak, Ambon, dan saya sendiri dari Indramayu, kami menginisiasi ruang belajar tentang relasi gender melalui perspektif spiritualitas dan agama-agama.
Inisiatif ini lahir dari kegelisahan yang sama tentang pemahaman kesetaraan gender, yang terkadang masih dibenturkan dengan dalil agama-agama. Namun melalui ruang diskusi ini, kami mengajak kawan-kawan beragam latar belakang agama untuk merefleksikannya bersama-sama.
Kami mendiskusikan relasi melalui lima dimensi: intrapersonal, yaitu relasi dengan diri sendiri; interpersonal, relasi dengan sesama; familial atau marital, relasi dengan keluarga dan pasangan; sosial, relasi dalam kehidupan bermasyarakat; serta transpersonal, relasi dengan alam semesta.
Selain melalui Plenary Session, kami juga menggunakan Study Circle sebagai ruang untuk memperdalam pengetahuan dan saling berbagi pengalaman tentang praktik relasi dalam kehidupan sehari-hari, melalui pendekatan psikologis dan agama-agama.
Di ruang tersebut saya kembali menemukan pengalaman yang sama. Kami berbeda agama, tetapi bisa duduk bersama membicarakan bagaimana manusia seyogyanya memperlakukan dirinya, sesamanya, keluarganya, masyarakat, bahkan alam.
Islam Mengajarkan Kebaikan dan Keadilan
Pengalaman-pengalaman tersebut selalu membuat saya menemukan kembali mutiara dari setiap ajaran agama. Karena terkadang kita hanya fokus pada ‘caranya’, tapi lupa ‘nilai dan maknanya’. Bahkan ajaran Islam sendiri telah memberi panduan penting tentang bagaimana kita berelasi dengan sesama tanpa memandang agama.
Misalnya pada Surah Al-Mumtahanah ayat 8 memberikan landasan penting tentang keharusan untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap sesama, termasuk dengan yang berbeda agama. Pun juga dengan Surah Al-Ma’idah ayat 2.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Bagi saya, al-birr, kebajikan, dapat menjadi titik temu dalam kehidupan bersama. Menjaga lingkungan, membantu sesama, memperjuangkan keadilan, dan membangun relasi yang lebih baik adalah kerja-kerja yang dapat dilakukan bersama, tanpa harus menghilangkan identitas keagamaan masing-masing.
Sementara itu, Surah Al-Kafirun ayat 6 “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Bagi saya, ayat ini bukan alasan untuk membangun jarak sosial. Ia justru menegaskan bahwa kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa hidup bersama. Keyakinan tetap memiliki batasnya, tetapi kerja kemanusiaan dapat menjadi ruang perjumpaan.
Bukan Lagi Sekadar Toleransi
Mungkin selama ini keberagaman terlalu sering dibicarakan sebagai soal toleransi: ‘Saya membiarkan kamu berbeda, dan kamu membiarkan saya berbeda’. Namun pengalaman yang saya rasakan menunjukkan sesuatu yang lebih jauh dari itu.
Kami tidak hanya saling membiarkan. Kami saling belajar dan bekerja. Ketika ada lingkungan yang harus dijaga, kami bisa menanam bersama. Saat ada orang yang membutuhkan makanan, kami bisa berbagi. Dan ketika ada persoalan relasi, kami bisa duduk dan belajar bersama.
Hari ini, saya tidak lagi terlalu sibuk bertanya, “Apa agamamu?”, tetapi saya lebih tertarik bertanya, “Apa yang bisa kita kerjakan bersama?”
Mungkin inilah wajah keberagaman yang paling saya rasakan hari ini. Bukan ketika semua orang menjadi sama, melainkan ketika kita tetap berbeda, tetap teguh dengan keyakinan masing-masing, tetapi memilih untuk berjalan bersama dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, kebaikan tidak selalu bertanya siapa yang berdoa dengan cara yang sama. Ia hanya bertanya: ketika ada kebaikan yang bisa dilakukan, apakah kita bersedia melakukannya bersama? []





Comments are closed.