Kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi dari Sumatera, Kalimantan sampai Papua. Temuan organisasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup memperlihatkan, titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) terindentifikasi di konsesi perusahaan maupun proyek pangan skala besar (food estate) seperti di Merauke, Papua Selatan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, menyatakan, karhutla yang merebak dari timur hingga barat Indonesia sebagian besar terjadi di area berizin. Kenyataan ini mematahkan pernyataan pemerintah yang menjadikan masyarakat akar masalah atau penyebab karhutla. Di Papua, misal, titik api bahkan teridentifikasi di kawasan proyek strategis nasional (PSN) food estate. Seperti di Kabupaten Merauke, Papua Selatan hingga Papua Pegunungan. Ada relasi pembukaan lahan yang mencapai 2,5 juta hektar untuk proyek pemerintah dengan meningkatnya titik api itu. “Karhutla semakin masif di tanah Papua. Verifikasi lapangan, hampir semua titik panas menimbulkan titik api. Ini jadi isu krusial untuk tanah Papua,” kata Maikel Primus Peuki, Direktur Walhi Papua. Identifikasi Walhi Papua, karhutla berulang setidaknya tiga tahun terakhir. Ia berdampak langsung bagi masyarakat adat terutama yang masih hidup dalam kawasan hutan, karena sebagian besar masih bergantung pada alam dan lingkungan. Di Pulau Borneo, titik api dan titik panas melonjak Agustus 2026. Titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar) sempat menempati posisi terbanyak di Indonesia. Secara keseluruhan, Januari-Juli 2026, terdapat 4.638 titik panas tersebar di 14 kabupaten. Pada 1-25 Agustus saja, terdapat 4.683 titik panas. Per 25 Agustus, luas karhutla di Kalbar 38.310 hektar. Paling luas di Kabupaten Ketapang, 12.443 hektar. Rata-rata kebakaran di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Kebanyakan berada di kawasan perizinan berusaha…This article was originally published on Mongabay
Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN
Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN





Comments are closed.