Pagi itu, Walter Samalelet beranjak masuk hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kabit di pinggang, ikat kepala luat dengan tiga mawar merah menyala. Kalung manik tudak. Walter adalah seorang sikerei atau tabib tradisional, yang memberikan pengobatan dengan tumbuhan obat dan ritual. Lelaki 65 tahun ini gesit melangkah menapaki ladang dengan tanaman campuran. Ia terbentang dari depan rumah hingga berbatasan dengan hutan di kaki bukit di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan itu. Ladang dan hutan itu seluas sekitar 323 hektar. Di ladang tak jauh dari rumahnya ada kolam dangkal dengan banyak tumbuhan keladi. Umbinya sehari-hari mereka andalkan sebagai bahan makanan pokok selain sagu. Di sekitar kolam tanaman pinang mengelilingi. Semakin menjauhi rumah, aneka pohon buah-buahan seperti rambutan, jengkol, dan durian. Ada juga pohon gaharu dan baiko. Pohon baiko penting bagi seorang sikerei, karena kulit untuk bahan pembuat kabit, semacam kain yang dililitkan menyerupai celana pendek untuk sikerei. Di bawah rindang pepohonan rimbun itu aneka jenis tumbuhan obat yang biasa Walter gunakan untuk mengobati warga yang datang berobat. Sebagai seorang sikerei, Walter ahli meramu tumbuhan itu untuk mengobati bermacam penyakit. “Ini lemu-lemu, daunnya untuk campuran obat sakit perut dan akarnya untuk obat cacing,” katanya. Dia petik pula tumbuhan keluarga jahe-jahean dengan bunga merah. “Ini bakgli-bakgli, bunganya digiling dan oleskan ke kepala untuk obat sakit kepala,” katanya. Sikerei Siberut, kaya dengan pengetahuan tumbuhan obat. Mereka memiliki ratusan jenis tumbuhan obat. Walter menceritakan sebagian besar tumbuhan obat itu terdapat di dalam hutan di belakang kebunnya. Hutan di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan…This article was originally published on Mongabay
Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat
Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat





Comments are closed.