Mon,7 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Hutan Terbakar Mengusir Satwa Liar, RI Perlu Siapkan Jalur Aman

Hutan Terbakar Mengusir Satwa Liar, RI Perlu Siapkan Jalur Aman

hutan-terbakar-mengusir-satwa-liar,-ri-perlu-siapkan-jalur-aman
Hutan Terbakar Mengusir Satwa Liar, RI Perlu Siapkan Jalur Aman
service

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, manusia dapat memilih untuk mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Satwa liar tidak memiliki pilihan yang sama. Mereka mengandalkan insting, jalur jelajah, dan kondisi bentang alam untuk mencari tempat berlindung. Dalam situasi tertentu, pergerakan itu bahkan dapat membawa satwa melintasi batas negara.

Pakar Konservasi dan peneliti senior BRIN, Prof Gono Semiadi, menjelaskan bahwa satwa memiliki kemampuan mendeteksi ancaman kebakaran dan meresponsnya dengan mencari lokasi yang lebih aman. Namun, kemampuan tersebut tidak sama pada setiap jenis satwa.

“Hewan itu punya insting, ketika sudah mulai datangnya kebakaran, punya insting,” kata Gono di Jakarta, pada 25 Agustus 2026 lalu. 

Menurut Gono, kondisi satwa perlu dilihat berdasarkan ukuran tubuh, perilaku, dan wilayah jelajahnya. Satwa yang memiliki home range kecil menghadapi persoalan berbeda dibandingkan satwa yang mampu bergerak dalam wilayah luas.

Ketika Semua Jalur Melarikan Diri Tertutup

Insting untuk menghindari api tidak selalu cukup. Ketika kebakaran berlangsung masif, habitat yang biasanya menjadi tempat berlindung dapat ikut terbakar sehingga satwa kehilangan pilihan untuk bergerak.

“Kalaupun dia mempunyai insting untuk melarikan diri, tetapi kan (kebakarannya) masif, itu kan akhirnya tidak ada lagi (jalan untuk melarikan diri), kemana saya harus lari,” ujar Gono.

Situasi tersebut menjadi semakin serius bagi satwa yang bergantung pada habitat tertentu. Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD, pakar konservasi dan ilmuwan biologi, menyebut karhutla sebagai salah satu ancaman besar bagi keanekaragaman hayati Indonesia.

Orang utan di Kalimantan menjadi salah satu contoh. Satwa arboreal ini menghabiskan banyak aktivitasnya di pepohonan dan membutuhkan tutupan kanopi untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

“Sangat besar sekali (ancaman karhutla bagi keanekaragaman hayati RI). Ini karena apa? Karena hasil penelitian banyak ya bahwa orang utan semuanya ada di kanopi, di pohon-pohon itu kan nggak bisa kemana-mana, dia larinya ke mana lagi,” kata Jatna.

Gono menjelaskan bahwa keberadaan pohon saja tidak cukup bagi orang utan. Kanopi harus memiliki konektivitas sehingga satwa dapat berpindah tanpa harus turun ke permukaan tanah.

“Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi, yang saling ada punya connectivity di antara dahannya,” jelasnya.

Jika hubungan antarkanopi terputus akibat kebakaran, kawasan yang sebelumnya menjadi habitat dapat kehilangan fungsinya. “Kalau tidak ada, biar kata disitu ada 100 tegakan atau pohon tapi tidak ada connectivitas, berarti habitat dari orang utan-nya ya sudah hilang,” sambung Gono.

Satwa Tidak Mengenal Batas Negara

Pergerakan satwa ketika menghindari kebakaran juga dipengaruhi kondisi bentang alam. Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, mengatakan satwa akan memanfaatkan jalur jelajah dan jalur migrasi yang telah dikenalnya untuk mencari tempat aman.

“Satwa bisa berpindah dan satwa akan menggunakan insting. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman,” kata Paulinus.

Pergerakan tersebut tidak selalu menuju Malaysia. Namun, di kawasan Kalimantan yang memiliki bentang hutan saling terhubung, satwa dapat saja melintasi wilayah Indonesia-Malaysia ketika mencari habitat yang lebih aman.

“Satwa tidak mengenal batas negara. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman,” ujarnya.

Artinya, batas administratif yang berlaku bagi manusia tidak menjadi batas bagi satwa. Selama tutupan hutan dan jalur pergerakannya masih tersambung, perpindahan lintas negara secara ekologis tetap mungkin terjadi.

Penyelamatan Terkendala Api dan Data

Persoalan berikutnya adalah mengetahui berapa banyak satwa yang terdampak. Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan hingga kini pihaknya masih berkoordinasi dengan berbagai lembaga untuk memperoleh data dari lapangan.

“Kami belum memiliki data yang konkret. Tapi kita terus berkoordinasi dengan rekan-rekan yang turun langsung di area karhutla,” ujar Wanda, Selasa (1/9/2026).

Kebakaran menyebabkan satwa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, dan wilayah jelajah. Sebagian lainnya dapat terjebak atau mengalami gangguan kesehatan akibat paparan api dan asap.

Namun, penyelamatan langsung tidak dapat dilakukan ketika api masih berkobar. “Kendala yang paling utama itu sebenarnya adalah medan itu sendiri. Sepanjang api belum dapat dipadamkan, para relawan belum bisa masuk,” kata Wanda.

Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Veteriner BRIN, Fitrine Ekawasti, menambahkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan habitat. Kesehatan satwa juga menjadi persoalan yang perlu ditangani dalam kerangka One Health.

“Karhutla ini bukan hanya menjadi masalah lingkungan atau konservasi. Tetapi juga menjadi masalah untuk satwa itu sendiri,” ujar Fitrine.

Karena itu, penanganan satwa terdampak membutuhkan kerja sama pemerintah, lembaga konservasi, dokter hewan, peneliti, dan relawan. Pendataan menjadi tahap penting untuk mengetahui spesies yang terdampak, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan rehabilitasi setelah kebakaran mereda.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.