Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Mempertayakan Komitmen Transisi dalam Kebijakan Energi Nasional

Mempertayakan Komitmen Transisi dalam Kebijakan Energi Nasional

mempertayakan-komitmen-transisi-dalam-kebijakan-energi-nasional
Mempertayakan Komitmen Transisi dalam Kebijakan Energi Nasional
service

  Peraturan Pemerintah (PP) nomor 40 tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) resmi meluncur 15 September lalu. Aturan yang menjadi pedoman utama arah pengembangan energi Indonesia ini pun mendapat kritikan organisasi masyarakat sipil yang mempertanyakan komitmen transisi energi pemerintah. Syaharani, Kepala Divisi Keadilan Iklim dan Dekarbonisasi Indonesia Center for Environmetal Law (ICEL), bilang, target energi terbarukan hanya 19%-21% sampai 2030, lalu naik bertahap 58%-61% pada 2060. Angka ini, katanya, sangat rendah ketimbang potensi teknisi Indonesia yang mencapai lebih dari 3.000 megawatt. “Ini menunjukkan lemahnya komitmen percapatan transisi energi,” katanya. Sebaliknya, porsi batubara tetap tinggi, 47%-50% pada 2030, 38%-41% pada  2040, 22%-25% pada 2050, dan tetap sekitar 8%-10% pada 2060. Konsistensi ini memperpanjang umur pembangkit, meningkatkan risiko carbon lock-in, serta mengancam pencapaian target puncak emisi 2035 dan net zero 2060. Dominasi batubara, katanya, akan terus memperlambat penurunan emisi sektor energi, mengurangi peluang investasi energi bersih, menunda penciptaan lapangan kerja hijau serta melemahkan upaya kedaulatan energi nasional. Selain batubara, KEN juga menempatkan gas bumi sebagai pilar energi jangka panjang dengan target porsi 12,9%-14,2% pada 2030, naik hingga 17,1%-17,3% pada 2050 dan tetap 14,4%-15,4% pada 2060. Konsumsi gas final proyeksinya mencapai 56,6-71,1 juta ton oil equivalent (TOE) pada 2060. Ketergantungan itu berisiko mengunci infrastruktur gas, menghambat penetrasi energi terbarukan, memicu aset terlantar, dan melemahkan komitmen Indonesia sepenuhnya beralih ke energi bersih. “Selain itu, lock-in ini berpotensi menghasilkan stranded assets.” Dengan demikian, investasi besar pada infrastruktur gas, seperti pembangkita jaringan distribusi dan fasilitas regasifikasi akan berdampak pada risiko menjadi aset terlantar karena peralihan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.