Ketika seorang anak menangis karena harus berpisah dengan guru yang sudah membuatnya merasa aman, bagi sebagian orang situasi itu mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Anak menangis, lalu orang dewasa menenangkannya. Namun, bagi Khairunissa atau yang akrab disapa Miss Cherie, situasi tersebut membutuhkan lebih dari sekadar membujuk anak agar berhenti menangis.
Cherie pernah menghadapi seorang anak yang menolak mengikuti sistem pergantian guru di daycare tempatnya bekerja. Setiap tiga bulan, anak-anak harus berpindah kelompok dan didampingi guru yang berbeda. Namun, anak tersebut sudah terlanjur merasa nyaman bersama Cherie dan tidak ingin berpisah dengannya.
“Ada anak yang maunya sama aku terus untuk kelompok kecil. Padahal setiap tiga bulan teacher bergantian. Dia nangis maksa tetap sama aku, sedangkan pelajaran harus diasuh teacher lain,” katanya.
Situasi itu bisa saja diselesaikan dengan terus menemani anak sampai tangisannya berhenti. Namun, Cherie memilih pendekatan lain. Ia berusaha memberikan pengertian bahwa anak tersebut tetap aman meski harus bersama guru yang berbeda. Pada akhirnya, ia harus “tega” meninggalkan anak itu agar perlahan belajar membangun kepercayaan dengan orang dewasa lainnya.
“Aku beri pengertian dan akhirnya harus tega meninggalkan dia supaya terbiasa juga dengan teacher yang lain. Tapi setelah pelajaran selesai, waktu tidur aku temenin dia, lalu saat dijemput aku antarkan ke orang tuanya. Aku bilang kalau Miss Cherie enggak meninggalkan kamu.”
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan mengasuh anak tidak sesederhana memastikan mereka makan, bermain, tidur, dan tetap aman selama orang tua bekerja. Ada proses panjang untuk memahami perasaan anak, membaca kebutuhan mereka, memberikan rasa aman, sekaligus mengajarkan mereka menghadapi perubahan.
Baca juga: Hari Buruh: Jika Daycare Jumlahnya Minim, di Mana Buruh Bisa Titipkan Anaknya Ketika Kerja?
Bagi banyak orang, guru daycare masih dipandang sebagai sosok yang “menjaga anak” selama orang tua bekerja. Pandangan tersebut membuat kerja pengasuhan kerap dianggap sebagai pekerjaan sederhana dan rutin. Padahal, di balik aktivitas memberi makan, menemani bermain, menidurkan anak, atau mengantar mereka kepada orang tua, terdapat tanggung jawab besar untuk mendampingi tumbuh kembang anak.
Di usia dini, anak tidak hanya belajar mengenal huruf, angka, atau warna. Mereka juga mulai belajar mengenali rasa takut, marah, sedih, kecewa, dan bahagia. Mereka belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain, memahami batasan, mengenali kebutuhan diri, serta perlahan membangun kemandirian. Pada fase inilah guru daycare memiliki peran penting sebagai figur yang membantu anak memahami emosinya sekaligus membangun rasa aman.
Peran tersebut dijalani setiap hari oleh Cherie, perempuan berusia 25 tahun yang bekerja sebagai guru daycare di Jakarta Barat. Baginya, mengasuh anak bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses mendampingi setiap tahap perkembangan mereka.
“Saat bersama anak-anak kecil tuh merasa energi saya di-charge,” ujarnya.
Ketertarikannya pada dunia anak juga bukan tanpa alasan. Berbekal pendidikan Promoting Children di Universitas Malaysia dan pengalaman magang selama lima tahun, ia memilih menjadi guru daycare sebagai bagian dari proses mewujudkan cita-citanya menjadi psikolog anak.
Namun, menjadi guru anak usia dini tidak hanya membutuhkan kesabaran. Pekerjaan ini menuntut kemampuan memahami kebutuhan emosional setiap anak yang berbeda-beda. Dalam satu kelas, Cherie bersama empat guru lainnya mendampingi sekitar 20 anak. Artinya, setiap hari ia berhadapan dengan berbagai karakter, kebutuhan, kebiasaan, dan respons emosional anak yang tidak selalu sama.
Baca juga: Ke Jakarta Aku Kan Kembali: Cerita Para Perempuan Desa Merantau ke Kota
Bagi Cherie, membangun kedekatan dengan anak juga bukan berarti membuat mereka bergantung pada satu orang dewasa. Justru, kedekatan tersebut menjadi bekal agar anak mampu menghadapi perubahan dengan rasa aman. Anak perlu mengetahui bahwa ketika satu orang dewasa tidak selalu berada di sisinya, ia tetap memiliki lingkungan yang aman dan orang-orang yang dapat dipercaya.
Hal tersebut menjadi bagian dari kerja pengasuhan yang sering kali tidak terlihat. Ketika seorang guru membantu anak mengatasi rasa takut, menenangkan tangisan, mengajarkan cara mengelola emosi, atau membangun rasa percaya diri, pekerjaan tersebut membutuhkan energi emosional yang sama besarnya dengan pekerjaan fisik yang dilakukan untuk merawat anak.
Kerja pengasuhan atau care work memang tidak berhenti pada kebutuhan fisik. Guru daycare juga menjalankan apa yang sering disebut sebagai emotional labor, yaitu pekerjaan yang menuntut kemampuan mengelola emosi diri sendiri sekaligus membantu orang lain mengelola emosinya. Dalam konteks anak usia dini, pekerjaan tersebut menjadi semakin kompleks karena anak belum selalu mampu memahami dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Setiap anak yang ditemui Cherie memiliki karakter yang berbeda. Ada yang mudah cemburu, penuh rasa ingin tahu, kurang percaya diri, hingga tampak tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Keragaman itu membuat tidak ada satu pendekatan yang bisa diterapkan kepada semua anak.
Ia pernah mendampingi seorang anak yang terlihat cuek selama kegiatan belajar dan selalu kesulitan berpisah dari orang tuanya. Namun ketika pembagian rapor, orang tua anak tersebut justru menceritakan sesuatu yang tidak pernah ia duga.
“Mereka bilang setiap malam anaknya menanyakan aku dan sering bercerita tentang kejadian di sekolah bersama Miss Cherie,” katanya.
Baca juga: Bukan Salah Nikita Willy: Susahnya Jadi Ibu Ideal, Harus Punya Privilese untuk Memenuhinya
Pengalaman lain juga ia alami ketika masih bekerja di sebuah daycare di Malaysia. Selama beberapa tahun, ia mendampingi seorang anak sejak usia tiga bulan hingga tiga tahun. Ketika harus kembali ke Indonesia, ia mengira hubungan itu selesai begitu saja. Namun beberapa bulan kemudian, anak tersebut bersama ibunya datang dari Malaysia ke Jakarta hanya untuk menemuinya.
“Aku terkejut, campur haru,” ujarnya.
Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa relasi antara pekerja pengasuhan dan anak tidak hanya terbentuk melalui rutinitas. Ada ikatan emosional yang terbangun dari waktu yang dihabiskan bersama setiap hari. Guru menjadi salah satu orang dewasa yang hadir secara konsisten ketika anak belajar mengenal dunia di luar keluarga.
Namun, kedekatan emosional itu juga memiliki konsekuensi. Pekerjaan sebagai guru daycare tidak lepas dari tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Cherie mengaku kerap dihantui rasa tidak percaya diri. Ia khawatir media pembelajaran yang dibuatnya kurang menarik, stimulasi yang diberikan belum cukup, atau justru membuat anak merasa bosan. Ia juga takut dianggap terlalu galak oleh anak-anak.
Keraguan tersebut membuat Cherie tidak sembarangan memberikan respons ketika menemukan anak yang mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran. Selama dua hingga tiga hari, ia melakukan observasi terhadap perilaku anak, kemudian mencari referensi dari berbagai jurnal mengenai perkembangan dan regulasi emosi anak.
Salah satu pengalaman yang ia temui adalah ketika seorang anak selalu menangis saat mengikuti aktivitas *sensory play* menggunakan lumpur karena merasa tidak nyaman dengan teksturnya. Padahal, kegiatan tersebut penting untuk membantu perkembangan sensorik dan oromotor anak.
Menurut Cherie, setiap perilaku anak memiliki penyebab yang berbeda sehingga respons orang dewasa juga harus disesuaikan. Anak yang menangis, misalnya, tidak selalu membutuhkan perintah untuk berhenti menangis. Ada kalanya mereka membutuhkan waktu untuk memahami emosi yang sedang dirasakan.
Baca juga: Film ‘Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah’: Perempuan Sudah Jatuh, Tertimpa Beban Kerja Perawatan
Terkadang ia mengajak anak melakukan latihan pernapasan sederhana dengan meniup telapak tangan sambil menghitung hingga 20. Dalam situasi tertentu, ia juga membiarkan anak menangis sampai emosinya lebih tenang sebelum diajak berbicara.
“Pada saat anak lagi sedih, ia melakukan hal yang enggak seharusnya dilakukan. Kita enggak boleh tanya kenapa, karena otak mereka sedang ke-block. Jadi harus divalidasi terlebih dahulu perasaannya,” jelasnya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan pengasuhan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, bukan hanya naluri atau kesabaran. Seorang pengasuh maupun guru anak usia dini perlu memahami tahap perkembangan anak, mengenali perubahan perilaku, serta mengetahui bagaimana merespons emosi tanpa memperburuk keadaan.
Hal serupa juga ia terapkan ketika mengajarkan anak bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan. Baginya, meminta anak mengucapkan kata maaf tidak cukup jika mereka belum memahami mengapa tindakan tersebut dianggap salah.
“Rasa bersalah harus dibangun serta diajarkan. Kita sebagai orang dewasa enggak bisa meminta anak langsung minta maaf, tapi kita harus mengajarkan sebab akibat dari kesalahan yang dilakukan,” katanya.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa kerja guru daycare berada di antara fungsi pengasuhan dan pendidikan. Mereka tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari anak, tetapi juga berperan dalam membentuk cara anak memahami diri sendiri dan lingkungan sosialnya.
Praktisi SDM sekaligus pengamat pendidikan anak usia dini, Indira Safirawarman, menjelaskan bahwa guru maupun pengasuh memiliki peran penting dalam pembentukan perilaku anak, terutama pada usia dua hingga enam tahun.
Menurutnya, selain faktor internal seperti genetik dan kondisi kesehatan, lingkungan menjadi faktor eksternal yang sangat memengaruhi perkembangan anak.
Baca juga: ‘1 Kakak 7 Ponakan’, Kisah Kerja Perawatan dan Pengorbanannya
“Untuk anak usia dini, faktor eksternal banyak meliputi keaktifan belajar, berbicara, meniru, serta mengembangkan kemandirian,” ujar Indira.
Ia menambahkan bahwa guru merupakan salah satu figur yang setiap hari dilihat dan dicontoh oleh anak. Artinya, perilaku orang dewasa yang berada di sekitar anak menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
“Di rumah terdapat orang tua, sementara di sekolah dan lingkungan ada guru dan pengasuh. Maka dari itu, peran Ibu Cherie selaku guru sangat besar untuk anak-anak, karena beliau harus mencontohkan perkataan dan perilaku baik yang dapat ditiru anak-anak. Di sinilah pemilik daycare atau sekolah perlu memastikan kualitas guru sejak proses perekrutan hingga penempatan agar mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan anak,” jelasnya.
Penjelasan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya melihat kerja pengasuhan sebagai pekerjaan yang membutuhkan kompetensi. Ketika kerja perawatan hanya dilihat sebagai kegiatan “menjaga anak”, berbagai keterampilan yang digunakan pekerja pengasuhan menjadi tidak terlihat. Kemampuan mengelola emosi, melakukan observasi, memahami perkembangan anak, merancang kegiatan pembelajaran, membangun komunikasi, hingga menciptakan rasa aman merupakan bagian dari pekerjaan yang dilakukan setiap hari.
Pada saat yang sama, kerja pengasuhan juga membutuhkan keterlibatan emosional yang tidak selalu dapat diukur melalui hasil kerja yang kasatmata. Seorang anak yang akhirnya berani berpisah dari orang tuanya, mampu berinteraksi dengan teman, dapat mengungkapkan perasaan, atau mulai percaya kepada guru merupakan hasil dari proses yang berlangsung berulang kali.
Kisah Cherie memperlihatkan bahwa kerja tersebut membutuhkan waktu, perhatian, pengetahuan, dan energi emosional. Pekerjaan yang berlangsung setiap hari itu mungkin tidak selalu terlihat oleh orang tua maupun masyarakat, tetapi dampaknya dapat mengikuti perkembangan anak dalam jangka panjang.
Baca juga: ‘Harus Berhenti Kerja, Urus Orang Tua’ Kerja Perawatan Masih Dipikul Perempuan
Bagi Cherie sendiri, hubungan dengan anak-anak yang pernah diasuhnya menjadi salah satu alasan mengapa pekerjaan tersebut memiliki arti personal. Ia tidak hanya mengingat mereka sebagai anak-anak yang pernah berada di kelasnya, tetapi juga sebagai individu yang pernah tumbuh bersamanya dalam periode penting kehidupan mereka.
“Nama asliku Khairunissa. Cherie adalah nama panggilan waktu kecil, artinya sayang dalam bahasa Prancis. Nama adalah bagian dari doa dan harapan. Jadi aku berharap anak-anak tetap menyayangi aku seperti aku menyayangi mereka,” tutupnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap layanan pengasuhan anak, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa guru daycare bukan sekadar penjaga anak. Mereka adalah pendidik, pendamping, sekaligus bagian penting dari ekosistem pengasuhan yang membentuk fondasi perkembangan anak pada masa-masa awal kehidupannya.
Mengakui nilai kerja pengasuhan berarti juga mengakui bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya bergantung pada keluarga. Ada pekerja perawatan yang setiap hari hadir untuk memastikan kebutuhan fisik dan emosional anak terpenuhi, sekaligus membantu mereka belajar mengenali diri dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Karena itu, ketika membicarakan pengasuhan anak, perhatian tidak seharusnya hanya diarahkan kepada anak dan orang tua. Pekerja yang menjalankan kerja perawatan juga perlu dilihat, dihargai, dan mendapatkan kondisi kerja yang layak. Sebab, di balik anak yang merasa aman, mampu mengenali emosinya, dan perlahan menjadi mandiri, ada kerja pengasuhan yang dilakukan terus-menerus—sering kali tanpa banyak terlihat, tetapi memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan anak sejak usia dini.
Keterangan foto: Cherie, guru daycare di Jakarta Barat. Foto: dok. Yusril Virgiansyah)
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)





Comments are closed.