Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir, sekitar Banten, Lampung, dan wilayah Jabodetabek. Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan, debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi. Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung. “Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu. Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nurhayat, warga Tancang mengatakan, kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air. “Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya. Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah. Maryana berharap, pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik. “Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.” Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten…This article was originally published on Mongabay
Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi
Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi





Comments are closed.