Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk Agama untuk Semesta, diskusi di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Jombang, Senin (29/8/26) itu berlangsung dalam dua sesi. Jagat merupakan akronim dari Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi. Jay Akhmad, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, mengatakan, forum itu berangkat dari kegelisahan tentang minimnya gerakan sosial keagamaan menyikapi pelbagai krisis sosial ekologi di Indonesia. “Ini berangkat dari kegelisahan kami tentang situasi bagaimana agama, kami melihat dan merasakan masih jauh bicara dan berperan dalam isu-isu lingkungan,” ujarnya. “Gus Dur mengatakan, merusak alam sama dengan merusak kemanusiaan.” Inayah Wahid, Dewan Pengawas Greenpeace Indonesia soroti lemahnya political will negara dalam upaya perbaikan lingkungan. Foto: Abdul Haq/Mongabay Indonesia. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya menyebutkan, forum itu sebagai oase perjumpaan, yang mengingatkannya pada kisah Santo Fransiskus dari Asisi dan Sultan Malik al-Kamil. Perjumpaan itu yang menginspirasi Paus Fransiskus melahirkan dokumen seruan moral lingkungan hidup berjudul laudato si’. Salah satu misi dari penerbitan dokumen itu adalah menyelamatkan bumi. Sebab, prinsip dasarnya adalah semua makhluk adalah wajah Allah yang diciptakan dengan cinta kasih dan saling terhubung satu sama lain. Menurut dia, ada interdependensi antara manusia dan alam. “Kita semua ada di dalam satu kapal, satu rumah bersama. Agama sehebat apapun nanti…This article was originally published on Mongabay
Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi
Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi





Comments are closed.