Kesepian seseorang ternyata dapat memengaruhi orang lain dalam jaringan sosialnya hingga tiga tingkat hubungan. Penelitian terhadap lebih dari 5.000 orang menunjukkan, pengaruh tersebut tidak hanya terjadi pada teman dekat, tetapi juga dapat menjangkau teman dari teman hingga tiga tingkat pertemanan.
Temuan itu berasal dari penelitian John T. Cacioppo, James H. Fowler, dan Nicholas A. Christakis dikutip dari laman Geediting.com. Penelitian ymenggunakan data dari Framingham Heart Study, penelitian kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat. Studi tersebut menelusuri hubungan sosial peserta untuk melihat bagaimana kesepian muncul dan menyebar dalam jaringan pertemanan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2009 itu menemukan bahwa kesepian membentuk kelompok atau klaster dalam jaringan sosial dan pengaruhnya dapat menjangkau hingga tiga tingkat hubungan sosial.
Berdasarkan analisis tersebut, seseorang memiliki kemungkinan 52 persen lebih tinggi mengalami kesepian ketika orang yang memiliki hubungan langsung dengannya juga mengalami kesepian.
Pengaruh itu masih terlihat pada tingkat berikutnya. Teman dari orang yang kesepian memiliki kemungkinan sekitar 25 persen lebih tinggi mengalami kesepian. Sementara pada tingkat ketiga, yakni teman dari teman dari teman, kemungkinan tersebut masih sekitar 15 persen lebih tinggi.
Pada tingkat keempat, pengaruh tersebut tidak lagi terlihat secara signifikan. Peneliti menemukan peningkatan sekitar 2 persen, tetapi rentang hasilnya menunjukkan bahwa efek tersebut tidak berbeda secara meyakinkan dari tidak adanya pengaruh.
Kesepian Tidak Berarti Menular seperti Penyakit
Meski penelitian menggambarkan kesepian sebagai sesuatu yang dapat menyebar dalam jaringan sosial, hal tersebut tidak berarti kesepian menular secara biologis seperti penyakit infeksi.
Peneliti menduga penyebaran tersebut lebih berkaitan dengan perubahan perilaku dan interaksi sosial. Seseorang yang merasa kesepian cenderung mengurangi interaksi, lebih jarang menginisiasi pertemuan, atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Perubahan perilaku itu kemudian dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Mereka mungkin ikut mengurangi interaksi sosial dan selanjutnya memengaruhi orang lain dalam jaringan sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, pengaruh kesepian dapat bergerak melalui berbagai hubungan sosial tanpa orang-orang yang terlibat harus saling mengenal secara langsung.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengaruh kesepian lebih kuat melalui hubungan pertemanan dibandingkan hubungan keluarga. Efeknya juga ditemukan lebih kuat pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Kesepian Berkaitan dengan Kesehatan
Kesepian kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan emosional, tetapi juga menjadi perhatian dalam bidang kesehatan masyarakat.
Penelitian yang lebih baru menggunakan data Framingham Heart Study juga menemukan hubungan antara kesepian yang berlangsung terus-menerus dengan penurunan fungsi kognitif dan perubahan pada sejumlah struktur otak pada usia paruh baya. Namun, penelitian tersebut membedakan kesepian yang menetap dengan kesepian yang bersifat sementara.
Dalam penelitian tersebut, kesepian yang menetap berkaitan lebih kuat dengan penurunan kemampuan memori dan fungsi eksekutif dibandingkan kesepian yang hanya berlangsung sementara.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hubungan sosial dan memberikan perhatian kepada orang yang mulai menarik diri dari lingkungan.
Menghubungi teman yang mulai jarang berkomunikasi, mengajak bertemu, atau sekadar menanyakan kabar dapat menjadi bentuk dukungan sederhana untuk menjaga keterhubungan sosial.
Dengan kata lain, menjaga hubungan sosial tidak hanya bermanfaat bagi orang yang menerima perhatian. Dalam konteks penelitian mengenai jaringan sosial, hubungan tersebut berpotensi memberikan dampak yang lebih luas kepada orang-orang di sekitarnya.





Comments are closed.