Jakarta –
Memiliki bayi seharusnya menjadi momen yang membahagiakan. Namun, bagi Bunda dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), kehamilan, persalinan, hingga masa setelah melahirkan bisa menghadirkan tantangan tersendiri.
Hal ini dirasakan Sarah Marsh, seorang ibu sekaligus penulis asal Inggris. Dikutip dari The Guardian, Sarah menceritakan pengalamannya menghadapi persalinan dan masa awal menjadi ibu ketika ia belum mengetahui bahwa dirinya memiliki ADHD. Pengalaman tersebut bahkan membuatnya merasa kemampuan untuk menghadapi situasi di rumah sakit seperti perlahan runtuh.
Sarah menceritakan bahwa sekitar empat jam setelah melahirkan, dirinya berada di ruang perawatan postpartum. Ia belum tidur sejak datang ke rumah sakit pada malam sebelumnya. Di sekelilingnya terdengar tangisan bayi, lampu rumah sakit terasa sangat terang, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai kekhawatiran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarah kemudian menangis dan merasa tidak sanggup menghadapi situasi tersebut. Ia bahkan mengatakan kepada bidan bahwa dirinya tidak bisa bernapas dan ingin segera pulang. Saat itu, Sarah belum mengetahui bahwa dirinya memiliki ADHD. Baru sekitar satu tahun kemudian, setelah mengetahui dirinya neurodivergen, ia mulai memahami mengapa pengalaman setelah melahirkan tersebut terasa begitu berat baginya.
Menurut Sarah, proses persalinan sendiri bisa terasa sulit bagi orang dengan ADHD karena banyak hal terjadi di luar kendali dan tidak dapat diprediksi. Sementara itu, ruang perawatan setelah melahirkan juga bisa menjadi sumber sensory overload karena adanya suara bayi menangis, cahaya yang terang, banyak orang yang datang dan pergi, serta perubahan lingkungan yang tiba-tiba.
ADHD saat hamil bisa dipengaruhi perubahan hormon
Perubahan hormon selama kehamilan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dalam tulisannya, Sarah menjelaskan bahwa hormon seperti estrogen dan progesteron mengalami perubahan besar selama kehamilan. Para ilmuwan sendiri masih mempelajari bagaimana perubahan hormon tersebut dapat memengaruhi gejala ADHD.
Salah satu penelitian dari King’s College London bahkan sedang mempelajari hubungan antara hormon dan gejala ADHD pada perempuan. Namun, efeknya tidak selalu sama pada setiap Bunda.
Sebagian perempuan mungkin merasa gejala ADHD lebih mudah dikelola pada periode tertentu dalam kehamilan, sedangkan yang lain justru merasa gejalanya semakin berat. Karena itu, tidak ada pola yang bisa diterapkan kepada semua Bunda dengan ADHD.
Risiko masalah kesehatan mental juga perlu diperhatikan
Selain perubahan gejala ADHD, kesehatan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan juga menjadi perhatian.
Sebuah penelitian yang melibatkan 1.204 perempuan hamil dari delapan negara menemukan bahwa gejala ADHD pada trimester ketiga berkaitan dengan tingkat stres dan gejala depresi yang lebih tinggi serta dukungan sosial yang lebih rendah. Peneliti pun menyarankan agar perempuan dengan gejala ADHD mendapatkan perhatian dan skrining kesehatan mental selama kehamilan.
Penelitian lain systematic review yang diterbitkan pada 2025 juga menemukan bahwa perempuan dengan ADHD memiliki risiko depresi perinatal yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tanpa ADHD. Dalam systematic review tersebut, prevalensi depresi perinatal pada perempuan dengan ADHD dalam berbagai penelitian berkisar antara 16,76 hingga 57,6 persen.
Artinya, ketika Bunda dengan ADHD merasa lebih mudah stres, cemas, atau kewalahan selama kehamilan maupun setelah melahirkan, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kurangnya kemampuan beradaptasi.
Setelah melahirkan, rutinitas bisa berubah total
Bagi Bunda dengan ADHD, perubahan rutinitas setelah memiliki bayi bisa menjadi tantangan besar.
Sarah mengaku dirinya dan pasangan bahkan belum memiliki rencana yang matang ketika membawa bayinya pulang dari rumah sakit. Mereka belum memikirkan secara detail mengenai pola tidur dan kebutuhan sehari-hari bayi. Padahal, bayi membutuhkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan.
Mulai dari menyusu, mengganti popok, tidur, mandi, kontrol kesehatan, imunisasi, hingga sekadar menenangkan bayi yang sedang menangis. Bagi seseorang dengan ADHD yang sudah memiliki tantangan dalam mengatur waktu, fokus, dan berbagai aktivitas, perubahan rutinitas seperti ini bisa terasa sangat melelahkan. Belum lagi jika Bunda kurang tidur.
Sebab tidur yang cukup menjadi salah satu kebutuhan penting setelah melahirkan. Namun, mendapatkan waktu tidur yang cukup tentu tidak selalu mudah ketika Bunda harus merawat bayi.
Sarah menyebut bahwa dirinya sangat khawatir tidak akan pernah bisa tidur lagi ketika berada di ruang postpartum. Kekhawatiran tersebut muncul bersamaan dengan kondisi tubuh yang lelah dan lingkungan rumah sakit yang penuh stimulasi sensorik.
Karena itu, Sarah menyarankan agar Bunda dengan ADHD membuat rencana postpartum sejak sebelum bayi lahir. Menurut pengalamannya, beberapa hal yang perlu dipikirkan antara lain tidur, pemberian makan, mengganti pakaian dan popok, stimulasi bayi, serta dukungan dan kasih sayang. Urusan administrasi seperti jadwal imunisasi dan pemeriksaan bayi juga sebaiknya dicatat atau didelegasikan kepada pasangan maupun anggota keluarga.
Penelitian tentang risiko persalinan pada ibu hamil dengan ADHD
Pengalaman Sarah ternyata sejalan dengan sejumlah penelitian. Studi dari A Systematic Review, 2025 yang berjudul Maternal Attention Deficit Hyperactivity Disorder and Perinatal Depression, melibatkan 13.588 perempuan dengan ADHD serta 474.789 perempuan tanpa ADHD menemukan bahwa perempuan dengan ADHD memiliki angka gangguan depresi dan gangguan terkait stres yang lebih tinggi pada enam minggu maupun 12 bulan setelah melahirkan.
Risiko gangguan mood, kecemasan, dan gangguan terkait stres juga ditemukan lebih tinggi pada kelompok dengan ADHD. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan kesehatan mental bagi perempuan dengan ADHD selama periode postpartum.
Namun, bukan berarti setiap Bunda dengan ADHD pasti mengalami depresi postpartum. Penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan risiko secara statistik, bukan kepastian bahwa kondisi tersebut akan dialami setiap ibu.
Bagaimana dengan obat ADHD saat hamil?
Bunda yang memiliki ADHD dan sedang hamil mungkin juga bertanya-tanya mengenai keamanan obat yang dikonsumsi.
Sarah sendiri menyinggung bahwa penelitian mengenai penggunaan obat ADHD selama kehamilan masih terbatas. Salah satu alasannya adalah penelitian pada perempuan hamil memiliki tantangan etis yang besar. Karena itu, keputusan mengenai obat perlu dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya secara individual.
Bunda sebaiknya tidak menghentikan, mengurangi, atau mengganti obat ADHD secara mandiri setelah mengetahui dirinya hamil. Diskusikan dengan dokter yang menangani ADHD dan dokter kandungan. Dokter dapat membantu mempertimbangkan kondisi Bunda, tingkat keparahan gejala, manfaat pengobatan, serta potensi risiko bagi kehamilan dan bayi.
Hal yang sama berlaku untuk Bunda yang ingin menyusui. Data mengenai penggunaan obat ADHD selama menyusui masih terbatas sehingga konsultasi dengan dokter tetap diperlukan.
Bunda dengan ADHD bisa membuat birth plan
Salah satu pelajaran yang dibagikan Sarah adalah pentingnya membuat birth plan. Bukan berarti semua hal dalam persalinan harus berjalan persis sesuai rencana. Persalinan bisa berubah kapan saja. Namun, mengetahui apa yang mungkin terjadi dan menyampaikan kebutuhan kepada tenaga kesehatan dapat membantu Bunda merasa lebih siap.
Bunda bisa mendiskusikan hal-hal seperti:
- Kondisi lingkungan yang membuat lebih nyaman;
- Kebutuhan untuk mendapatkan penjelasan sebelum prosedur dilakukan;
- Siapa yang akan mendampingi selama persalinan;
- Cara komunikasi yang paling nyaman;
- Kebutuhan setelah melahirkan;
- Apa yang bisa dilakukan jika Bunda mengalami sensory overload.
Sarah juga menekankan bahwa Bunda dengan ADHD atau kondisi neurodivergen lainnya perlu berani mengatakan apa yang dibutuhkan selama proses persalinan.
Jangan terjebak ekspektasi menjadi ‘Bunda sempurna’
Setelah melahirkan, Bunda mungkin melihat banyak konten mengenai ibu yang terlihat mampu mengurus bayi, rumah, pasangan, bahkan pekerjaan sekaligus. Bagi Bunda dengan ADHD, standar tersebut bisa terasa semakin berat.
Sarah mengingatkan bahwa konsep ibu yang sempurna sebenarnya tidak realistis. Ia juga menyebut bahwa orang dengan ADHD mungkin lebih sensitif terhadap perasaan gagal karena sepanjang hidupnya sudah terbiasa mendapatkan kritik karena dianggap melakukan sesuatu dengan cara yang ‘salah’.
Padahal, setiap Bunda memiliki cara masing-masing dalam menjalani peran sebagai ibu. Tidak masalah jika rumah belum rapi. Tidak masalah jika Bunda membutuhkan bantuan untuk mengurus bayi. Tidak masalah jika Bunda perlu beristirahat. Yang penting adalah kebutuhan dasar Bunda dan Si Kecil tetap terpenuhi.
Waspadai burnout setelah menjadi Bunda
Tantangan belum tentu selesai ketika masa cuti melahirkan berakhir. Ketika kembali bekerja, Bunda mungkin harus menjalani dua sif pekerjaan di kantor dan pekerjaan di rumah.
Bagi Bunda dengan ADHD, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko burnout, terutama jika terlalu banyak mengambil tanggung jawab sekaligus. Sarah menyarankan agar Bunda memperhatikan tanda-tanda seperti kelelahan terus-menerus, sedih atau depresi, kehilangan motivasi, serta mulai menarik diri dari orang-orang di sekitar.
Jika sudah mulai merasa berada di titik tersebut, jangan menunggu sampai benar-benar kehabisan tenaga. Cari bantuan dan kurangi beban jika memungkinkan.
Kapan Bunda perlu mencari bantuan?
Merasa lelah dan kewalahan setelah melahirkan memang umum terjadi. Namun, Bunda sebaiknya berbicara dengan tenaga kesehatan jika kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Terlebih jika Bunda mengalami:
- Rasa sedih atau putus asa yang menetap;
- Kecemasan yang sulit dikendalikan;
- Sulit merawat diri sendiri atau bayi;
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai;
- Kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik;
- Merasa tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari;
- Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Bunda tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat untuk meminta bantuan.
ADHD bukan berarti Bunda tidak mampu menjadi ibu
Pengalaman Sarah Marsh menunjukkan bahwa memiliki ADHD dapat membuat beberapa bagian dari perjalanan menjadi ibu terasa lebih menantang.
Sensory overload, perubahan rutinitas, kurang tidur, ketidakpastian saat persalinan, hingga tuntutan mengurus bayi dapat membuat Bunda merasa kewalahan. Namun, memiliki ADHD bukan berarti Bunda tidak mampu menjadi ibu yang baik.
Justru, dengan memahami kebutuhan diri sendiri, membuat persiapan sejak masa kehamilan, mendapatkan dukungan pasangan dan keluarga, serta berdiskusi dengan tenaga kesehatan, berbagai tantangan tersebut dapat dikelola dengan lebih baik. Dan satu hal yang tidak kalah penting: Bunda tidak harus menjalani semuanya sendirian.
Meminta bantuan bukan tanda gagal menjadi ibu. Bisa jadi, itu justru salah satu bentuk terbaik Bunda dalam menjaga diri sendiri dan Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)





Comments are closed.