Mubadalah.id – Grape Sour, anggur itu kecut. Istilah ini saya dapatkan ketika membaca buku “Melayani Maling, Seri Teladan Humor Sufistik”, karya Tasirun Sulaiman. Ungkapan ini menggambarkan kecenderungan kita untuk menilai buruk sesuatu yang tidak berhasil kita dapatkan.
Ketika keinginan berhadapan dengan ketidakmampuan, kita kadang lebih mudah mengatakan bahwa itu memang tidak layak daripada mengakui bahwa kita sendiri tidak mampu meraihnya. Di sini saya melihat Grape Sour menjadi sangat menarik. Jangan-jangan, sebagian penilaian buruk yang kita berikan adalah tentang diri kita yang sedang kecewa.
Kisah Seekor Rubah
Dalam buku tersebut menjelaskan, konon, seekor rubah yang sedang kelaparan berjalan melewati sebuah kebun dan melihat buah anggur yang bergelantungan di dahan. Buah-buah itu tampak ranum dan menggiurkan. Rubah pun mencoba meraihnya. Ia melompat sekali, belum sampai. Ia mencoba lagi, tetap tidak berhasil. Berkali-kali ia melompat, tetapi anggur itu tetap tidak bisa terjangkau.
Setelah merasa lelah, rubah akhirnya menyerah. Ia berbalik meninggalkan kebun. Kepada temannya yang kebetulan melihat kejadian itu, ia berkata bahwa anggur tadi rasanya kecut dan tidak enak. Ia menyarankan agar temannya tidak usah mencoba anggur tersebut.
Lucunya, rubah itu bukan hanya gagal mendapatkan anggur. Ia juga merasa perlu memastikan bahwa anggur yang gagal ia raih memang tidak layak untuk dimakan.
Cerita sederhana ini terdengar seperti lelucon tentang seekor rubah yang pandai mencari alasan. Tapi, pernahkan kita menyadari bahwa sesekali kita juga melakukan hal serupa.
Ketika kita tidak berhasil mendapatkan sesuatu, terkadang kita buru-buru mengatakan, “Ah, sebenarnya itu memang tidak bagus”.
Ketika Kegagalan Berubah Menjadi Penilaian
Rupanya, kita sebagai manusia tidak selalu jauh berbeda dari rubah tadi. Kita juga bisa menemukan cara untuk membuat sesuatu yang gagal kita dapatkan terlihat tidak menarik. Ketika berhadapan dengan kegagalan, kalimat “aku tidak berhasil mendapatkannya” terkadang terasa lebih berat daripada “memang itu tidak bagus.”
Seorang yang gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, misalnya, bisa saja mulai melihat pekerjaan itu sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan. Atau seseorang yang tidak masuk dalam sebuah circle pergaulan, kemudian menganggap orang-orang di dalamnya sombong atau tidak menyenangkan. Begitu pula ketika melihat keberhasilan orang lain, kita kadang lebih mudah menemukan kekurangannya daripada mengakui bahwa ada sedikit rasa kecewa karena kita belum sampai pada posisi yang sama.
Tentu saja tidak selalu seperti itu. Kritik bisa lahir dari penilaian yang jernih dan sesuatu yang kita inginkan memang belum tentu baik bagi kita. Namun, kisah tentang rubah tadi mengajak kita melihat kemungkinan yang lain. Bisa jadi penilaian kita terhadap sesuatu sedang dipengaruhi oleh kenyataan bahwa kita tidak berhasil mendapatkannya. Grape Sour menjadi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Grape Sour dan Ego yang Ingin Tetap Menang
Dalam kisah rubah dan anggur, Grape Sour bisa dibaca sebagai cerita tentang ego. Ego tidak selalu ingin menang dalam arti mengalahkan orang lain. Kadang ego bisa berarti menyelamatkan perasaan sendiri agar tidak perlu berhadapan dengan kenyataan bahwa kita gagal.
Ada kepuasan kecil ketika kita berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang tidak kita miliki memang tidak layak dimiliki. Ego merasa aman. Ia tidak perlu mengakui kekurangan ataupun menerima kekecewaan.
Dalam pandangan sufistik, persoalan semacam ini menarik karena perhatian tidak hanya diarahkan kepada apa yang terjadi di luar diri, tetapi juga kepada apa yang bergerak di dalam diri. Yang perlu diperiksa bukan hanya anggur yang kita nilai kecut, tetapi juga keinginan, kekecewaan, dan ego yang berada di balik penilaian itu.
Ketika Al-Qur’an Meminta Kita Berlaku Adil
Ada satu hal yang menarik ketika Grape Sour dibaca bersama Al-Qur’an. Dalam QS Al-Ma’idah ayat 8, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.”
Ayat ini menarik karena Al-Qur’an memahami bahwa manusia bisa memiliki rasa tidak suka. Yang diperingatkan bukan keberadaan perasaan itu, tetapi ketika kebencian mulai memengaruhi cara kita memperlakukan dan menilai orang lain.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa kebencian kepada suatu kaum tidak boleh membuat seseorang meninggalkan keadilan. Keadilan tetap harus diberikan kepada siapa pun, baik teman maupun orang yang menjadi musuh.
Pesan ini terasa dekat dengan persoalan Grape Sour. Ketika kita kecewa atau gagal mendapatkan sesuatu, perasaan tersebut bisa saja ikut memengaruhi cara kita melihatnya. Yang tadinya hanya “aku tidak berhasil mendapatkannya” perlahan berubah menjadi “memang itu tidak bagus”.
Al-Qur’an mengingatkan kita untuk berhenti sejenak sebelum sampai pada kesimpulan itu. Perasaan boleh ada, tetapi jangan sampai perasaan mengambil alih penilaian.
Anggurnya Belum Tentu Kecut
Pelajaran utama dari Grape Sour bukan sekadar “jangan menjelek-jelekkan sesuatu yang tidak kita dapatkan.” Itu terlalu dangkal. Yang lebih penting adalah bagaimana kita jujur melihat kegagalan kita sendiri.
Ketika gagal mendapatkan sesuatu, kita bisa saja mengatakan bahwa sesuatu itu memang tidak baik. Padahal, bisa jadi penilaian itu muncul karena kita kecewa. Sehingga kita mencari alasan agar kegagalan itu terasa lebih mudah diterima.
Maka, sebelum mengatakan sesuatu itu kecut, kitab bisa bertanya, apakah memang anggurnya kecut, atau kita yang tidak berhasil memetiknya? []
