EURO/USD1,17
%-0.02
Oil61,12
%-0.26
BTC0,000000
%0
ETH0,000000
%0
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Siapa yang Menanggung Residu Kemasan Checkout Kita?

Siapa yang Menanggung Residu Kemasan Checkout Kita?

siapa-yang-menanggung-residu-kemasan-checkout-kita?
Siapa yang Menanggung Residu Kemasan Checkout Kita?
0
Share

Share This Post

or copy the link

Mubadalah.id – Di setiap sudut pembuangan sampah, ada orang-orang yang mayoritas adalah tenaga perempuan yang setiap hari memilah plastik dengan tangan telanjang. Mereka duduk berjam-jam di antara gunungan kresek, kardus basah, dan bungkus makanan yang sudah tidak berbentuk, memisahkan mana yang masih bisa terjual, mana yang harus ia bakar, mana yang akan menumpuk begitu saja sampai entah kapan.

Ketika darah mereka diperiksa dalam sebuah penelitian kesehatan lingkungan, laboratorium menemukan lebih dari dua puluh jenis bahan kimia berbahaya bersarang di tubuh mereka, di mana itu semua merupakan sisa plastik yang mereka geluti setiap hari. Tanpa sarung tangan, tanpa masker, tanpa jaminan kesehatan apa pun jika suatu hari tubuh itu menyerah (TitikTerang, 2026).

Puluhan kilometer dari sana, atau bahkan hanya beberapa gang saja, ada perempuan lain yang membuka aplikasi belanja hampir setiap hari, yang sepertinya jauh lebih sering daripada suami, ayah, atau saudara laki-lakinya (Burhan, 2020). Ia tidak tahu, atau tak sempat tahu, ke mana bubble wrap yang baru saja ia lepas dari paketnya akan berakhir. Baginya, itu hanya sampah kecil, residu kemasan yang akan terangkut petugas kebersihan tiap pagi, lalu selesai sudah urusannya.

Dua perempuan ini tidak pernah bertemu. Tapi mereka terhubungkan oleh satu benda yang sama. Kotak kardus yang berpindah tangan, dari gudang ke pintu rumah, dari tempat sampah ke tempat pembuangan, dari kenyamanan seseorang ke tubuh orang lain.

Perempuan, Pangsa Pasar Algoritma E-Commers

Industri belanja daring hafal betul siapa pelanggan setianya. Perempuan lebih sering kembali ke aplikasi yang sama. Lebih sering menekan tombol checkout untuk hal-hal kecil seperti skincare yang habis, kebutuhan dapur, maupun baju anak yang sudah kekecilan (Burhan 2020).

Notifikasi diskon datang tepat waktu. Seolah algoritma tahu kapan stok sabun cuci di rumah menipis. Kapan si kecil butuh sepatu baru, kapan seorang perempuan sedang lelah dan butuh reward yang membuatnya merasa diperhatikan. Meski hanya lewat paket kiriman.

Riset pasar mencatat bahwa preferensi ini semakin kuat di kalangan perempuan muda. Mereka tumbuh dengan aplikasi belanja sebagai bagian dari rutinitas harian, sama wajarnya dengan membuka pesan singkat (Populix 2023). Ini bukan kebetulan.

Barang-barang yang paling sering masuk keranjang berulang — seperti kecantikan, pakaian, perlengkapan rumah tangga. Adalah kategori yang sejak lama melekat pada peran perempuan. Merawat rumah, merawat tubuh, merawat orang-orang di sekitarnya. Aplikasi belanja tidak menciptakan peran ini. Ia hanya membungkusnya kembali sebagai kemudahan, sebagai hadiah kecil untuk diri sendiri. Self-care satu klik yang bisa terpesan tanpa harus keluar rumah, tanpa harus minta izin siapa pun.

Residu yang Luput dari Perhatian

Setelah membuka paket dan merekam video unboxing, banyak dari kita melupakan hal yang datang setelahnya. “Harus kita apakan residu kemasan ini?” pertanyaan ini jarang terlontar, karena menganggap jawabannya sudah selesai begitu kresek hitam terikat dan kita letakkan di bak sampah rumah.

Penelitian ekonomi menunjukkan bahwa berbelanja daring, untuk nilai belanja yang sama, menghasilkan sampah kemasan jauh lebih banyak daripada berbelanja di toko fisik. Hal ini penyebabnyakarena setiap barang, sekecil apa pun, harus terbungkus, terlapisi, dan dilindungi sendiri-sendiri agar selamat sampai tujuan (Kim, Kang, dan Chun 2022).

Sebuah lipstik yang di toko hanya perlu dimasukkan ke kantong plastik tipis, kini datang terbungkus kardus, bubble wrap, plastik segel, dan selembar nota. Setidaknya, empat lapis untuk satu benda seukuran telapak tangan. Di Indonesia, hampir semua paket belanja daring terbungkus plastik tebal, bubble wrap, dan lakban. Semua itu merupakan bahan yang butuh waktu sangat lama untuk terurai, jika bisa terurai sama sekali (Fundrika 2026).

Walhasil, plastik yang membungkus krim wajah atau baju anak itu tidak menghilang begitu masuk tempat sampah. Limbah-limbah itu berpindah tangan dari dapur, ke bak sampah, ke truk pengangkut. Sampai akhirnya sampai ke tangan seseorang yang pekerjaannya adalah memilah apa yang orang lain buang. Perjalanan sekantong bubble wrap jauh lebih panjang daripada perjalanan barang yang pernah ia bungkus.

Kelas Kedua sang Penadah Limbah

Pekerjaan memilah sampah itu, di Indonesia, sebagian besar dilakukan oleh perempuan dan laki-laki dari kelas pekerja informal. Pemulung dan pemilah yang menopang sebagian besar sistem daur ulang di kota-kota kita, dengan penghasilan yang jauh dari layak (TitikTerang 2026). Mereka bekerja tanpa seragam, tanpa alat pelindung, tanpa hari libur yang jelas. Semakin mereka sedikit hari kerja, semakin sedikit pula sampah yang bisa tertukar dengan uang.

Perempuan di sektor ini biasanya dibayar lebih rendah daripada rekan laki-lakinya, meski jam kerja dan risikonya sama, kadang lebih berat karena harus membagi waktu dengan urusan rumah dan anak.

Dan merekalah, menurut penelitian kesehatan lingkungan, yang membawa residu kemasan kimia plastik dalam tubuhnya setiap hari, karena tidak ada perlindungan kerja yang memadai untuk pekerjaan yang dianggap “tidak butuh keahlian” (TitikTerang 2026). Tidak ada yang mencatat berapa lama tubuh mereka bisa bertahan menyerap apa yang orang lain buang.

Demikianlah bagaimana kedua perempuan dalam ilustrasi di awal esai ini dipertemukan, meski tak pernah saling menyapa. Yang satu berbelanja demi kenyamanan dan perawatan diri. Yang satu lagi menanggung sisa dari kenyamanan itu dengan tubuhnya sendiri. Bukan dua kubu yang berhadapan, dan bukan pula sebab-akibat yang sederhana. Karena keduanya merupakan satu rantai panjang yang saling terhubung secara niscaya. Meski tak satu pun dari mereka pernah memilih untuk terhubung dengan cara ini.

Kesalingan yang Terputus di Tengah Jalan

Dengan berat hati, saya mengakui bahwa saya terlibat dalam rantai ini sebagai penekan setia tombol checkout di aplikasi belanja gawai. Setidaknya satu sampai sekian bekas paket belanja mewarnai kantung sampah rumah saya dalam satu bulan. Artinya, tulisan ini lahir bukan dari luar sistem, melainkan dari dalamnya, sebagai perempuan yang juga menikmati kemudahan yang sama, yang juga baru berani bertanya, “ke mana bungkus belanjaan ini pergi setelah sore itu?”

Prof. Faqihuddin Abdul Kodir, penggagas metode qirā’ah mubādalah, mengajukan satu prinsip pembacaan yang sederhana tapi radikal. Setiap pihak dalam sebuah relasi mestinya diposisikan sekaligus sebagai subjek dan penerima — bukan salah satu menjadi subjek yang bertindak dan menikmati, sementara yang lain menjadi objek yang menanggung (Kodir 2019).

Prinsip ini biasanya terpakai membaca ulang teks-teks yang menempatkan laki-laki sebagai subjek utama dan perempuan sebagai objek pelengkap. Tapi ia sebetulnya berlaku lebih luas — pada setiap relasi yang menyalurkan manfaat ke satu pihak dan risiko ke pihak lain, tanpa keduanya pernah benar-benar berdiri di posisi yang sama.

Rantai belanja daring ini, kalau kita pikir-pikir, adalah kesalingan yang gagal terbentuk sejak awal. Hal ini bisa terjadi, karena sistemnya memang dirancang sedemikian rupa sehingga hanya satu pihak yang pernah diberi posisi sebagai subjek sebagai pemilih, penikmat, yang tidak perlu tahu kelanjutannya.

Pihak yang lain sejak awal sudah terposisikan sebagai penampung akhir, tanpa pernah ditanya, tanpa pernah diberi ruang untuk turut menjadi subjek dalam relasi yang sama. Mubādalah mensyaratkan dua pihak yang sama-sama sadar sedang berelasi dan sama-sama punya posisi tawar untuk turut menentukan bentuk relasi itu. Yang terjadi di sini justru sebaliknya.

Meski kesadaran ini mula-mula datang bersama rasa bersalah, saya mengira akan sangat sulit untuk bertobat secara total dari aplikasi belanja checkout tadi.

Peraturan Presiden tentang Extended Producer Responsibility (EPR)

Yang bisa saya lakukan, dan barangkali bisa kita lakukan bersama, kita awali dengan: memisahkan kardus, bubble wrap, dan plastik segel dari sampah dapur sebelum terikat dan kita buang. Kemasan yang bersih dan terpisah, saya belajar, punya nilai jual lebih tinggi di tangan pemulung dan pemilah dibanding kemasan yang sudah bercampur sisa makanan, yang sering kali berakhir langsung ditumpuk di tempat pembuangan akhir karena dianggap tak lagi layak terpilah.

Begitu pula dengan menyerahkan kardus atau bubble wrap ke bank sampah atau pengepul terdekat. Alih-alih membiarkannya tenggelam dalam kresek hitam yang sama dengan sisa sayur kemarin. Ini bukan solusi. Ini hanya cara sederhana agar tangan yang sudah bekerja memilah tidak perlu bekerja dua kali lebih keras, hanya karena tangan yang membongkar paket tidak sempat memilah lebih dulu.

Tapi kesediaan kecil semacam ini tidak akan pernah cukup jika sistem di atasnya tidak ikut berubah. Pemerintah, lewat Kementerian Lingkungan Hidup, tengah menyiapkan Peraturan Presiden tentang Extended Producer Responsibility (EPR). Sebuah aturan yang akan mewajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah kemasan yang mereka hasilkan, termasuk produk impor yang beredar di pasar domestik, ditargetkan terbit akhir September 2026 (Metro TV News 2026).

Ini kabar baik, tapi juga mendorong pertanyaan, “apakah kewajiban itu akan menjangkau kemasan berlapis-lapis dari sektor e-commerce secara eksplisit, atau hanya menyasar industri manufaktur konvensional seperti sebelumnya?”

Dan yang tak kalah penting, “akankah skema ini menyertakan perlindungan kerja dan jaminan kesehatan bagi perempuan pemulung dan pemilah, yang selama ini menanggung residu kimia dari kemasan itu dengan tubuhnya sendiri, tanpa sarung tangan, tanpa jaminan kesehatan, tanpa nama dalam skema formal apa pun?”

Sebab EPR saat ini masih berbicara soal materialnya yang dipilah, namun belum berbicara soal tubuh yang memilahnya, bukanlah mubādalah. Ia hanya memindahkan beban dari konsumen ke negara, tanpa pernah benar-benar menyentuh pihak yang paling rentan di ujung rantai.

Mungkin cukup dengan kesediaan kita untuk melihat: bahwa tangan yang membongkar bubble wrap di rumah dan tangan yang memilahnya di tempat pembuangan adalah dua tangan perempuan yang selama ini luput saling mengenali. Dua tangan yang semestinya berdiri di tanah yang sama, sebagai subjek yang sama-sama berhak atas hidup yang layak. Wallahu A’lam. []

Daftar Referensi:

Burhan, Fahmi Ahmad. “Riset KIC: Perempuan Lebih Sering Belanja di E-Commerce Ketimbang Pria.” Katadata, 5 Agustus 2020.

Fundrika, Bimo Aria. “Krisis Tersembunyi di Balik Belanja Online: Tanpa Regulasi Jelas, Sampah Kemasan Jadi Bom Waktu.” Suara.com, 28 April 2026.

Kim, Yeonsu, Jisoo Kang, dan Hyunbae Chun. “Is Online Shopping Packaging Waste a Threat to the Environment?” Economics Letters, 214 (2022): 110398.

Kodir, Faqihuddin Abdul. Qira’ah Mubadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam. Yogyakarta: IRCiSoD, 2019.

Metro TV News. “Pemerintah Siap Terbitkan Aturan EPR Akhir September 2026.” Metro TV News, 20 Agustus 2026.

Populix. “Shopee, e-Commerce yang Paling Diandalkan Gen Z dan Milenial Indonesia.” Dipublikasikan melalui Databoks Katadata, Maret 2023.

TitikTerang. “Pemulung: Penopang Daur Ulang Indonesia, Namun Terpapar Racun Plastik Setiap Hari.” TitikTerang, 28 Juni 2026. []

0
mutlu
Mutlu
0
_zg_n
Üzgün
0
sinirli
Sinirli
0
_a_rm_
Şaşırmış
0
vir_sl_
Virüslü
Siapa yang Menanggung Residu Kemasan Checkout Kita?
+ - 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.