Apa yang membuat komunitas santri dan pesantren geram melihat tayangan XPOSE Trans7 yang menampilkan narasi pesantren dan para kiai?
Satu fakta penting, tayangan itu menyesatkan publik dengan framing murahan yang menuduh para kiai menikmati kemewahan dari “amplop” atau pemberian.
Yang lebih aneh dan menyakitkan bagi santri seperti saya, kiai kharismatik KH. Anwar Manshur—pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, kiai sepuh yang dihormati—ikut dicatut dalam pemberitaan dengan visual dan narasi yang menyesatkan, seolah menikmati amplop dan mobil mewah. Ini bukan sekadar kesalahan redaksional, tapi tuduhan moral yang serius terhadap ulama yang sepanjang hidupnya berkhidmah untuk umat.
Narasi seperti itu jelas tidak memiliki dasar faktual. Banyak kiai di Indonesia memiliki usaha pribadi yang sah, ada yang berdagang, bertani, beternak, membuka jasa, atau mengelola usaha di sektor lain. Hasil dari usaha itu justru banyak digunakan untuk menopang kehidupan santri dan operasional pesantren. Namun fakta seperti ini luput dari perhatian media yang lebih gemar menyorot sarung dan mobil kiai ketimbang melihat bagaimana mereka menanggung hidup ratusan santri.
Kemewahan dijadikan bahan sensasi, seolah penampilan lahiriah cukup untuk menghakimi moral seseorang. Padahal di balik itu ada kerja keras, keikhlasan, dan penghormatan santri yang tidak bisa diukur dengan kamera televisi.
Kesalahan Trans 7
Alih-alih menggali realitas sosial pesantren secara utuh, tayangan semacam itu justru memilih jalan pintas yang sensasional. Yang lebih menyedihkan, muncul nada-nada sarkastik dan visual yang merendahkan.
Istilah seperti “ngesot sambil ngasih amplop” atau potongan gambar yang menyorot sarung dan kendaraan pribadi disajikan dengan nada insinuatif.
Framing semacam ini tidak hanya merendahkan, tapi juga membangun imajinasi publik yang keliru: seolah kiai hidup mewah di atas penderitaan santri atau umat. Padahal penilaian seperti itu buta terhadap konteks sosial dan budaya pesantren.
Jurnalisme seharusnya mencari kebenaran, bukan memproduksi kecurigaan. Ketika kritik berubah menjadi penghinaan, media kehilangan nurani.
Tuduhan eksploitasi dan kemewahan yang disematkan kepada para kiai juga tidak berdasar. Tidak ada bukti bahwa amplop yang diterima digunakan untuk gaya hidup pribadi.
Faktanya, sebagian besar pemberian itu dialihkan untuk kepentingan pondok dan umat: pembangunan fasilitas pendidikan, pembayaran honor pengajar, kegiatan sosial kepada masyarakat, dan kebutuhan santri. Kalaupun seorang kiai hidup dengan layak, itu konsekuensi wajar dari kerja keras dan keberkahan pengabdian.
Hidup sederhana bukan berarti harus miskin; kesederhanaan kiai terletak pada niat dan pengabdian, bukan pada apa yang ia kenakan atau kendarai.
Yang sering dilupakan media adalah realitas pengabdian para kiai. Banyak di antara mereka mewakafkan tanah untuk pondok, menanggung biaya hidup santri yatim, bahkan menggratiskan biaya pendidikan bagi yang tidak mampu.
Mereka memberi tanpa pamrih, mengabdikan hidupnya untuk menjaga akhlak dan ilmu. Tetapi kisah-kisah seperti ini jarang muncul di layar kaca—karena tidak menjual sensasi, tidak menghasilkan klik, dan tidak menarik bagi pasar rating.
Lebih keliru lagi ketika pemberian amplop kepada kiai dianggap sebagai simbol pamrih atau eksploitasi. Narasi seperti ini jelas merendahkan nilai-nilai luhur pesantren. Dalam tradisi Islam Nusantara, pemberian kepada kiai adalah bentuk taqarrub, tawadhu’, dan tabarruk—ekspresi cinta dan penghormatan kepada guru yang telah mendidik dengan ilmu dan adab. Mengubah makna luhur itu menjadi tuduhan pamrih adalah bentuk kebodohan budaya sekaligus pelecehan spiritual, orang yang tidak memahami tradisi akan mudah menuduh, sebab ia tak pernah merasakan sendiri kehidupan dalam bimbingan kiai.
Penyebutan nama KH. Anwar Manshur dalam tayangan itu menjadi bukti betapa cerobohnya narasi media. Meski tidak menuduh secara langsung, penyusunan visual dan konteksnya jelas menggiring opini publik.
Beliau bukan sekadar figur karismatik, tapi penjaga warisan keilmuan dan akhlak yang menjadi rujukan ribuan santri. Menyajikan sosok sepuh sekaliber beliau dalam bingkai insinuatif adalah bentuk ketidakhormatan. Bagi kami para santri, itu bukan sekadar kesalahan jurnalistik, melainkan luka batin.
Satu hal yang harus dipahami, pesantren mengajarkan adab sebelum ilmu.
Dan, sudah saatnya media belajar hal yang sama—karena tanpa adab, pengetahuan hanya menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Tanpa penghormatan kepada ulama, bangsa ini akan kehilangan arah spiritualnya.





Comments are closed.