“Mengadu ke pusat” cukup populer di media sosial, terutama di kalangan anak muda. Ibadah ke Mekah atau Madinah, bagi mereka, seperti berkonsultasi atau berkeluhkesah ke Tuhan. Bait-bait lagu “Melangitkanmu” dari Ghea Indrawari adalah buktinya. “Di sumbu bumi yang sesak/ Jiwaku dipeluk/ Jauh aku mencari tempat mengadu/ Padahal Kau dekat denganku” tertulis di sana.
Seminggu terakhir ini, dua kali saya mendapati istilah “Pusat” sebagai pusat perbincangan. Keduanya sama-sama menjadikannya sebagai simbol. Pertama, obrolan sekitar perjuangan tim nasional (Timnas) Indonesia di putaran 4 kualifikasi Indonesia. Kedua, perdebatan di sebuah grup Whatsapp.
Sebelum laga melawan Arab Saudi, “Mengadu ke pusat” menjadi bagian dari banyak obrolan warganet. Diantaranya, di konten video dan foto KH. Miftah Maulana (Gus Miftah) berdoa di depan Ka’bah. “Indonesia menang” pinta beliau. Di tambah, beberapa hari sebelumnya, sebagian pemain tim nasional Indonesia juga menyempatkan diri menunaikan ibadah umrah.
Komentar dan konten repost di kedua video ini pun berseliweran frasa “Mengadu ke pusat.” Harapan para pendukung timnas dan masyarakat Indonesia untuk lolos ke piala dunia pun digantungkan lewat “laporan ke pusat.” Sayangnya, langkah Indonesia harus terhenti akibat dua kekalahan yang diterima timnas Indonesia.
Selain itu, “Pusat” juga menjadi bahan diskusi atau perdebatan para intelektual di sebuah grup Whatsapp. Di antara obrolan di grup tersebut, sepanjang saya simak, “Pusat-Daerah” menjadi tema utama. Sebagian mereka tidak sepakat penggunaan diksi “Daerah” pada para seniman. Diksi tersebut dirasa mendiskreditkan, ketimbang mendeskripsikan.
Bahasan soal “Pusat” di atas boleh saja saling beririsan. Namun, kedua diskursus di atas memiliki dinamika berbeda. Ada banyak hal saling berkelindan, tumpang tindih, hingga tarik-menarik di kedua diskursus. Yuk kita ulik bersama.
***
Dalam kajian sosial, “pusat–pinggiran” bukan sekadar posisi geografis, melainkan struktur relasi kuasa. Ia menjelaskan bagaimana kekayaan, pengetahuan, dan legitimasi mengalir secara timpang dari satu titik ke titik lain. Dalam konsep ini, kita juga berbicara soal resistensi dan pembalikan wacana dari pinggiran, yakni bagaimana yang diabaikan bisa menantang dan mendefinisikan ulang pusat.
Edward Said, akademisi, adalah sosok paling awal saya baca dalam mengenal diskursus “Pusat-Pinggiran.” Dalam kajian poskolonial, Barat yang diasosiasikan sebagai “Pusat produksi pengetahuan,” dan mendefinisikan Timur (baca: koloni-koloni) sebagai “Pinggiran.” Di titik inilah, diskusi para begawan di sebuah grup Whatsapp di atas menjadi relevan.
Struktur sosial di kehidupan masyarakat Indonesia cukup banyak menggunakan istilah “Pusat,” dan disandingkan dengan diksi “Daerah” untuk menyebut wilayah di luar Ibukota atau pulau Jawa. Imaji ini mendapatkan legitimasi di masa Orde Baru, dan akhir-akhir arah kebijakan politik-sosial kita kembali menjadi sentralistik.
“Pusat” berarti tempat kekuasaan, modal, dan legitimasi budaya, sementara daerah diasosiasikan sebagai “pinggiran,” yakni wilayah yang diposisikan sebagai penerima, peniru, atau “tertinggal.” Legitimasi dan pemegang narasi utama dalam ranah sosio-politik ekonomi adalah “Pusat” yang mendefinisikan, mengatur, dan menentukan mana sebagai kebenaran, otentik, atau asli.
Dalam kajian relasi kuasa, relasi “Pusat–pinggiran” tidak hanya bersifat ekonomi, tapi juga wacana dan disiplin. “Pusat” menciptakan sistem pengetahuan, norma, dan kebijakan yang membentuk bagaimana “pinggiran” berpikir tentang dirinya sendiri. Dalam hal seni atau musik, selera kita sebagai masyarakat dibentuk, ditentukan, hingga difabrikasi.
Karena itu, relasi kuasa tidak pernah total. Ia selalu beroperasi melalui jaringan, karena lewat ini ia memproduksi hingga mempertahankan kekuasaannya. Namun, di mana ada kuasa, di situ ada celah, resistensi, dan negosiasi. Di “Pinggiran,” kita akan mendapati negosiasi, perlawanan, penolakan, hingga menciptakan wacana atau narasi tandingan.
***
Kala konten Gus Miftah melintas, saya melempar guyonan ke teman saya. Menurut saya, jika kita mengimajikan ruang sakral hanya berhenti pada tempat belaka, maka doa yang dipanjatkan Gus Miftah malah bisa dibilang terlambat. Bahkan, kita bisa dibilang sudah kalah lebih dahulu dalam berdoa.
Sebab, sebagian besar pemain Arab Saudi bermain di negara mereka sendiri. Mereka bisa dibilang “Warlok (Warga lokal)” atau “Akamsi (Anak kampung sini).” Jadi, mungkin saja doa mereka mungkin sudah dipanjatkan jauh-jauh hari. Ya, ini bisa saja guyonan belaka. Namun, narasi ini bisa menjadi bahan kita untuk merenungi bagaimana relasi kuasa “Pusat-pinggiran” diperbincangkan dalam budaya populer akhir-akhir ini.
“Warlok” mungkin terbilang sarkas. Namun, diksi “Mengadu ke pusat” bisa menjadi populer adalah produksi pengetahuan dan imajinasi masyarakat Muslim hari ini. Dalam tradisi Islam, Mekah-Madinah jelas menjadi ruang sakral, baik dari sisi ajaran hingga sejarah. Dan ini sepertinya menjadi fondasi popularitas diksi “Mengadu ke pusat.”
Namun, ruang sakral dalam bahasa banyak agama, termasuk Islam, tidak selalu diasosiasikan dengan dimensi tempat atau wilayah. Kesakralan juga beririsan dengan relasi kuasa hingga perubahan struktur sosial masyarakat Muslim. Lihat saja, kedua kota suci ini tidak lagi menjadi pusat kajian keislaman. Walaupun, hari ini, ada beberapa wilayah mulai menjadi destinasi para pelajar Muslim menimba ilmu keislaman, seperti Mesir hingga Yaman.
Di sinilah kompleksitas diskusi ini cukup menarik. Sebagaimana dijelaskan di atas, kesakralan dua kota suci jauh lebih kompleks dari sekedar berurusan relasi kuasa atas produksi narasi kesakralan, sebagaimana diskusi soal pusat-pinggiran. Sakralitas dari sisi agama lebih banyak berperan sebagai kohesi sosial. Jadi, ruang-ruang sakral tidak saja bermakna teologis atau agamis. Ruang-ruang sakral menjadi bagian penanda representasi kolektifitas dari identitas.
“Mengadu ke pusat” adalah produk budaya massa warganet. Ia sepertinya hasil kreasi warganet Muslim dari generasi yang disebut oleh Jonathan Haidt, sebagai generasi cemas. “Mengadu ke pusat” atau mendatangi “Sumbu bumi,” sebagaimana digambarkan Ghea di lagunya, adalah ungkapan kecemasan atas kondisi yang dijalani anak-anak muda hari ini.
Kata “Pusat” mungkin saja produksi relasi kuasa yang berkelindan dengan pengetahuan dan ajaran agama terkait kesakralan Mekah-Madinah. Inilah wajah keislaman kita hari ini. Kompleks dan kadang tidak pernah benar-benar dipahami. Diskursus soal “Pusat” beririsan dengan kesakralan Mekah-Madinah saja jelas lebih kompleks ketimbang konstruksi pengetahuan soal “Pusat-pinggiran.”
Selain simbol representasi kolektif, dalam diskursus selalu ada ajaran kitab suci, sejarah agama itu sendiri, bingkai pengetahuan yang terbangun, hingga narasi yang tumbuh di kalangan pemeluk agama itu sendiri saling mendukung, bernegosiasi, bertubrukan, hingga tarik-menarik. Begitulah Islam kita hari ini.





Comments are closed.