Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Membaca Ulang Narasi Feodalisme di Pesantren: Pesan untuk Trans7

Membaca Ulang Narasi Feodalisme di Pesantren: Pesan untuk Trans7

membaca-ulang-narasi-feodalisme-di-pesantren:-pesan-untuk-trans7
Membaca Ulang Narasi Feodalisme di Pesantren: Pesan untuk Trans7
service

Mubadalah.id – Pada hari Senin sore (13/10/2025), salah satu media pemberitaan nasional Trans7, menghebohkan publik dengan penyiaran tayangan yang menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Tayangan dalam acara Xpose Uncensored tersebut mengangkat judul yang kita anggap provokatif. “Santrinya minum susu saja kudu jongkok, memang gini kehidupan pondok?”

Tayangan tersebut bukan hanya menyederhanakan realitas kompleks pesantren, tetapi juga berpotensi menciptakan stigma terhadap institusi pendidikan Islam yang telah berkontribusi besar bagi bangsa ini. Bersamaan dengan siaran Trans7 ini, narasi feodalisme di pesantren kembali mencuat. Namun, apa benar pesantren menganut sistem feodal untuk melanggengkan kuasanya di tengah-tengah masyarakat?

Tahqiqul Manat: Apakah Benar Ini Feodalisme di Pesantren?

Feodalisme adalah sistem sosial-ekonomi Eropa abad pertengahan yang tertandai dengan kepemilikan tanah oleh tuan tanah. Lalu adanya hirarki kelas yang kaku, dan eksploitasi kaum jelata yang tidak memiliki kemampuan sosial. Pada konteks modern, istilah feodalisme terpakai untuk menggambarkan sistem hirarki yang menindas. Dalam sistem feodal, posisi sesesorang di masyarakat ditentukan sejak lahir dan sulit untuk kita ubah.

Sementara pesantren sama sekali berbeda. Hubungan kiai dengan santri adalah relasi antara guru dengan murid yang berlandaskan pada pencarian ilmu dan berkah. Bukan majikan dan hamba. Apa yang Trans7 narasikan dalam siarannya adalah adab seorang murid kepada guru.

Jika adab kita analogikan sebagai bentuk feodal, maka seharusnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib lebih feodal, sebagaimana yang beliau katakan,

 أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق

Artinya: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya

Ketaatan santri kepada kiai sering kita salahpahami sebagai “penindasan”. Padahal, ini adalah bagian dari adab menuntut ilmu dalam tradisi Islam yang menekankan ta’dzim (penghormatan) kepada guru. Sebagaimana perkataan Sayyidina Ali di atas.

Perbedaan Feodalisme dengan Kultur Pesantren

Dalam beberapa hadis Nabi saw, juga mengisahkan bentuk penghormatan para sahabat, yang terlihat ekstrem di masa sekarang. Riwayat hadis dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam, bahwasannya Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi berkata,

واللَّهِ إنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أصْحَابُهُ ما يُعَظِّمُ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحَمَّدًا؛ واللَّهِ إنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إلَّا وقَعَتْ في كَفِّ رَجُلٍ منهمْ، فَدَلَكَ بهَا وجْهَهُ وجِلْدَهُ، وإذَا أمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أمْرَهُ، وإذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ علَى وَضُوئِهِ، وإذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وما يُحِدُّونَ إلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا له

Artinya: “Demi Allah, tidak pernah aku melihat raja yang diagungkan sebagaimana pengagungan para sahabat Nabi kepada Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meludah, kecuali pasti akan jatuh di telapak tangan salah seorang dari sahabatnya, kemudian orang itu pun menggosokkan ludah Nabi kepada wajah dan kulitnya. Dan bila Nabi memberi suatu perintah kepada mereka, mereka pun bergegas melaksanakan perintah Beliau. Dan apabila Beliau hendak berwudhu’, para sahabat hampir berkelahi karena berebut sisa wudhu Nabi. Bila Nabi berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Nabi. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan kepada Nabi, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi” (HR. Al-Bukhari no.2731).

Apa yang dilakukan oleh para sahabat tersebut bukanlah bentuk ketaatan yang lahir dari ketakutan, melainkan ekspresi cinta dan kasihnya pada Nabi saw. Ada garis perbedaan yang tegas antara feodalisme dengan kultur pesantren, bahwa karakteristik feodal bersifat anti kritik dan otoriter. Sedangkan kultur pesantren tetap mengedepankan musyawarah dengan tetap memperhatikan etika-etika yang diajarkan dalam khazanah keislaman.

Selain itu, kerja bakti santri, yang sering terstigmasebagai bukti eksploitasi, sejatinya adalah bagian dari pendidikan karakter, berupa kemandirian, kerja keras, dan kesederhanaan.

Tabayun Sebagai Etika Jurnalisme Islam

Islam mengajarkan beberapa prinsip dalam melakukan pemberitaan, salah satunya adalah prinsip tabayun, sebagaimana penjelasan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Quraish Shihab menafsirkan ayat di atas bahwa informasi  yang belum terverifikasi dapat menciptakan perilaku seseorang yang kehilangan kontrol diri, sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar. Baik atas dorongan nafsu, kepentingan sementara, maupun kepicikan pandangan.

Ayat tersebut juga berpesan kepada para pihak penyebar informasi untuk lebih jujur, dan berintegritas terhadap apa yang tersampaikan, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dan kebencian di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, Trans7 sebagai salah satu media jurnalistik terbesar, tidak boleh melakukan tadlis/ menyembunyikan cacat atau konteks penting dari berita. Framing pesantren dengan narasi negatif tanpa menampilkan sisi positifnya adalah bentuk ketidakjujuran editorial.

Refleksi Bersama

Pesantren memang tidak sempurna. Ada beberapa praktik tertentu yang perlu kita evaluasi dan dimodernisasi, sesuai dengan tuntutan zaman. Kendati demikian, kritik yang tersampaikan tentu harus proporsional. Berbasis fakta, dan tidak melakukan generalisasi hanya berdasarkan segelintir kasus saja.

Sebaliknya, dunia pesantren juga perlu meningkatkan literasi media dan transparansi. Komunikasi publik yang baik akan membantu masyarakat memahami nilai dan sistem yang dianut pesantren. Media dan pesantren seharusnya berkolaborasi untuk pendidikan yang lebih baik. Bukan dengan saling menyerang melalui narasi yang menyesatkan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.