Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal”

Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal”

alkitab-sedikit-menceritakan-masa-kecil-yesus,-tapi-umat-kristen-abad-pertengahan-menikmati-kisah-yang-menggambarkannya-sebagai-sosok-suci-yang-“nakal”
Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal”
service

Adegan kelahiran Yesus Kristus (Manger scenes) yang ramai dalam waktu Natal biasanya digambarkan dengan kehadiran lembu dan keledai di samping bayi Yesus. Menurut Injil Lukas, saat itu tidak ada ruangan yang tersedia untuk Bunda Maria dan bayi Yesus. Akhirnya Bunda Maria membaringkan bayinya di bak beralas jerami.

Kehadiran lembu dan keledai dalam adegan ini sebenarnya bukan sekadar sebagai pengasuh. Kehadiran ini bisa merujuk pada kitab Yesaya 1:3 yang ditafsirkan oleh umat Kristen awal sebagai nubuat kelahiran kristus.

Dalam sejumlah karya seni awal, lembu dan keledai kerap digambarkan berlutut untuk menunjukkan bentuk penghormatan. Gestur ini merupakan sebuah pengakuan bahwa bayi yang dibedong dan lahir di dunia dengan kesederhanaan tersebut merupakan sosok Tuhan.

Injil-injil kanonik dalam Perjanjian Baru sebenarnya tidak menceritakan kehadiran hewan-hewan yang menyambut kelahiran Yesus seperti gambaran sebelumnya. Akan tetapi, karya seni sejak abad keempat memperlihatkan hal ini.

Teks apokrif—cerita-cerita Kristen kuno yang tidak masuk dalam kanon Alkitab, juga memopulerkan penggambaran tersebut. Contohnya Injil Pseudo-Matius, yang kemungkinan besar ditulis oleh seorang rahib anonim pada abad ketujuh. Injil ini banyak mengisahkan masa anak-anak Yesus.

Setelah membahas kelahiran, Alkitab hampir sepenuhnya tidak membahas mengenai masa kecil Yesus. Walaupun begitu, kisah masa-masa awal Yesus tetap menyebar luas pada abad pertengahan.

Hal inilah yang menjadi fokus dalam buku saya pada 2017. Meskipun kisah mengenai lembu dan keledai cukup populer di kalangan umat Kristen, saat ini sangat sedikit yang menyadari bahwa masih ada kisah-kisah mengejutkan lainnya yang diwariskan oleh teks apokrif.

Pembuat mukjizat

Lukisan berlatar dengan bingkai emas menggambarkan seorang pria dan perempuan yang tengah berbicara dengan seorang anak yang kedua tangannya disilangkan. Terdapat sebuah _nimbus_ yakni sebuah lingkaran cahaya pada kepala ketiga sosok tersebut

Lukisan Christ Discovered in the Temple karya Simone Martini(1342). Google Cultural Institute/Walker Art Gallery via Wikimedia Commons

Alkitab hanya memuat satu kisah terkenal dari masa remaja Yesus. Kisah tersebut menggambarkan Yesus yang berusia 12 tahun dan tertinggal di Bait Suci di Yerusalem tanpa diketahui orang tuanya.

Setelah mencari dengan cemas, mereka menemukan Yesus tengah berbincang dengan para pengajar agama. Di sana, Yesus terlihat mengajukan beberapa pertanyaan dan mengejutkan para pengajar agama dengan jawaban-jawaban yang kemudian keluar dari dirinya sendiri.

Dalam lukisan abad ke-14 karya Simone Martini berjudul Christ Discovered in the Temple, Yesus digambarkan berdiri dengan tangan yang menyilang di depan orang tuanya. Yesus terlihat sebagai anak muda keras kepala yang tidak merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya cemas berhari-hari.

Teks apokrif, sementara itu, mengisahkan masa kecil Yesus yang lain. Misalnya cerita mengenai tahun-tahun ketika Yesus masih kecil yang terdapat pada Injil apokrif Pseudo-Matius. Injil tersebut mengambil materinya dari injil apokrif yang lebih awal seperti Injil Kanak-Kanak Thomas.

Seperti kisah bait suci, Injil apokrif mengisahkan Yesus sebagai anak yang kadang menyulitkan tetapi memiliki kebijaksanaan yang mengagumkan. Bahkan, kebijaksanaan tersebut kadang sampai menyinggung calon gurunya.

Dengan lebih dramatis, cerita dalam teks apokrif ini juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil yang telah menunjukkan kuasa ilahi sejak usia dini.

Sebuah ilustrasi kecil berwarna-warni dengan latar belakang emas menunjukkan dua orang dewasa dan seorang anak yang memiliki _nimbus_ sedang menatap ke dalam gua yang berisi naga-naga kecil berwarna biru dan hijau

Sebuah manuskrip Italia abad ke-14 memperlihatkan Yesus menepis naga untuk melindungi orangtuanya. © Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, CC BY-NC

Sama seperti kisah Yesus dewasa dalam Injil Perjanjian Baru, teks apokrif menggambarkan Yesus anak-anak sering melakukan keajaiban untuk menolong orang-orang yang membutuhkan.

Sebagai contoh, Injil Matius mengisahkan Bunda Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Mesir. Tindakan ini dilakukan setelah malaikat memberitahu bahwa Herodes, raja dari Judea, akan membunuh bayi tersebut.

Injil Pseudo-Matius kemudian menceritakan, saat Yesus belum berusia dua tahun, dengan berani ia berdiri dengan kakinya sebelum naga-naga keluar dari sebuah gua tempat keluarganya berhenti untuk istirahat.

Naga-naga yang mengerikan itu kemudian malah menyembahnya dan memutuskan untuk pergi. Sementara itu, Yesus meyakinkan orang-orang di sekelilingnya, bahwa ia adalah “manusia sempurna” yang bisa “menaklukan segala jenis binatang buas”.

Yesus kemudian memerintahkan pohon kurma untuk merunduk agar Bunda Maria yang kelelahan dapat memetik buahnya. Selain itu, secara ajaib Yesus juga memperpendek perjalanan mereka saat berada di padang pasir.

Sebenarnya, terkadang dalam kisah-kisah ini Yesus justru dipersalahkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Misalnya, pengggambaran dalam panel keramik Tring Tiles sejak abad ke-14. Panel yang berada di British Museum tersebut menggambarkan teman Yesus yang sedang ditahan oleh ayahnya di sebuah menara. Yesus berupaya menarik temannya keluar melalui sebuah celah kecil layaknya seorang ksatria abad pertengahan ketika menyelamatkan perempuan dari bahaya.

Ayah dari teman Yesus rupanya berusaha untuk menghindarkan putranya dari pengaruh Yesus. Sikap ini sebenarnya sangat dapat dipahami, mengingat banyak kisah menceritakan bagaimana Yesus menyebabkan kematian bagi teman-teman atau anak-anak lain di sekitar yang menyinggung perasaannya.

Dalam kisah lainnya, yang dinamai oleh seorang peneliti sebagai “kematian akibat senggolan”, mengisahkan bahwa seorang anak laki-laki menabrak Yesus. Hal itu membuat Yesus mengutuk anak tersebut hingga si anak meninggal di tempat. Setelah itu, Yesus menghidupkan kembali anak tersebut karena mendapat teguran singkat dari Yusuf.

Sebuah ubin berwarna merah atau cokelat dengan ukiran yang lebih terang. Terdapat adegan seorang laki-laki berdiri di samping sebuah menara tempat seorang anak berdiri di atasnya. Anak itu kemudian keluar dari menara sementara sosok lain dengan _nimbus_ mengamati

Salah satu keramik dekoratif Tring yang dibuat pada abad ke-14. Keramik ini menampilkan Yesus yang menolong temannya keluar dari sebuah menara. © The Trustees of the British Museum, CC BY-NC-SA

Dalam kisah lain yang terdapat lewat manuskrip bergambar dalam narasi Anglo-Norman, Yesus diceritakan melepas jubah dan meletakan jubah tersebut di atas sinar matahari.

Yesus kemudian duduk di atasnya dan membuat anak-anak lain yang melihatnya, “berpikir ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, anak-anak tersebut terlalu terburu-buru. Mereka akhirnya terjatuh bersamaan. Satu persatu dari mereka melompat terlalu cepat ke atas sinar matahari dan mereka pun akhirnya berakhir buruk. Satu persatu dari leher mereka kemudian patah.”

Yesus kemudian mengobati anak-anak tersebut atas permintaan dari orang tuanya.

Yusuf kemudian mengakui kepada tetangga bahwa Yesus “memang terlalu liar”. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengirim Yesus untuk pergi. Yesus yang berusia tujuh tahun kemudian menjadi murid seorang ahli pewarna kain.

Ahli tersebut memberikannya petunjuk terperinci soal pewarnaan tiga kain di tiga wadah yang berbeda. Namun, saat gurunya pergi, Yesus mengabaikan perintahnya dan melempar semua kain kedalam satu wadah yang sama. Meski begitu, Yesus tetap berhasil mencapai hasil yang diinginkan.

Ketika sang guru kembali, ia sempat berfikir dirinya “dirusak oleh anak kecil nakal ini”. Namun, ia kemudian tersadar bahwa sebuah keajaiban telah terjadi.

Sebuah ilutrasi dengan latar belakang berwarna merah menggambarkan beberapa anak laki-laki menggunakan tunik sedang bermain di atas bangunan besar berbentuk seluncuran

Yesus duduk di atas sinar matahari, sementara anak laki-laki lain berusaha untuk melakukan hal yang sama. Terdapat dalam miniature dari manuskrip Seldren Supra 28 yang dibuat pada awal abad ke-14. © Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, CC BY-NC-SA

Ikatan dengan hewan

Legenda-legenda apokrif juga menunjukkan bagaimana Yesus yang masih anak-anak memiliki kuasa atas dunia hewan.

Misalnya, ketika Yesus memasuki gua singa yang amat ditakuti. Di gua itu, “anak-anak singa berlarian di kakinya, membelai, dan bermain dengannya. Sementara itu “singa-singa dewasa berdiri dari kejauhan dan menyembahnya, mereka mengibas-ngibaskan ekor di hadapan Yesus”.

Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyaksikan, bahwa binatang-binatang tersebut lebih baik daripada mereka. Hewan-hewan ini lebih baik karena mereka “mengenali dan memuliakan Tuhan mereka”

Kisah-kisah ini memang menggambarkan Yesus sebagai anak yang agak angkuh. Menyadari akan keilahian-Nya, Yesus tidak senang diperlakukan hanya sebagai anak biasa saja.

Namun, pada saat yang bersamaan, kisah-kisah tersebut juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil sungguhan yang senang bermain. Yesus kecil tampak keanak-anakan dengan caranya yang kerap bertindak spontan serta tidak terlalu memedulikan nasihat orang-orang yang lebih tua.

Sebuah ilimunasi menampilkan segerombol singa menatap seorang anak laki-laki dengan _nimbus_ yang sedang membelai anak singa di luar gua

Manuskrip abad ke-14, the Klosterneuburger Evangelienwerk menunjukkan Yesus kecil bermain dengan singa. Perpustakaan Kota Schaffhausen via Wikimedia Commons

Kedekatan Yesus pada hewan juga membuatnya tampak keanak-anakan. Menariknya, hewan-hewan di teks-teks apokrif juga dimulai dengan kehadiran lembu dan keledai yang menyadari bahwa Yesus bukanlah anak kecil biasa. Mereka menyadari hal ini bahkan sebelum tokoh manusia menyadarinya.

Sebenarnya, terdapat sisipan licik pada legenda-legenda yang hadir terkait hubungan Yesus dan hewan ini. Legenda ini menyiratkan bahwa banyak orang Yahudi di sekitar Yesus tidak sepeka hewan-hewan di sekitarnya.

Narasi ini merupakan bagian dari produk antisemitisme yang meluas di Eropa abad pertengahan. Dalam sebuah khotbah pada abad ke-5, Quodvultdeus, Uskup Kartago, mempertanyakan kenapa pengakuan hewan-hewan terhadap Yesus saat ia bebaring di bak jerami tidak menjadi tanda-tanda yang cukup bagi orang-orang Yahudi.

Ilustasi dari manuskrip yang memudar menunjukkan seorang anak laki-laki yang sama tengah mengambil air, menyalakan api, dan bekerja di meja. Sementara itu, seorang pria dan wanita mengamati.

Buku gambar Alkitab Holkham abad ke-14 menggambarkan Yesus melakukan tugas-tugas domestik di rumah (London, British Library, tambahan MS 47682, fol. 18). Courtesy British Library

Dalam Alkitab pun, Yesus diceritakan melakukan mukjizat pertamanya sebagai orang dewasa dalam sebuah pesta pernikahan di Kana. Meskipun begitu, kisah-kisah apokrif menghadirkan gagasan bahwa sosok Tuhan yang menjelma menjadi manusia ini sudah menunjukkan kuasanya sejak dini.

Legenda-legenda ini menyiratkan, bahwa sifat keanak-anakan Kristus mendistraksi banyak orang di sekelilingnya. Hal tersebut membuat mereka tidak menyimpulkan bahwa Kritstus merupakan Sang Mesiah.

Di satu sisi, hal ini membuat teks-teks apokrif menjadi tidak bertentangan dengan referensi Alkitab yang menyebut Yesus sebagai “anak tukang kayu” saja, sesuatu yang berkebalikan dari seorang anak yang berkmukjizat.

Setiap Natal, umat Kristen modern di dunia Barat merayakan kelahiran Yesus. Namun, di tengah-tengah perayaan tersebut, dengan cepatnya mereka melupakan tema tentang Yesus sebagai anak-anak.

Sebaliknya, umat Kristen di abad pertengahan terpersona oleh kisah-kisah tentang Sang Anak Allah yang tumbuh dewasa.

Meskipun berperan sebagai penjinak naga, tabib, maupun pesulap, sebagian besar peran Yesus dalam teks-teks apokrif ini seakan tak menonjol, karena keilahian Yesus seperti diselimuti dengan sifat-sifat keanak-anakan ala “anak nakal”.

Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.