● Arsenal akhirnya kembali menjadi kampiun Liga Primer Inggris setelah puasa gelar 22 tahun.
● Beberapa tahun terakhir, klub London utara ini telah menghabiskan triliunan rupiah untuk belanja pemain.
● Selain urusan teknis, ada faktor tak kasat mata yang juga memiliki andil besar dalam kesuksesan ini.
Setelah menanti selama 22 tahun, klub sepakbola asal London, Arsenal, akhirnya kembali menempati tahta tertinggi sepak bola Inggris—mengakhiri salah satu paceklik gelar terpanjang dalam sejarah modern klub.
Di era dominasi klub-klub yang didukung miliarder dengan anggaran transfer pemain yang sangat besar, kebangkitan Arsenal layak mendapat perhatian.
Kesuksesan klub berjuluk Meriam London ini berasal dari kombinasi teknis pelatih, susunan pemain, dan kebijakan belanja klub. Dukungan kekuatan finansial yang besar memang fundamental di era sepak bola modern saat ini.
Namun selain taktik dan bakat, kesuksesan Arsenal juga datang dari filosofi mereka yaitu membangun kembali melalui budaya, identitas kolektif, dan kohesi internal yang kuat.
Bagaimana peran faktor-faktor tak kasat mata (intangible) tersebut efektif memupuk persatuan, kepercayaan, dan kinerja kolektif dalam tim olahraga seperti Arsenal?
Read more: Arsenal rawan kecele empat kali beruntun: Keteguhan mental tim adalah kunci
Kepercayaan penuh kepada manajer
Sikap manajemen klub yang memberikan kuasa penuh terhadap sang manajer Mikel Arteta perlu mendapat apresiasi. Manajer atau pelatih klub lain sudah pasti terdepak jika puasa gelar hingga enam tahun seperti Arteta.
José Mourinho dipecat Tottenham hanya beberapa hari sebelum final Carabao Cup. Bahkan Thomas Tuchel dan Antonio Conte juga pernah kehilangan jabatan meski punya reputasi besar, karena hasil kinerja mereka dianggap tidak cukup memenuhi ekspektasi klub.
Sejak beberapa tahun terakhir masa kepelatihan Mikel Arteta, Arsenal tak lagi pelit menggelontorkan uang transfer untuk membeli pemain bintang seperti Kai Haverts, Declan Rice, hingga Victor Gyökeres.

Jajaran asistennya pun diisi nama-nama beken seperti Gabriel Heinze (mantan bek Manchester United) yang mengisi pelatih pertahanan. Ada juga Nicholas Jover yang didapuk sebagai pelatih bola mati. Tak ketinggalan, Arsenal merekrut Andrea Berta sebagai direktur olahraga yang juga berperan penting dalam perekrutan pemain bintang.
Jika dilihat dari sudut pandang manajemen, ketika modal teknis dan finansial besar sudah tercapai, racikan manajer dalam hal-hal nonteknislah yang jadi faktor penting kesuksesan.
Sejak awal melatih, Arteta sudah menegaskan bahwa harmoni dan kesatuan tim adalah dasar filosofinya.
Di bawah asuhannya, klub berjalan dengan sangat mengedepankan kekompakan tim. Sang manajer bahkan tak segan mengeluarkan pemain berego tinggi yang dinilainya bisa merusak keharmonisan tim.
“Ini tentang budaya. Kamu harus mempersiapkan tanahnya sedemikian rupa sehingga siapa pun yang ingin berkembang memahami lingkungannya, apa yang kami harapkan, dan standar yang kami tetapkan,” ungkap Mikel Arteta dalam salah satu wawancara.
Iman sebagai pemersatu tim
Dasar filosofi tersebut telah berkembang menjadi kebebasan berekpresi keimanan para pemain Arsenal. Iman bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan untuk kepentingan tim.
Mikel Arteta mengakui peran positif yang dapat dimainkan oleh persaudaraan iman dalam skuad.
“Saya menyukainya karena saya pikir itu lebih membuat mereka terhubung satu sama lain. Beberapa dari mereka memiliki keyakinan yang sama, atau keyakinan yang kuat, dan itu membantu kesejahteraan mereka, sisi mental, dan apa yang dibawanya bagi mereka sebagai manusia. Saya pikir itu fenomenal.”
Bukayo Saka sering berbicara tentang membaca Alkitab dan mempercayai Tuhan sepanjang kariernya, terutama selama momen-momen sulit di bawah pengawasan publik yang intens. Penyerang Brasil Gabriel Jesus juga secara terbuka mengungkapkan iman Kristennya melalui wawancara dan unggahan media sosial.
Sementara itu, Jurrien Timber, yang dijuluki “Pastor Timber” oleh beberapa penggemar Arsenal, teratur membagikan ayat-ayat Alkitab secara online dan dilaporkan memimpin rekan satu tim dalam doa sebelum pertandingan.
Noni Madueke, yang baru-baru ini bergabung dengan Arsenal dari rival sekota Chelsea pada tahun 2025, juga menjelaskan bagaimana iman membantu memperkuat persatuan dalam skuad Arsenal.
Ia menyebut praktik-praktik ini menciptakan rasa kedekatan dan keyakinan di antara para pemain. Yang terpenting adalah pertemuan-pertemuan ini bukan hanya tentang doa, tetapi juga tentang memeriksa keadaan rekan satu tim secara pribadi, membahas tantangan hidup dan saling mendukung secara emosional.
Read more: Keputusan Jürgen Klopp tinggalkan Liverpool tandai era baru ‘wellbeing’ dalam sepakbola
Kesatuan tim yang membantah sugesti takhayul
Hubungan antara iman terhadap performa tidak seharusnya dipahami sebagai takhayul belaka. Dalam lingkungan olahraga yang penuh tekanan—saat keharmonisan ruang ganti, pengendalian emosi, dan pengorbanan kolektif sangat penting—bentuk-bentuk kohesi sosial ini dapat menjadi faktor penentu.
Perspektif ini selaras dengan teori identitas sosial, yang menyatakan bahwa individu memperoleh identitas kolektif mereka dari kelompok tempat mereka berada. Dalam skuad sepak bola multikultural seperti Arsenal, keyakinan bersama dapat berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat kohesi tim.
Ketika pemain menganggap diri mereka sebagai bagian dari kolektif yang bermakna dengan nilai dan kepercayaan yang sama, mereka seringkali lebih bersedia untuk bekerja sama, mengorbankan kepentingan individu, dan bekerja menuju tujuan bersama.

Praktik berbasis agama juga dapat berkontribusi pada apa yang oleh para ahli organisasi digambarkan sebagai ketahanan kolektif, yaitu kemampuan kelompok untuk tetap bersatu secara psikologis dan termotivasi di bawah tekanan.
Lingkungan sepak bola profesional ditandai dengan pengawasan konstan, kritik, cedera, dan kecemasan performa. Rutinitas spiritual bersama dan jaringan dukungan dapat memberikan stabilitas emosional selama periode sulit.
Kisah Arsenal menawarkan pelajaran berharga di luar sepak bola: organisasi berkinerja tinggi tak dibangun hanya berdasarkan bakat tapi juga keyakinan dan nilai yang dibagi bersama.
Yang sering membedakan tim pemenang dari tim gagal adalah kemampuan untuk menumbuhkan budaya di antara orang-orang terkait agar merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Ini dapat terjadi baik melalui nilai-nilai bersama, ritual, atau identitas kolektif yang kuat.
Prestasi Arsenal menjadi kampiun liga Inggris tahun ini adalah buktinya.



Comments are closed.