Jakarta, NU Online
Serangan militer Israel masih terus menyasar berbagai wilayah di Jalur Gaza, meskipun kesepakatan pelucutan senjata telah diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (31/7/2026) lalu.
WAFA News melaporkan bahwa eskalasi kekerasan terbaru kembali memakan korban jiwa. Sedikitnya tujuh warga Palestina dilaporkan tewas terbunuh termasuk dua anak-anak dan seorang wanita, sementara belasan lainnya mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan udara yang diluncurkan militer Israel di beberapa titik strategis Jalur Gaza, Ahad (2/8/2026).
Salah satu insiden juga terjadi di wilayah barat Kota Gaza. Sumber medis mengonfirmasi bahwa serangan Israel menghantam sebuah apartemen pemukiman di Menara al-Sousi yang terletak di area Pelabuhan di wilayah barat Kota Gaza. Hantaman tersebut menewaskan dua warga Palestina, salah satunya merupakan anak-anak, serta melukai sejumlah penghuni bangunan lainnya.
Gempuran udara juga dilaporkan telah menyasar wilayah tengah Jalur Gaza. Di area al-Masha’la, sebelah selatan Deir al-Balah, serangan udara terhadap sebuah rumah warga menewaskan dua orang, termasuk seorang wanita, dan menyebabkan korban luka berat.
Sementara itu di kawasan al-Mawasi, al-Qarara, sebelah barat daya Khan Younis, jet tempur Israel membombardir apartemen milik keluarga al-Hams. Tiga orang tewas dalam serangan tersebut termasuk seorang anak-anak.
Dalam laporan terpisah, tentara Israel menewaskan sedikitnya lima warga Palestina melalui pengeboman yang beruntun. Pengeboman artileri serta serangan dari udara menyasar kawasan pemukiman warga di wilayah utara dan tengah Gaza.
Melansir Al-Jazeera Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa kembali menjadi sasaran serangan. Dr. Khalil Al-Daqran, salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut, mengonfirmasi bahwa pihak pendudukan menargetkan fasilitas penyimpanan logistik kesehatan.
“Pihak pendudukan malam ini menargetkan gudang penyimpanan perlengkapan medis,” ungkapnya dikutip dari siaran langsung Al Jazeera, Ahad (2/8/2026).
Dampak serangan juga menjangkau area penampungan warga yang mengungsi. Fatima Sharab, seorang pengungsi Palestina, memberikan kesaksian mengenai mencekamnya situasi saat ledakan terjadi.
”Mereka mengebom, dan serpihannya mengenai area kamp, bukan hanya satu tenda,” tutur Fatima.
Ia menjelaskan bahwa area yang diserang merupakan tempat perlindungan bagi warga sipil dalam kondisi yang sangat rentan.
“Padahal kamp ini berisikan tenda-tenda yang aman. Di dalamnya ada orang-orang sakit dan warga yang berada dalam kondisi sangat tragis. Terlebih lagi, lokasi ini berada tepat di dalam area rumah sakit,” lanjutnya.
Selain ancaman serangan langsung, warga Gaza juga berhadapan dengan bahaya sisa amunisi militer dan bahan peledak yang belum meledak (unexploded ordnance) di pemukiman serta sekitar fasilitas umum.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa proses pembersihan sisa-sisa bahan peledak berbahaya di Jalur Gaza membutuhkan waktu hingga lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut kian mempersulit ruang gerak warga sipil yang berusaha mencari tempat berlindung. Banyak keluarga terpaksa berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain yang sebenarnya juga tidak terjamin keamanannya dari potensi gempuran susulan.
Rangkaian serangan ini memperpanjang krisis kemanusiaan di Palestina. WAFA News (https://english.wafa.ps/Pages/Details/173121) telah merilis berita bahwa otoritas kesehatan dan sumber medis di Gaza mengonfirmasi total akumulasi korban tewas akibat operasi militer Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai angka 73.356 jiwa. Sementara itu, jumlah korban luka-luka dilaporkan telah melebihi 174.000 orang sejak awal konflik.
Pihak medis menekankan bahwa angka tersebut mencakup korban yang berhasil dievakuasi dan diverifikasi di fasilitas kesehatan. Ribuan korban lainnya diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan hancur atau berada di area jalan yang sulit dijangkau.
Petugas medis dan tim Pertahanan Sipil (Civil Defense) terus menghadapi hambatan besar saat berupaya melakukan evakuasi akibat keterbatasan peralatan dan risiko serangan yang masih berlangsung di lokasi kejadian, sebagaimana dilaporkan oleh WAFA.





Comments are closed.