Setelah pertandingan itu, semua mata tertuju pada satu sosok legenda: Cristiano Ronaldo. Air matanya meleleh. Wajahnya mengguratkan kesedihan yang teramat dalam. Stadion bergemuruh entah penghormatan atau cemoohan. Hampir semua kamera tak menyorot sudut lain selain wajah sedih yang berlinang air mata itu.
Anda boleh menjadi pembencinta atau pecintanya. Anda bebas menentukan kata hati: Bahagia atau bersedih atas kekalahannya. Dengan kebebasan inilah saya menulis artikel ini.
Jika pembenci Ronaldo selalu mengambil posisi memuji Lionel Messi dan terus menerus membangun narasi permusuhan di antara kedua pemain tersebut, berulang kali mereka membantahnya.
Mereka saling menghormati dalam kisah kompetisi sebuah liga sepak bola. Bahkan, saking bernafsunya ingin membuat mereka “bermusuhan”, mereka terpisah dalam jarak ribuan kilometer di dalam dua kompetisi yang saling tak bersentuhan pun, cinta permusuhan ini terus menerus menambah bumbu seolah-olah betul-betul ada permusuhan di antara dua pemain besar ini.
Sementara kedua bintang ini tetap menampilkan keajaiban demi keajaiban dari lapangan bola dengan sikap hormat yang sama, para pembenci dan pecintalah yang justru terjebak dalam permusuhan yang absurd.
Sejak awal saya mengagumi Ronaldo. Bukan semata-mata karena seni permainan dan sentuhan bolanya yang ajaib. Saya tidak pernah memiliki kebencian setitik pun terhadap Messi. Saya sangat menikmati tarian-tariannya di lapangan bola. Dengan hati jernih, seharusnya tak akan ada orang yang mengakui kehebatan dan rekor-rekor Messi.
Hati saya lebih tersentuh dengan Ronaldo karena hal-hal yang berada di luar area permainan bola. Inilah orang yang masa kecilnya tidur dalam kelaparan. Andai tak ada pelayan toko yang memberikan sisa-sisa roti untuk makan, dia mungkin akan tidur dengan menahan lapar hingga pagi.
Dia lahir dari keluarga yang bahkan membelikan sepatu bola anaknya saja tidak bisa. Ronaldo kecil hidup dengan ayah pemabuk. Andai tak ada ibu yang sangat menyayanginya, mungkin dia hanyalah debuh jalanan Madeira, Portugal.
Dia tak memiliki bakat sepakbola alami seperti Messi. Jika dia memiliki kemampuan menendang bola, itu adalah kemampuan umum yang dimiliki anak-anak sebayanya. Yang membedakannya adalah dia punya mimpi, dan dia melakukan di luar batas kemampuannya untuk mewujudkan mimpinya itu.
Dia orang paling awal berada di tempat latihan. Dia juga orang paling akhir yang pulang dari tempat latihan. Dia menjaga pola hidupnya tanpa ada pengawas yang harus memarahinya.
Anak kecil yang meminta sisa roti kepada pelayan itulah yang akhirnya berubah menjadi bintang sepak bola. Di seluruh klub yang dibelanya, dia menanggung beban jauh lebih besar dari semua orang.
Jika klubnya menang, dia akan mendapatkan seluruh pujian. Jika klubnya kalah, dia akan menjadi orang pertama yang dipersalahkan, padahal dia sudah melakukan apapun yang dimilikinya.
Saya teringat pada nasehat almarhum ayah saya. Ayah saya menjelaskan bakat dan kerja keras dengan analogi dua jenis pisau. Ada pisau yang terbuat dari baja pilihan dan ada pisau yang hanya terbuat dari pelat besi. Jika pisau yang terbuat dari baja pilihan mendapatkan perawatan yang baik, ditempa dengan baik dan diasah dengan baik, itu akan menjadi pedang yang layak dipegang para ksatria di medan laga.
Namun, meskipun pisau itu terbuat dari baja pilihan, jika dibiarkan tapa perawatan yang baik, dia hanya akan menjadi barang rongsokan yang berakhir di tempat sampah.
Pisau yang terbuat dari pelat besi mungkin sejak awal tak layak untuk berada di tangan kstria yang berbunyi di medan laga. Pisau itu mungkin hanya layak menjadi barang rongsokan. Namun, jika ia dirawat dengan baik, di asah dengan baik, dia akan menjadi pisau dapur yang digunakan untuk memasak, menghidupi keluarga dan anak-anak.
Bakat alam dan tempahan yang baik membuat Messi tampil megah. Tapi, kita seringkali kehilangan rasa hormat terhadap orang yang tak memiliki apa-apa, tapi menempa dirinya untuk menjadi sesuatu yang berguna dalam kehidupan. Orang seringkali hanya terpukau dengan bakat alam.
Tapi bakat itu bukan apa-apa jika ia tak diasah. Mungkin kita tidak memiliki keistimewaan apa-apa saat dilahirkan ke dunia, tapi kita memiliki semuanya untuk menjadi berguna.
Terhadap wajah yang berlinangan air mata itu, aku ingin mengatakan: “Aku bisa merasakan sedihmu. Tapi kamu tak perlu membuktikan apa-apa karena setiap langkahmu adalah bukti. Kamu mungkin tidak mendapatkan piala, tamu kamulah piala dalam hidup ini. Memandangi wajahmu sesedih itu, aku malu karena selama ini lupa mendefinisikan arti kebahagian. Seakan-akan, kebahagiaan hanya ketika kita mengalahkan orang lain dan menjadi juara. Padahal, hidup adalah tentang melakukan yang terbaik, detik demi detik.”
Ahmad Inung
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI




Comments are closed.