Arina.id – Gunung Anak Krakatau meletus, menyemburkan abu vulkanik secara intens dalam kurun waktu beberapa hari belakangan ini. Masyarakat dan nelayan di sekitar pun diimbau tidak beraktivitas mendekati radius bahaya.
Sebelumnya, Badan Geologi telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Peningkatan status ini didasari oleh aktivitas vulkanik yang sudah “batuk-batuk” terus sejak awal Juli 2026 lalu. Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer (1,86 mil) dari kawah aktif yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas gunung dan kondisi cuaca sebelum melaut. Warga diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi lembaga berwenang.
Terkait update kondisi gunung tersebut, dikutip dari Antara, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Suwarno, mengatakan data terbaru tercatat sebanyak empat kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 58-67 mm, dan lama gempa 30-54 detik.
Menurut dia, pengamatan kegempaan lainnya juga mencatat beberapa kali gempa vulkanik dangkal dan dalam dengan amplitudo mencapai 27-63 mm, lama gempa 17-250 detik. Terjadi 100 kali gempa hembusan dengan amplitudo 27-63 mm dan lama gempa 17-250 detik. 5 kali harmonik dengan amplitudo 47-61 mm, dan lama gempa 98-1054 detik.
“Selain itu, dua kali gempa low frequency dengan amplitudo 31-45 mm, dan lama gempa 16 detik. 25 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 20-56 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 8-25 detik, dan 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 3-60 mm, dominan 20 mm,” katanya.
Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan.
Untuk pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut, kemudian asap kawah tidak teramati dan cuaca cerah hingga berawan, serta angin lemah ke arah barat laut.
“Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara, timur laut, barat dan barat laut,” ujar dia.
Media asing, Anadolu, melaporkan letusan Anak Krakatau baru-baru ini. Kantor berita Turki itu menyebut pihak berwenang Indonesia terus memantau peningkatan aktivitas vulkaniknya. Setiap letusan, dari kolom kawah menyemburkan abu setinggi sekitar 300 meter (984 kaki) di atas puncak, atau sekitar 457 meter (1.499 kaki) di atas permukaan laut.
Anak Krakatau, atau “Anak Krakatau,” muncul dari laut pada akhir tahun 1920-an di dalam kaldera yang terbentuk akibat letusan dahsyat gunung berapi Krakatau asli pada tahun 1883.
Pada tahun 1883, dalam salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah yang tercatat, letusan Krakatau menyebabkan tsunami besar dan menghancurkan komunitas pesisir di sekitar Selat Sunda, menewaskan lebih dari 36.000 orang.
Sebagian runtuhnya Anak Krakatau memicu tsunami mematikan lainnya di sepanjang pantai Banten dan Lampung pada Desember 2018.




Comments are closed.