Seorang intelektual yang berpikir melintasi peradaban, tetapi justru dikalahkan oleh kecemasan politik bangsanya sendiri.
Tan Malaka diburu oleh Belanda. Diawasi oleh Inggris. Dicurigai oleh Jepang. Dan akhirnya dipenjarakan oleh republiknya sendiri. Ia lebih sering hidup dengan nama samaran daripada dengan nama aslinya. Tetapi satu hal tak pernah ia sembunyikan. Ia percaya kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari revolusi dunia. Ia tidak berpikir dalam batas pulau. Ia bernalar dalam batas peradaban.
Sejak muda, Tan Malaka (1897-1949) tampaknya sudah alergi pada batas geografis. Dari surau di Minangkabau, ia menyeberang ke sekolah Belanda, lalu ke Haarlem, kemudian ke Moskwa, Berlin, Manila, dan Shanghai. Ia menyaksikan langsung bagaimana kapitalisme global, kolonialisme, dan revolusi saling menelan. Tatkala sebagian tokoh pergerakan Indonesia masih berdebat tentang tarif pajak kolonial dan perwakilan politik terbatas, Tan Malaka berbicara tentang struktur ekonomi dunia. Ia membaca Karl Marx bukan sebagai kitab suci, melainkan sebagai peta untuk memahami bagaimana kekuasaan bergerak dari pusat industri Eropa hingga perkebunan tembakau di Sumatra.
Baginya, Indonesia bukan wilayah pinggiran sejarah. Indonesia adalah simpul dalam jaringan global. Kolonialisme bukan sekadar tentara asing yang menancapkan bendera, melainkan sistem ekonomi internasional yang bekerja dengan rapi, sabar, dan kadang lebih senonoh tinimbang penjajahan bersenjata. Kemerdekaan, dalam pikirannya, tidak cukup dengan mengganti lagu kebangsaan dan warna bendera. Kemerdekaan harus memutus cara berpikir, cara mengelola ekonomi, dan cara membaca dunia.
Sayangnya, republik ini sejak awal tampaknya lebih senang membaca peta wilayah daripada peta sejarah.
Takut pada Gagasan Besar
Menurut Olivier Crawford dalam disertasinya “The Political Thought of Tan Malaka” (University of Cambridge, 2018), ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, Tan Malaka kembali dari pengasingan panjang dengan gagasan yang masih sama berbahayanya. Ia menuntut kemerdekaan seratus persen. Ia menolak kompromi diplomatik yang menurutnya berpotensi menghidupkan kolonialisme dalam kostum baru. Ia mendorong nasionalisasi aset kolonial, perubahan struktur ekonomi, dan revolusi mental masyarakat. Ia mendirikan Persatuan Perjuangan. Ia ingin revolusi selesai, bukan sekadar diumumkan. Di sinilah republik muda mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap intelektual yang terlalu luas pandangannya.
Sukarno dan Hatta memilih diplomasi. Mereka membaca situasi dengan kalkulasi realistis. Republik belum punya tentara kuat. Ekonomi belum stabil. Pengakuan internasional belum datang. Tan Malaka membaca sejarah dengan logika yang berbeda. Ia percaya momentum revolusi adalah peristiwa langka yang tidak boleh disia-siakan. Diplomasi baginya bukan strategi, melainkan jeda yang berpotensi mengubur semangat perubahan.
Benturan dua visi itu akhirnya tidak diselesaikan lewat debat intelektual, melainkan lewat penjara. Tan Malaka ditangkap tanpa pengadilan. Seorang pemikir yang sepanjang hidupnya memimpikan republik merdeka justru dipenjara oleh republik yang baru lahir. Republik yang katanya ingin swatantra dari kolonialisme ternyata cukup cepat mewarisi satu kebiasaan lama. Ketika ide terlalu mengganggu stabilitas, cara paling semenjana adalah mengunci pengusungnya.
Sejarah Indonesia memang sering menulis satire tanpa sadar. Kita sering mengingat Tan Malaka sebagai rival politik, tokoh kontroversial, atau korban revolusi. Jarang kita mengingatnya sebagai intelektual global. Padahal dalam banyak hal ia adalah salah satu figur paling kosmopolitan yang pernah dilahirkan Nusantara. Ia membayangkan federasi Asia Tenggara ketika istilah Asia Tenggara belum menjadi kesadaran geopolitik. Ia berbicara ihwal solidaritas lintas bangsa ketika nasionalisme masih sibuk mendefinisikan siapa yang asli dan siapa yang pendatang.
Tan Malaka tidak sekadar meminjam teori Barat. Ia menulis Marx dalam bahasa Melayu. Ia mencoba mempertemukan komunisme dengan etika Islam. Ia mengkritik mistisisme yang menurutnya menghambat rasionalitas, tetapi tetap berpijak pada tradisi Minangkabau yang membentuknya. Ia bukan peniru ide. Ia adalah montir gagasan. Ia membongkar mesin teori Barat, lalu merakitnya kembali agar bisa berjalan di jalanan Indonesia yang penuh lubang sejarah. Masalahnya, montir gagasan sering dianggap lebih berbahaya daripada ideolog yang tunak.
Menyukai Pahlawan Semenjana
Kematian Tan Malaka titimangsa 1949 dalam situasi yang masih menyisakan kabut misteri seperti menutup satu bab sejarah republik yang terlalu cepat ingin dilupakan. Ia mati di tangan republik yang ia bela. Ia kemudian menghilang dari buku pelajaran selama puluhan tahun. Tatkala namanya muncul kembali, ia lebih sering diperlakukan sebagai catatan kaki, bukan sebagai tokoh yang pernah mencoba memaksa Indonesia berpikir dalam skala dunia.
Republik ini tampaknya selalu memiliki selera yang sama terhadap pahlawan. Kita menyukai tokoh yang mudah dipasang di ruang kelas. Yang biografinya rapi. Yang ideologinya tidak membuat guru harus menjelaskan terlalu panjang. Tan Malaka terlalu berantakan untuk standar itu. Ia komunis tetapi religius. Ia nasionalis tetapi internasionalis. Ia revolusioner tetapi juga pengajar logika. Ia tidak pernah cocok dengan kotak ideologi yang disiapkan negara.
Mungkin justru itu yang membuatnya relevan hari ini.
Indonesia kiwari sering berwicara perihal globalisasi dengan nada bangga. Kita membicarakan investasi asing, perdagangan internasional, dan teknologi digital sebagai tanda kemajuan. Walakin jarang kita bertanya bagaimana posisi kita dalam struktur global itu. Apakah kita pemain, atau sekadar pasar. Apakah kita pembentuk arus, atau hanya terbawa arus.
Tan Malaka, jika masih hidup hari ini, mungkin akan tertawa kecil melihat cara kita memuja globalisasi. Ia barangkali akan mengingatkan bahwa dunia bukan sekadar jaringan perdagangan yang bisa dirayakan dalam forum investasi dan pidato optimistis tentang pertumbuhan. Dunia adalah jaringan kekuasaan. Jaringan yang halus, simbai, dan sering kali datang dengan proposal kerja sama. Ia mungkin akan bertanya dengan nada dingin: apakah kita sudah merdeka secara ekonomi, atau sekadar berganti pengawas dengan istilah yang lebih ramah? Apakah kita benar-benar pemain dalam sistem global, atau hanya konsumen yang bangga karena diizinkan duduk di meja?
Modernitas, dalam pandangan Tan Malaka, bukan perkara ikut tren global atau berlomba memasang jargon internasional di baliho kebijakan. Modernitas adalah kemampuan membaca cara kerja dunia sebelum dunia itu kembali membaca kita sebagai pasar. Tan Malaka tidak menolak modernitas. Ia ingin menguasainya. Ia ingin memahami mesin sejarah agar bangsanya tidak terus menjadi objek percobaan. Sebuah ambisi yang terdengar terlalu serius bagi republik yang kerap lebih sibuk memastikan stabilitas minggu ini tinimbang arah sejarah lima puluh tahun ke depan.
Sebagai intelektual global, Tan Malaka tidak pernah menganggap berpikir lintas batas sebagai pengkhianatan terhadap akar budaya. Justru sebaliknya. Ia percaya bahwa memahami dunia adalah cara paling jujur untuk memahami diri sendiri. Ia tidak merasa perlu menjadi asing untuk menjadi modern. Ia ingin agar Indonesia berdiri tegak dalam percakapan dunia, bukan sekadar menjadi penonton yang sesekali diberi mikrofon.
Namun republik ini tampaknya selalu lebih nyaman dengan pahlawan yang sederhana dan mudah dipahami. Yang pikirannya tidak terlalu jauh melampaui kurikulum. Yang visinya tidak terlalu merepotkan stabilitas. Tan Malaka terlalu luas untuk itu. Ia berpikir dalam skala peradaban, sementara politik sering kali bergerak dalam skala periode jabatan.
Sejarah memang tidak memberinya panggung utama dalam narasi resmi. Ia muncul sebentar, lalu menghilang, lalu muncul lagi sebagai catatan kaki. Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya menghapus gagasan. Yang lebih sering terjadi adalah bangsa yang memilih berhenti membaca karena halaman berikutnya terasa terlalu mengganggu.
Barangkali persoalannya memang bukan pada Tan Malaka. Barangkali persoalannya pada republik yang selalu cemas menghadapi intelektual yang berpikir terlalu jauh ke depan. Republik yang lebih suka gagasan yang bisa dipajang, bukan yang menuntut perubahan struktur. Republik yang, sampai hari ini, masih belajar membedakan antara merdeka secara simbolik dan merdeka secara sistemik.
Sejarah telah mencatat Tan Malaka sebagai tokoh yang silang selimpat dipahami zamannya. Yang belum tercatat adalah apakah republik ini akan terus mengulangi kesalahan yang sama: mengagumi intelektual setelah memastikan mereka tidak lagi berbahaya.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.




Comments are closed.