Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Anggota DEN Nilai Gencatan Senjata Amerika-Iran Redakan Tekanan Harga Minyak dan Beban Fiskal Indonesia

Anggota DEN Nilai Gencatan Senjata Amerika-Iran Redakan Tekanan Harga Minyak dan Beban Fiskal Indonesia

anggota-den-nilai-gencatan-senjata-amerika-iran-redakan-tekanan-harga-minyak-dan-beban-fiskal-indonesia
Anggota DEN Nilai Gencatan Senjata Amerika-Iran Redakan Tekanan Harga Minyak dan Beban Fiskal Indonesia
service

Jakarta, NU Online

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) unsur Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi menilai gencatan sencara antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran selama dua pekan sejak Selasa (7/4/2026), dapat meredakan tekanan harga minyak global turun ke level 94 dolar US per-barel. Sementara harga West Texas Intermediate (WTI) juga turun menjadi 97 dolar US per-barel. 

“Saya kira hal ini akan merelaksasi ketegangan dan spekulasi, sehingga harga minyak lebih terkendali dan biaya penyediaan relatif terjangkau bagi negara-negara konsumen seperti Indonesia,” katanya kepada NU Online pada Kamis (9/4/2026).

Kholid juga menyoroti adanya sensitivitas fiskal yang cukup tinggi terhadap fluktuasi harga minyak. Kondisi saat ini, katanya, bisa juga meredakan beban fiskal yang ditanggu negara.

“Terdapat sensitivitas fiskal terkait dampak terhadap keuangan negara, khususnya dalam biaya penyediaan dan penjualan BBM, yang sebagian masih ditanggung pemerintah melalui mekanisme subsidi dan kompensasi,” ujar Anggota Dewan Pembina Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) masa Khidmah 2025-2030.

Ia menjelaskan, pemerintah masih menanggung sebagian beban melalui skema subsidi untuk jenis BBM tertentu, seperti minyak tanah, solar, dan LPG, serta kompensasi untuk BBM khusus penugasan seperti Pertalite.

“Selain itu, terdapat jenis BBM khusus penugasan (JBKP) yang harganya dikontrol oleh pemerintah, tidak sepenuhnya dilepas ke pasar, namun bukan bersifat subsidi,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa simulasi Kementerian Keuangan (kemenkeu) menunjukkan setiap kenaikan satu dolar harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga menambah beban fiskal yang lebih besar, sehingga berpotensi memperlebar defisit APBN. 

“Di satu sisi, terdapat kenaikan penerimaan sebesar Rp3,5 triliun, namun di sisi lain terjadi kenaikan beban fiskal sebesar Rp10,3 triliun, sehingga APBN mengalami defisit sekitar Rp6,8 triliun,” katanya.

Ia menekankan bahwa sebagai negara importir neto, kondisi Indonesia berbeda dengan era Orde Baru ketika kenaikan harga minyak justru menghasilkan keuntungan yang besar atau windfall profit.

“Saat ini, kenaikan harga minyak justru menimbulkan tekanan fiskal yang lebih berat, sehingga membebani APBN,” jelasnya.

Komitmen pemerintah terhadap BBM murah

Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah menyiapkan skema terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) baik subsidi dan non-subsidi. Hal itu disampaikannya Taklimat bersama Kabinet Merah Putih hingga pejabat kementerian/lembaga di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026)

Presiden Prabowo mengakui, langkah-langkah antisipasi jangka pendek selama 12 bulan ke depan tengah dipersiapkan. Ia menegaskan, setelahnya Indonesia akan menjadi negara yang kuat.

“Untuk BBM yang bersubsidi, kita akan pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat miskin. Kita akan pertahankan untuk 80 persen rakyat kita. Tapi pada saatnya yang orang-orang kuat, orang-orang kaya ya kalau mau pake bensin yang mahal, ya dia harus bayar pasar. Lu udah kaya minta subsidi, ya enggak lah. Yang kita bela rakyat miskin,” terangnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.