Anzar berharap, bagi siapapun yang mendengar puisinya untuk tidak lupa, bahwa tragedi-tragedi ini pernah terjadi, dan terjadi lagi.
Malam itu panggung Festival HAM 2025 di Taman Ismail Marzuki masih ramai. Lampu sorot menyoraki sosok perempuan muda berpakaian serba hitam: blazer rapi, celana panjang, sepatu kulit mengkilap.
Ia melangkah dengan tenang, lalu berdiri di depan mikrofon. Namanya Anzar Mustikowati, seorang aktor sekaligus penyair.
“Atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menjunjung tinggi asas kemanusiaan, yang berbudi pekerti luhur dan mencintai sesama, katanya!”
Bait pertama langsung membuat penonton yang tadinya mengobrol diam. Perhatian tertuju pada sosok mungil dengan suara lantang itu.
Di sampingnya, berdiri seorang penerjemah bahasa isyarat ikut menerjemahkan. Tangannya menari-nari membuat lantunan puisi Anzar hidup pula bagi teman-teman tuli.
“Puisi itu bukan sekadar kata, ia adalah suara kegelisahan,” ucapnya seusai pertunjukan.
Malam 27 April 2025, angin berhembus sepoi-sepoi, Anzar duduk di booth kosong untuk mengikuti sesi wawancara. Lalu ia bercerita, tentang dirinya dan puisi.
Cinta Anzar pada seni bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia lahir dari keluarga seniman, ayahnya seorang pematung, ibunya mencintai seni musik. Dari kecil ia akrab dengan patung, lukisan, hingga lantunan lagu.
“Dari kecil saya sudah akrab dengan patung, musik, dan seni rupa,” kenangnya.
Keakrabannya dengan seni menghantarkan Anzar ke dunia puisi. Awalnya hanya coba-coba, tanpa sadar percobaan ini akan mengubah hidupnya.
Ketertarikan akan puisi kian menguat. Saat SMA, di tahun 2015. Kemendikbud menyelenggarakan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Tanpa pikir panjang Anzar mendaftar. Dilalah dirinya memang. Tapi bukan kemenangan yang Anzar banggakan.
Dari panggung itulah, ia merasakan betapa puisi bisa menjadi media penyampai kegelisahan. “Rasanya lega bisa menyuarakan sesuatu lewat puisi,” ujarnya.
Perjalanan seninya berlanjut. Untuk mendalami kecintaannya akan seni, Anzar mendaftar ke Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, jurusan teater.
Setelah lulus dari ISBI, Anzar melanjutkan pendidikannya ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk program magister penciptaan seni. Anzar mendapat pengalaman menarik di sini.
Ia menjadi sutradara sebuah pementasan seni bertema kekerasan terhadap perempuan pekerja migran. Ia sampai melibatkan 50 rekan senimannya untuk mensukseskan pementasan ini.
Pekerja Migran dan Puisi
Suara Anzar mulai lirih, tema perempuan dan pekerja migarn bukan tiba-tiab ia pilih. Pilihan ini berangkat dari pengalaman pribadi. Neneknya seorang pekerja migran.
Saat masih anak-anak, seringkali orang-orang di sekitarnya bercerita bagaimana kerennya nenek Anzar yang bekerja di luar negri.
“Bude lu noh kerja di luar negri, gila deh,” ucap Nazar sambil menirukan orang lain.
Mendengar ucapan tersebut, Anzar membayangkan, pasti enak kerja di luar negri. Terkadang terbayang juga uang yang didapat, pasti banyak.
Bayangan Anzar semakin menguat ketika budenya datang ke rumah. Saat pulang, budenya sering memberi uang jajan dan oleh-oleh. Budenya terus memberi banyak barang dan uang ketika cuti hingga akhirnya mereka berdua lost contact.
“ya, kami akhirnya lost contcat karena jarak,” kenang Anzar.
Sampai Anzar beranjak kuliah, ia mengunjungi rumah budenya yang telah pensiun. Bukan oleh-oleh yang ia dapat, tapi cerita-cerita kelam.
Budenya banyak bercerita tentang bagaimana ia mendapat kekerasan. Ia sering dipukul oleh majikannya. Kadang upahnya juga dibayar telat. Di titik ini bayangan Anzar mulai pecah.
Kenyataan yang Anzar bayangkan rupanya tidak seindah itu. Anzar kira budenya banyak uang, Anzar kira budenya bahagia di sana. Semuanya hanaya hayalan.
Ada satu kata yang Anzar ingat dari neneknya: “Nduk.. kalau bisa yo, anak cucu bude ndak boleh ada yang kerja di luar negri”. Mendengar perkataan ini dari mantan pekerja migran, Anzar merinding.
Kisah itu membekas. Dari situ, ia menulis puisi tentang luka pekerja migran, tentang perempuan yang sering dipandang lemah, tentang rumah yang jauh dari kata aman. “Saya sadar, pengalaman pribadi bisa jadi pintu untuk menyuarakan isu yang lebih luas,” tambahnya.
Kepedulian Anzar terhadap pekerja migran menghantarkannya ke sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Migrant Care. Wahyu Susilo selaku direktus eksekutif Migarnt Care mengajak Aznar bergabung. Melihat kepedulian Anzar terhadap pekerja migran.
Selain di panggung puisi, Anzar juga pernah bekerja di balik layar industri film. Ia menjadi clapper dan script continuity di PT. Indovision Information Technology di tahun 2024. Di sana, ia terbiasa menandai adegan dengan clapperboard, mengelola data kamera, hingga memastikan kesinambungan gambar. “Ritme dunia film mengasah ketelitian saya. Semua detail harus nyambung,” ujarnya.
Ia juga pernah tampil sebagai aktris monologer dalam peluncuran buku Kepak Cinta Pengawal Langit karya Connie Rahakundini Bakrie di bulan November tahun 2023. Pada kesempatan itu, ia membacakan puisi dengan intensitas penuh. Dari pengalaman ini, Anzar merasa semakin yakin bahwa panggung bisa menjadi ruang perlawanan budaya.
Puisi di Panggung HAM
Bagi Anzar, menulis puisi selalu bermula dari proses kreatif. Proses ini dapat berupa apapun: renungan, refleksi, perasaan, pengalaman, luka, atau riset.
Saat Migran Care diundang oleh Infid mengikuti Festival HAM, Anzar langsung berpikir “puisi apa yang akan au bawakan?” Karena ingin membawakan karyanya sendiri, ia mulai melakukan riset kecil-kecilan mengenai kondisi HAM di Indoensia.
Setelah berhari-hari melakukan riset, terpantik pertanyaan dalam kepalnya Kenapa kasus ini tidak pernah selesai? Siapa yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan itu kemudian menjelma menjadi larik-larik puisi. Ia lalu memadatkan keresahan itu dalam bait.
Di Festival HAM, puisi yang dibawakannya sarat kritik sosial. Ia menyebut rakyat hidup dalam demokrasi, tapi suara mereka justru dibungkam; ia mengingatkan pelanggaran HAM masa lalu yang tak kunjung tuntas, dari 1998 hingga kasus Wiji Thukul.
“Apa kabar 1998? Apa kabar Wiji Thukul dan 23 orang lainnya yang dinyatakan hilang? Apa kabar pemerkosaan massal 1998 yang dianggap tidak pernah ada?”
Bait-bait itu menggelegar. Penonton terdiam, beberapa mengangguk, sebagian lain tampak menyeka air mata.
Dalam bait puisinya Anzar mengirimkan pesan tersirat. Ia ingin siapapun yang mendengar atau melihat puisinya tidak hanya terpukau, tapi juga mempertanyakan:
“Kasus-kasus ini sudah lama terjadi, tapi kenapa seakan terulang lagi di hari ini?”
Anzar mengatakan dalam demo 2025 kemarin, tak sedikit yang meregang nyawa, beberapa orang juga hilang. Ia melihat pattern yang sama, dimana kasus-kasus pelanggaran HAM terjadi kembali di tengah amarah masyarakat yang sedang memanas tapi lambat laun terlupakan.
“Kasusnya tuh seakan meradang, lalu meradang, lalu hilang!”
Bagi Anzar, puisi adalah advokasi kultural. Ia ingin anak muda tidak hanya skeptis melihat kasus-kasu pelanggaran HAM sekedar konspirasi elit. Lalu mengabaikannya.
Di panggung Festival HAM 2025, ketika puisinya dibacakan, ia bukan sekadar seniman, melainkan juru bicara bagi suara-suara yang disenyapkan.
Malam itu, Anzar Mustikowati membuktikan bahwa seni dan HAM tak pernah terpisah. Lewat puisinya, ia menyalakan ingatan, mengobarkan empati, dan mengajak generasi muda merawat keberanian untuk terus bersuara.





Comments are closed.