Bincangperempuan.com- B-Pers pernah dengar narasi kalau ketika perempuan menstruasi, hormon estrogen dan progesteron turun sehingga membuat mereka bertingkah seperti laki-laki? Narasi ini sering muncul dalam bentuk meme atau lelucon. Ada yang bilang, “kalau kamu benci perempuan saat mereka sedang haid, berarti kamu sebenarnya membenci dirimu sendiri.” Bahkan ada juga yang bercanda, mungkin itu sebabnya namanya ada kata “men” dalam menstruasi, karena perempuan jadi lebih “lakik” pada fase tersebut.
Sekilas lucu, tapi apakah itu valid dari segi biologis?
Secara biologis, memang benar bahwa pada fase akhir siklus sebelum menstruasi, kadar estrogen dan progesteron menurun. Namun itu adalah fase normal dalam siklus reproduksi, bukan perubahan identitas, bukan pula perubahan sifat dasar seseorang. Hormon memang naik dan turun, dan itu wajar. Tetapi bukan berarti kepribadian perempuan hanya dikendalikan hormon.
Ide bahwa perempuan “dikendalikan hormon” sudah lama dipakai untuk menjelaskan—atau bahkan meremehkan—emosi perempuan. Padahal penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara hormon dan kondisi psikologis jauh lebih kompleks.
Le, Thomas, dan Gurvich (2020) menjelaskan bahwa efek psikologis dari siklus menstruasi berkaitan dengan sensitivitas sistem saraf pusat terhadap fluktuasi hormon. Mereka menulis bahwa ”the general consensus is that premenstrual symptoms are due to an increased central nervous system sensitivity to menstrual cycle hormone fluctuations.” Artinya, gejala pramenstruasi bukan hanya hormon yang naik turun, melainkan bagaimana otak merespons perubahan tersebut. Ini bukan mekanisme seperti tombol nyala dan mati yang membuat seseorang berubah menjadi versi lain dari dirinya.
Jadi kalau ada yang menyederhanakan estrogen turun lalu otomatis jadi maskulin? Anggap saja meme yang mirip sains daripada penjelasan biologis yang utuh.
Baca juga: Sampah Menstruasi: Darurat yang Tak Pernah Jadi Prioritas
Jokes “Mens”: Sebenarnya Dari Mana Kata Menstruasi Berasal?
Selain meme soal hormon, ada juga guyonan seperti “masalah perempuan selalu dimulai dari kata ‘men’”, yang dimaksudkan merujuk pada kata menstruation. Tapi pernah tidak kita benar-benar memikirkan dari mana asal kata menstruasi?
Kata menstruasi berasal dari bahasa Latin mensis yang berarti “bulan”. Akar katanya juga berkaitan dengan bahasa Yunani mēn, yang juga berarti bulan. Sejak awal, istilah ini memang merujuk pada siklus bulanan.
Menariknya lagi, kata “month” dalam bahasa Inggris berasal dari akar bahasa Indo-Eropa yang sama. Jadi jelas, kata ini tidak ada hubungannya dengan “men” yang berarti laki-laki. Itu hanya kebetulan bunyi yang kemudian dijadikan bahan lucu-lucuan saja.
Lucu boleh saja. Tapi kalau dijadikan dasar untuk menyimpulkan pengalaman biologis perempuan, tentu itu tidak valid secara ilmiah.
PMS Itu Kompleks, Bukan Mendadak Jadi Lakik
Bagian yang sering dilupakan dari semua candaan ini adalah realitas biologisnya. Premenstrual Syndrome (PMS) memiliki spektrum yang luas.
Gejala PMS dapat dimulai hingga lima hari sebelum menstruasi dan biasanya berakhir ketika siklus dimulai. Pada sebagian orang, gejalanya bisa semakin parah dan berlangsung lebih lama saat mendekati masa menopause.
Gejala psikologisnya bisa meliputi:
- Merasa sedih atau depresi
- Rasa gugup atau cemas
- Perubahan suasana hati
- Mudah marah
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Sulit berkonsentrasi
- Mudah lupa
Sementara gejala fisiknya dapat berupa:
- Payudara terasa penuh atau nyeri
- Kram atau rasa berat di perut bagian bawah
- Sakit kepala
- Kembung
- Kenaikan berat badan sementara
- Konstipasi
- Gangguan tidur
- Jerawat
- Mual
- Kelelahan
- Nyeri punggung, sendi, atau otot
Beberapa kondisi medis lain seperti migrain, asma, lupus, artritis reumatoid atau rematik, gangguan kejang, hingga depresi juga bisa memburuk menjelang menstruasi.
Jika gejalanya sangat parah hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin mengalami bentuk yang lebih berat yang disebut Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).
PMS dialami oleh sebagian besar perempuan yang menstruasi, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. PMDD sendiri dialami sekitar 1–8 persen perempuan dan memiliki kriteria diagnosis yang ketat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Efek psikologis dari siklus menstruasi semakin banyak diteliti karena relevansinya secara klinis dalam PMS dan PMDD. Perubahan psikologis pramenstruasi dapat berupa perubahan emosi seperti mudah tersinggung, suasana hati yang labil, atau perasaan depresi, serta gejala kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi. PMS umumnya merujuk pada gejala fisik maupun psikologis yang memengaruhi fungsi sehari-hari, sedangkan PMDD merupakan gangguan psikiatri yang diakui secara resmi dengan tingkat keparahan lebih tinggi.
Artinya, ini bukan sekadar “perempuan lagi sensitif” atau “lagi mode lakik”. Tetapi merupakan interaksi kompleks antara hormon dan sistem saraf. Dan pada tiap orang gejalanya bisa berbeda-beda. Tidak semua perempuan marah-marah saat PMS. Ada yang justru lebih mudah menangis, ada yang insomnia,
ada yang secara fisik kesakitan sampai sulit berjalan, bahkan ada yang baik-baik saja.
Baca juga: Minum Es Saat Menstruasi Bikin Darah Beku, Mitos atau Fakta?
Jangan Jadikan Meme Sebagai Pembenaran
Secara sosial, pengalaman biologis perempuan sering dijadikan bahan lelucon. Emosi perempuan lebih cepat dilabeli sebagai pengaruh hormon dibanding ditanya konteksnya. Apakah mereka sedang stres, kurang tidur, banyak beban mental, sering makan makanan kurang sehat atau memang ada kondisi medis tertentu.
Selain itu, hormon bekerja bersama banyak faktor lain seperti:
- sistem saraf
- kadar serotonin
- stres
- pola tidur
- nutrisi
- beban psikologis
Pada akhirnya, lelucon tentang menstruasi mungkin dibuat untuk lucu-lucuan dan bukan dimaksudkan serius. Tetapi jangan sampai satu-dua kalimat acak di internet dipakai untuk menggeneralisasi pengalaman biologis perempuan yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Referensi:
- MSD Manuals. (n.d.). Sindrom pramenstruasi (PMS). MSD Manuals versi konsumen. https://www.msdmanuals.com/id/home/fakta-singkat-masalah-kesehatan-wanita/gangguan-menstruasi-dan-perdarahan-vagina-abnormal/sindrom-pramenstruasi-premenstrual-syndrome-pms
- Le, J., Thomas, N., & Gurvich, C. (2020). Cognition, The Menstrual Cycle, and Premenstrual Disorders: A Review. Brain Sciences, 10(4), 198. https://doi.org/10.3390/brainsci10040198
- Online Etymology Dictionary. (n.d.). Menstruation. https://www.etymonline.com/word/menstruation





Comments are closed.