Arina.id – Amerika Serikat (AS) pontang-panting akibat ulahnya sendiri. Setelah mengebom Iran, ternyata negeri Para Mullah itu melawan. Kemudian berbagai jurus ancaman dan teror dikeluarkan tapi Iran tidak bergeming.
Sebulan lebih perang terjadi tanpa ada yang mengaku kalah. Semuanya mengklaim menang, bahwa tujuan persang sama-sama tercapai. Namun dampak kekacauan ekonomi global ditanggung oleh negara-negara di dunia.
Negosiasi juga sudah dilakukan namun terantuk jalan buntu. Amerika tidak mengalah, Iran juga tidak menyerah. Setelah negosiasi buntu, Amerika mengancam memblokade lalu lintas kapal ke semua pelabuhan Iran. Namun Teheran dengan sikap tengilnya malah menantang.
Washington pun mengeluarkan peluru baru buat menekan Teheran. Melalui Departemen Keuangan Amerika Serikat, mereka mengeluarkan peringatan luas kepada seluruh lembaga keuangan global, bahwa akan ada sanksi sekunder terhadap entitas yang dinilai mendukung aktivitas Iran, di tengah kebuntuan perundingan langsung antara kedua negara.
Dikutip dari laporan Anadolu, departemen tersebut menyatakan akan “bergerak agresif dengan tekanan ekonomi maksimal” guna mempertahankan kebijakan tekanan terhadap Iran.
“Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan kewenangan yang tersedia serta siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung aktivitas Iran,” demikian pernyataan yang diunggah melalui Platform X.
Departemen itu juga menegaskan bahwa izin jangka pendek untuk penjualan minyak Iran yang tertahan di laut akan segera berakhir dalam beberapa hari ke depan dan tidak akan diperpanjang.
Kebijakan itu merujuk pada pengecualian sementara selama 30 hari yang diterbitkan pada 20 Maret, yang memungkinkan penjualan minyak Iran yang telah berada di laut, dengan estimasi volume sekitar 140 juta barel. Langkah tersebut diambil untuk meredam lonjakan harga energi global yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran.
Perang tersebut, serta respons Iran yang menutup Selat Hormuz dan menargetkan infrastruktur energi di wilayah sekutu Arab Teluk AS, memicu lonjakan tajam harga energi, terutama minyak. Pengecualian tersebut dijadwalkan berakhir pada 19 April.
Perundingan langsung intensif antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton berakhir pada akhir pekan lalu tanpa kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Sebelumnya pada Selasa, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan diperkirakan akan dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan, meskipun belum ada pengumuman resmi.





Comments are closed.