Mon,20 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Argentina dan Sesat Sepak Bola (4): Semua Wajib Punya Jagoan

Argentina dan Sesat Sepak Bola (4): Semua Wajib Punya Jagoan

argentina-dan-sesat-sepak-bola-(4):-semua-wajib-punya-jagoan
Argentina dan Sesat Sepak Bola (4): Semua Wajib Punya Jagoan
service

Menjelang pertandingan besar, pertanyaan paling penting di Indonesia bukan lagi, “Sehat, Pak?”

Pertanyaannya berubah.

“Nanti nonton di mana?”

Setelah itu disusul pertanyaan yang lebih menentukan harga diri.

“Dukung mana?”

Pertanyaan tersebut dapat muncul di warung kopi, kantor, pasar, ruang tunggu bandara, grup keluarga, acara kondangan, bahkan di halaman masjid.

Baru keluar dari masjid, sandal belum sepenuhnya terpasang, sudah ada yang mendekat.

“Nanti Argentina atau Spanyol?”

Saya jawab pelan.

“Saya mendukung MBG dan Koperasi Merah Putih.”

Ia menatap saya cukup lama.

Mungkin ia mengira MBG adalah gelandang baru Argentina. Koperasi Merah Putih mungkin dianggap klub peserta liga Amerika Selatan.

Saya tidak menjelaskan.

Dalam suasana euforia, penjelasan sering dianggap gangguan.

Pertanyaan yang Mengandung Ujian Kesetiaan

Pertanyaan “dukung mana?” sebenarnya terlihat sederhana. Namun, ia sering tidak benar-benar meminta jawaban.

Ia sedang menguji kesetiaan.

Jika penanya mendukung Argentina, jawaban yang diharapkan tentu Argentina. Jika kita menjawab Spanyol, percakapan dapat berubah menjadi sidang pembuktian.

“Mengapa tidak Argentina?”

“Tidak suka Messi?”

“Tidak mengakui kehebatan juara dunia?”

“Jangan-jangan sejak dulu pendukung Portugal?”

Sepak bola membuat orang mudah menyusun hubungan sebab-akibat yang tidak pernah ada.

Tidak mendukung Argentina dianggap membenci Messi.

Mengkritik Messi dianggap mendukung Ronaldo.

Mendukung Ronaldo dianggap tidak memahami sepak bola.

Tidak menonton pertandingan dianggap tidak mengikuti perkembangan dunia.

Tidur lebih awal bahkan dapat dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap sejarah.

Padahal, bisa jadi orang tersebut hanya lelah.

Bisa jadi besok pagi ia harus bekerja.

Bisa jadi tagihan listriknya lebih mendesak daripada jumlah assist Messi.

Namun, euforia membutuhkan semua orang terlibat. Tidak boleh ada warga netral. Tidak boleh ada orang yang berkata, “Saya menikmati pertandingannya saja.”

Semua harus memiliki jagoan.

Bahkan orang yang tidak hafal nama pelatih kedua tim tetap diminta memilih.

Kaus Lebih Cepat daripada Pengetahuan

Menjelang pertandingan, kaus Argentina muncul di mana-mana.

Di pasar.

Di kantor.

Di pesantren.

Di pusat perbelanjaan.

Di jalan raya.

Ada yang mengenakan nomor 10. Ada yang mengenakan nama Messi. Ada pula yang mengenakan kaus Argentina tanpa mengetahui siapa lawan Argentina berikutnya.

Tidak masalah.

Dalam zaman euforia, simbol lebih cepat bekerja daripada pengetahuan.

Kaus sudah dibeli sebelum susunan pemain diumumkan. Foto sudah diunggah sebelum pertandingan dimulai. Caption sudah disiapkan sebelum hasil diketahui.

Jika Argentina menang, fotonya diberi tulisan tentang loyalitas.

Jika Argentina kalah, caption diganti menjadi pesan tentang kesetiaan dalam keadaan sulit.

Pendukung tidak pernah kalah.

Timnya mungkin kalah, tetapi pendukung selalu menemukan cara untuk tetap menang secara moral.

Yang paling menarik adalah pendukung dadakan yang baru muncul menjelang final.

Sejak babak penyisihan tidak pernah terdengar. Ketika Argentina masuk final, ia tampil paling depan. Ia menjelaskan sejarah Maradona, perjalanan Messi, strategi Scaloni, sampai mentalitas bangsa Argentina.

Sumber pengetahuannya kemungkinan berasal dari tiga video pendek, dua unggahan Instagram, dan satu percakapan grup WhatsApp.

Namun, ia berbicara seperti pernah menjadi asisten pelatih Argentina.

Nobar sebagai Ibadah Sosial Baru

Nonton bareng telah berkembang menjadi kegiatan sosial yang serius.

Tempat dipilih.

Layar disiapkan.

Kursi ditata.

Kopi dipesan.

Spanduk dipasang.

Undangan disebar.

Terkadang persiapan nobar lebih rapi daripada persiapan rapat organisasi.

Dalam rapat, peserta datang terlambat.

Dalam nobar, satu jam sebelum pertandingan sudah penuh.

Dalam pengajian, orang bertanya kapan selesai.

Dalam nobar, orang berharap pertandingan masuk perpanjangan waktu.

Dalam rapat, konsumsi sering dipersoalkan.

Dalam nobar, seseorang dengan sukarela membawa gorengan, kopi, air mineral, kacang, dan mi instan.

Sepak bola berhasil menciptakan gotong royong yang kadang sulit ditemukan dalam kegiatan lain.

Orang yang jarang menyapa tetangga dapat duduk bersama selama dua jam demi Argentina.

Orang yang berbeda pilihan politik dapat berpelukan ketika Messi mencetak gol.

Namun, perdamaian itu memiliki batas waktu.

Setelah pertandingan selesai, mereka kembali bertengkar soal wasit, VAR, calon ketua umum, program pemerintah, dan potongan video yang belum tentu utuh.

Sepak bola menyatukan mereka selama sembilan puluh menit.

Media sosial memisahkan mereka kembali sebelum subuh.

Masjid Pun Tidak Lolos

Masjid seharusnya menjadi tempat orang mengistirahatkan urusan dunia.

Namun, sepak bola memiliki kemampuan masuk melalui celah yang paling kecil.

Seusai salat, jamaah bersalaman.

“Mohon maaf lahir batin.”

“Amin.”

“Nanti nobar di mana?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Ada yang menjawab di rumah.

Ada yang menjawab di kafe.

Ada yang menjawab di aula.

Ada yang mengaku tidak menonton karena pertandingan terlalu malam.

Jawaban terakhir biasanya langsung mendapat nasihat.

“Sekali-sekali begadang. Ini final.”

Seolah-olah final Piala Dunia termasuk keadaan darurat nasional.

Seorang jamaah lain bertanya kepada saya.

“Pak, dukung siapa?”

Saya jawab lagi.

“Saya mendukung MBG dan Koperasi Merah Putih.”

Ia tertawa.

Mungkin dianggap bercanda.

Padahal, saya cukup serius.

Argentina dan Spanyol akan tetap bermain meskipun saya tidak memilih salah satunya. Messi tidak kekurangan pendukung. Stadion juga tidak membutuhkan suara saya.

Sementara itu, Makan Bergizi Gratis perlu dikawal agar benar-benar memberi makanan yang bergizi, aman, layak, dan tepat sasaran.

Koperasi Merah Putih perlu dijaga agar menjadi sarana ekonomi rakyat. Jangan sampai hanya menjadi papan nama, rapat pembentukan, foto bersama, lalu sepi kegiatan.

Pertandingan sepak bola selesai dalam satu malam.

Program publik menentukan kehidupan masyarakat lebih lama.

Namun, menjelaskan hal tersebut pada malam final memang tidak populer.

Orang lebih tertarik membahas siapa pencetak gol pertama daripada siapa pemasok beras untuk dapur MBG.

Mereka lebih semangat menghitung peluang Argentina daripada menghitung peluang koperasi desa berkembang.

Mereka hafal statistik pemain, tetapi belum tentu mengetahui siapa pengurus koperasi di desanya.

Tidak ada yang salah dengan sepak bola.

Yang lucu adalah susunan prioritas kita.

Mendukung Tanpa Pernah Diminta

Messi tidak pernah meminta saya mendukung Argentina.

Federasi Sepak Bola Argentina juga tidak pernah mengirim surat.

Tidak ada undangan resmi.

Tidak ada kartu anggota.

Tidak ada rapat koordinasi pendukung Argentina tingkat kecamatan.

Namun, sebagian orang merasa wajib membela Argentina sampai ke grup keluarga.

Kritik kecil langsung dijawab dengan data.

Komentar tentang wasit dibalas dengan video.

Candaan tentang Messi dianggap penghinaan.

Pendukung bekerja tanpa kontrak, tanpa honor, dan tanpa surat keputusan.

Kesetiaan semacam ini sebenarnya mengagumkan.

Seandainya semangat yang sama dipakai untuk mengurus koperasi, ekonomi desa mungkin bergerak lebih cepat.

Seandainya ketelitian memeriksa VAR dipakai untuk memeriksa kualitas makanan anak sekolah, standar pelayanan publik mungkin meningkat.

Seandainya orang mau mempelajari laporan keuangan koperasi sedalam mereka mempelajari statistik Messi, banyak koperasi tidak akan berhenti pada rapat pembentukan.

Sayangnya, laporan keuangan tidak menghasilkan selebrasi.

Neraca koperasi tidak memiliki tayangan ulang gerak lambat.

Anak yang memperoleh makanan bergizi juga tidak selalu masuk halaman utama media.

Gol lebih mudah dijual daripada gizi.

Selebrasi lebih mudah dibagikan daripada laporan pertanggungjawaban.

Dukung Mana?

Pertanyaan “dukung mana?” akhirnya menjadi semacam kewajiban sosial.

Jawaban netral tidak diterima.

Orang harus memilih Argentina atau Spanyol.

Padahal, pilihan hidup tidak selalu tersedia dalam dua warna kaus.

Saya dapat mengagumi permainan Argentina tanpa menjadi pendukungnya.

Saya dapat menghormati kualitas Spanyol tanpa memasang benderanya.

Saya dapat menonton final tanpa menjadikan hasilnya sebagai persoalan iman.

Saya juga dapat tidur jika mengantuk.

Namun, jawaban semacam itu dianggap kurang bergairah.

Maka saya memilih jawaban lain.

“Saya mendukung MBG dan Koperasi Merah Putih.”

Jawaban itu terdengar tidak nyambung. Justru di situlah letak masalahnya.

Kita menganggap pembicaraan tentang gizi anak dan ekonomi rakyat tidak nyambung dengan kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, perdebatan tentang tim yang berjarak ribuan kilometer dianggap sangat dekat.

Kita dapat marah karena pemain Argentina tidak mendapat penalti.

Namun, kita sering tidak marah ketika anak sekolah menerima makanan yang mutunya buruk.

Kita dapat berdebat panjang tentang strategi pelatih.

Namun, kita cepat bosan membicarakan pengawasan koperasi.

Kita dapat mengenali kesalahan wasit dari sudut kamera yang berbeda.

Namun, kita sering gagal mengenali kesalahan tata kelola yang terjadi di depan mata.

Sesatnya Pendukung

Sesat sepak bola tidak terjadi karena seseorang menyukai Argentina.

Ia terjadi ketika dukungan mengambil terlalu banyak ruang dalam akal sehat.

Ia terjadi ketika hasil pertandingan memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain.

Ia terjadi ketika orang merasa lebih dekat dengan tim asing daripada dengan persoalan masyarakat di sekitarnya.

Ia terjadi ketika energi besar habis untuk membela pemain yang tidak mengenalnya, sementara urusan bersama dibiarkan tanpa pengawasan.

Pendukung Argentina boleh bergembira.

Pendukung Spanyol boleh percaya diri.

Orang yang tidak mendukung keduanya juga tidak perlu diadili.

Sepak bola adalah pertandingan.

Ia dapat dinikmati tanpa diubah menjadi identitas mutlak.

Masalahnya, masyarakat kita sering menyukai identitas yang sederhana.

Kaus menentukan kelompok.

Pilihan menentukan kawan.

Kemenangan menentukan siapa yang boleh mengejek.

Kekalahan menentukan siapa yang harus diam.

Setelah pertandingan, semua kembali bekerja. Harga kebutuhan pokok tidak ikut turun karena Argentina menang. Koperasi tidak langsung maju karena Spanyol menguasai bola. Gizi anak tidak otomatis membaik karena pertandingan berlangsung menarik.

Kita kembali kepada kehidupan yang sebenarnya.

***

Euforia sepak bola memberi kegembiraan. Kita dapat tertawa, berkumpul, dan menikmati permainan yang baik.

Namun, euforia perlu mengetahui batas.

Masjid tidak perlu berubah menjadi ruang deklarasi dukungan. Silaturahmi tidak perlu diawali dengan ujian kesetiaan kepada Argentina. Orang yang tidak menonton tidak perlu dianggap kehilangan bagian dari sejarah.

Bertanyalah kabar lebih dahulu.

Tanyakan kesehatan.

Tanyakan keluarga.

Tanyakan usaha.

Tanyakan apakah koperasi di desanya sudah berjalan.

Tanyakan apakah program makanan bergizi telah diterima anak-anak dengan baik.

Setelah itu, silakan bertanya.

“Nanti nonton di mana?”

Ketika ditanya mendukung siapa, saya tetap memiliki jawaban yang sama.

Saya mendukung MBG agar anak-anak memperoleh makanan yang bergizi dan aman.

Saya mendukung Koperasi Merah Putih agar ekonomi rakyat tidak hanya menjadi bahan pidato.

Untuk Argentina dan Spanyol, silakan bermain sebaik-baiknya.

Saya tidak memiliki kewajiban memenangkan salah satunya.

Kalau pertandingan bagus, saya tepuk tangan.

Kalau mengantuk, saya tidur.

Besok pagi, Messi tidak mencari saya.

Namun, pekerjaan tetap menunggu.

Puji Raharjo, Penikmat Sepak Bola


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.