Arina.id – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk pada Kamis (16/7/2026). Kedua negara kembali terlibat dalam konflik yang berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, meskipun Pakistan telah menyerukan dimulainya kembali perundingan damai.
Gelombang pertempuran terbaru ini terjadi sekitar satu bulan setelah tercapainya kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri konflik. Perang tersebut pertama kali pecah pada akhir Februari 2026 setelah serangan besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran.
Pada Kamis, Iran mengancam akan menyerang berbagai infrastruktur di kawasan apabila Presiden AS Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menghantam pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Ancaman tersebut muncul setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan udara AS di Yordania sebagai balasan atas serangan Amerika di dekat rumah sakit kanker anak di Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan rumah sakit tersebut berada di Kota Ahvaz, Iran barat daya. Fasilitas kesehatan itu dievakuasi setelah wilayah sekitarnya menjadi sasaran serangan udara AS, sementara para pasien dipindahkan ke rumah sakit lain.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai tindakan “biadab”.
Seorang guru berusia 34 tahun di Ahvaz, yang hanya disebut bernama Hani, menggambarkan situasi saat serangan terjadi.
“Serangannya sangat dahsyat. Tangan saya masih gemetar. Ada setidaknya 11 atau 12 ledakan. Telinga saya sampai berdenging,” ujarnya.
AS Serang Target Militer Iran
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya menyerang sejumlah target militer Iran, termasuk di wilayah pesisir Bandar Abbas, dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran mengancam kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
CENTCOM juga menyebut serangan sebelumnya menghantam sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal jelajah di Pulau Greater Tunb, yang berada di kawasan Teluk.
Sementara itu, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan sebuah proyektil menghantam sebagian area Bandara Semnan di Iran utara tanpa menimbulkan korban jiwa. Ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lain, termasuk Provinsi Lorestan di bagian barat, sementara sistem pertahanan udara diaktifkan di sejumlah kawasan Teheran.
Tak lama kemudian, sejumlah negara sekutu AS di Teluk juga melaporkan adanya serangan. Kuwait mengaku berhasil mencegat drone Iran, sedangkan Bahrain membunyikan sirene peringatan serangan udara.
Selat Hormuz Jadi Titik Utama Konflik
Pusat ketegangan konflik berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dan gas dunia.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Iran memblokade Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap lawan-lawannya. Jalur tersebut sempat dibuka kembali setelah tercapainya kesepakatan AS-Iran bulan lalu, namun pekan lalu Teheran kembali menyatakan selat itu akan ditutup hingga “AS menghentikan agresinya”.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan Islamabad akan terus mendorong seluruh pihak menghentikan kekerasan dan melanjutkan kembali perundingan teknis berdasarkan nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan bulan lalu.
Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kesepakatan hanya memiliki arti apabila seluruh klausulnya benar-benar dijalankan.
“Jika Iran tidak memperoleh manfaat apa pun dari nota kesepahaman tersebut, kami tidak memiliki alasan untuk tetap mematuhinya,” katanya.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
“Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara markas besar militer Iran memperingatkan bahwa apabila AS benar-benar melaksanakan ancamannya, maka “seluruh infrastruktur di kawasan akan dihancurkan oleh serangan keras angkatan bersenjata Iran.”
Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Yordania
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan pasukan AS menggunakan pangkalan udara di Yordania untuk melancarkan serangan ke berbagai wilayah Iran. Sebagai balasan, Iran mengaku telah menembakkan dua gelombang rudal ke pangkalan tersebut.
Militer Iran juga menyebut telah mengirimkan drone untuk menyerang fasilitas-fasilitas militer AS di Yordania.
Di sisi lain, militer AS menyatakan salah satu pesawatnya menembaki dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang berusaha menerobos blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sementara itu di Irak, pasukan Kurdi mengatakan koalisi pimpinan AS berhasil menembak jatuh delapan drone bermuatan bahan peledak di atas Erbil, ibu kota Wilayah Kurdistan. Laporan AFP menyebutkan ledakan terdegar kepulan asap terihat di dekat Konsulat AS.
Warga AS Dibebaskan, Korban Terus Bertambah
Presiden Trump juga mengumumkan seorang warga negara AS, yang diidentifikasi pengacaranya sebagai Dena Karari, telah meninggalkan Iran dalam kondisi baik setelah ditahan sejak Desember 2024.
Trump menyebut pembebasan tersebut sebagai “isyarat niat baik” dari Iran.
Namun, pertempuran masih terus memakan korban. Sejak pekan lalu, serangan terbaru AS disebut telah menewaskan sedikitnya 30 orang di Iran, menurut juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani.
Secara terpisah, militer Iran juga melaporkan sejumlah personelnya tewas dalam serangan yang terjadi pada Rabu (15/7/2026) di wilayah tenggara negara tersebut.




Comments are closed.