Wed,9 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Asap Karhutla Kepung Asia Tenggara, Urgennya Solusi Tata Kelola Gambut

Asap Karhutla Kepung Asia Tenggara, Urgennya Solusi Tata Kelola Gambut

asap-karhutla-kepung-asia-tenggara,-urgennya-solusi-tata-kelola-gambut
Asap Karhutla Kepung Asia Tenggara, Urgennya Solusi Tata Kelola Gambut
service

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatra tidak berhenti sebagai persoalan dalam negeri. Kabut asap yang melintasi batas negara membawa dampak bagi masyarakat di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Hal itu memperlihatkan betapa krusialnya pengelolaan gambut yang harus diselesaikan secara menyeluruh melalui pemulihan ekosistem.

Melihat ini, Guru Besar Antropologi Ekologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Muhammad Adib, turut menyampaikan pandangannya.

Kabut asap karhutla melintasi transboundary haze (lintas batas) negara hingga memengaruhi negara jiran. Di Filipina, sejumlah wilayah mencatat kualitas udara yang sangat tidak sehat hingga mendorong penghentian pembelajaran tatap muka. Sementara itu, wilayah Sarawak, Malaysia, menghadapi peningkatan indeks pencemaran udara yang turut memengaruhi kegiatan sekolah.

“Kondisi ini bukan murni sebagai kutukan alam. El Nino hanyalah katalis kekeringan bentang alam. Sumbu utamanya bersifat antropogenik dan struktural. Yaitu rusaknya hubungan sosio-antropologis manusia dengan alam akibat komodifikasi lahan gambut oleh negara dan korporasi industri,” katanya di laman Unair.

Karena itu, kata dia, karhutla yang terjadi di satu wilayah dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih luas. Asap membawa persoalan kesehatan dan lingkungan ke wilayah lain, sekaligus berpotensi memunculkan ketegangan antarnegara. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pemerintah perlu menangani pengelolaan lanskap gambut secara serius.

Adib mendorong pemerintah daerah di Kalimantan segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Pengendalian Gambut Berbasis Tapak. Menurutnya, masyarakat perlu memandang gambut sebagai commons, yakni ruang hidup yang pengelolaannya membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya melalui kebijakan pemerintah dari tingkat pusat.

Pengelolaan ini, lanjutnya, dapat dilakukan melalui Sinergi Tripartit. Pilar pertama ialah Pilar Sains Terapan (BRIN) yang berperan menyediakan teknologi rewetting atau pembasahan gambut, seperti pembangunan smart canal blocking untuk menjaga tata air gambut.

Pilar kedua ialah regulasi dan hukum (Pemerintah Kabupaten). Pemerintah daerah berperan menerbitkan Perda Pengendalian Gambut Berbasis Tapak sekaligus memperkuat penerapan strict liability (tanggung jawab mutlak). Sehingga, pertanggungjawaban terhadap kebakaran pada kawasan konsesi tidak bergantung pada pembuktian unsur kesalahan (mens rea).

“Sementara dari sisi masyarakat diusulkan melalui pilar terakhir yakni Kedaulatan Tapak. Kita perlu merekonstruksi peran Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Adat dari pemadam darurat musiman menjadi daily water stewards (pengelola tata air harian) secara de jure melalui Surat Keputusan Bupati,” kata Adib.

Menurut dia, menjaga gambut tetap basah juga harus berjalan bersama dengan penguatan ekonomi masyarakat. Konsep paludiculture atau budidaya di lahan basah dapat menjadi pilihan melalui pengembangan perikanan rawa maupun komoditas yang sesuai dengan karakter gambut.

“Kita harus mereplikasi kearifan lokal pertanian ramah gambut yang telah sukses berjalan. Ketika gambut tetap basah, warga mendapat panen ekonomi berkelanjutan; sebaliknya, gambut yang terbakar adalah kiamat ekonomi dan ruang hidup bagi mereka,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.