Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua terus meningkat. Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, misal, aktivitas di sejumlah sekolah, pemerintah dan masyarakat terdampak akibat kabut asap. “Asap mengepung dan menguasai kota, sekolah libur. Dari minggu lalu anak-anak diliburkan sampai saat ini,” kata Mananwir Apolos Sroyer, Ketua Dewan Adat Manfun Kawasa Byak kepada Mongabay melalui telepon, Sabtu (29/8/26). Asap karhutla mengepung Kota Biak, Distrik Samofa, Yendidori, Biak Timur, dan Biak Barat. Paparan asap ini, kata Apolos, kemungkinan meluas di wilayah lain karena kemarau panjang dan tidak ada hujan. “Yang terdampak sekali itu kepada anak-anak dan lansia menghirup asap sehingga menjadi sesak nafas, ada yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” katanya. Apolos mengatakan, kebakaran hampir satu bulan ini, upaya pemadaman kebakaran hanya di pinggiran-pinggiran jalan saja karena alat yang kurang memadai. ”Pemerintah mesti melihat kalau pake mobil tidak bisa kenapa tidak pakai helikopter atau pesawat yang kapasitas besar untuk memadamkan api,” katanya. Kebakaran lahan di Provinsi Biak, Agustus 2026. Dokumentasi Aleks Abrauw, Warga Distrik Biak Utara Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan sejak tanggal 1 Agustus-2 September 2026, sebaran titik panas di Papua mencapai 2.169 dengan tingkat kepercayaan tinggi atau di atas 80%. Yakni, Papua Selatan (1.212), Papua Tengah (374), Papua Pegunungan (300), Papua Barat Daya (38), dan Papua (12). Pada periode sama, di Biak terdapat empat titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 383 tingkat kepercayaan sedang. Angka ini terbilang tinggi dari wilayah Papua lainnya. Aleks Abrauw, masyarakat Distrik Biak Utara menyebutkan, sudah dua minggu kebakaran terjadi dan wilayah…This article was originally published on Mongabay
Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas
Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas





Comments are closed.