Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan Amerika untuk berpindah antara Samudra Pasifik dan Atlantik, jauh sebelum Terusan Panama dibangun sebagai jalur alternatif. Posisinya yang berada di titik pertemuan dua samudra sekaligus berbatasan langsung dengan perairan Antartika membuat selat ini tidak pernah benar-benar lepas dari perhatian ahli kelautan maupun pelaut komersial. Ombak besar menghantam geladak kapal saat melintasi Selat Drake, dampak dari infinite fetch yang membuat angin dan arus menumpuk energi tanpa halangan daratan di zona Furious Fifties dan Screaming Sixties. Turbulensi semacam ini justru menjadi bagian dari mekanisme yang membantu Samudra Selatan menyerap karbon dan panas dari atmosfer. (Foto: W. Bulach/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0) Namun di balik reputasi itu, selat ini juga menjadi tempat mengalirnya Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi bumi tanpa terhalang daratan benua. Dasar laut di selat ini bahkan menyimpan rekaman sedimen berusia 140.000 tahun yang membantu ilmuwan merekonstruksi bagaimana arus ini berubah dari masa ke masa, dan bagaimana perubahan itu berkaitan dengan penyerapan karbon oleh Samudra Selatan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada November 2025 baru saja mengungkap bagaimana arus ini tetap bertahan stabil di tengah perubahan pola angin global, temuan yang memperkuat posisi Selat Drake sebagai salah satu penjaga…This article was originally published on Mongabay
Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun
Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun





Comments are closed.