Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Awas Kegocek! Keong Endemik Jawa Jangan Disamakan dengan Bekicot

Awas Kegocek! Keong Endemik Jawa Jangan Disamakan dengan Bekicot

awas-kegocek!-keong-endemik-jawa-jangan-disamakan-dengan-bekicot
Awas Kegocek! Keong Endemik Jawa Jangan Disamakan dengan Bekicot
service

Bagi banyak orang, hampir semua siput bercangkang yang dijumpai di kebun atau pekarangan sering disebut bekicot. Anggapan tersebut telah lama melekat di masyarakat. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penyebutan itu tidak selalu tepat. Bekicot hanyalah salah satu jenis keong, sementara Indonesia memiliki beragam spesies keong asli yang hidup di alam, termasuk yang hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Periset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ayu Savitri Nurinsiyah, menjelaskan bahwa keong dan bekicot merupakan dua spesies yang berbeda, baik dari asal-usul maupun dampaknya terhadap lingkungan.

“Bekicot adalah keong, tapi keong belum tentu bekicot,” ujar Ayu dalam Pelatihan Koleksi dan Identifikasi Gastropoda yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN secara daring, Selasa (22/7).

Keong Endemik dan Bekicot

Menurut Ayu, salah satu keong asli Indonesia adalah Amphidromus javanicus, spesies endemik Pulau Jawa yang hanya ditemukan secara alami di wilayah tersebut. Keberadaannya berbeda dengan bekicot (Lissachatina fulica), yang merupakan spesies asing invasif.

Bekicot berasal dari luar Indonesia dan kini telah menyebar ke berbagai wilayah tropis di dunia. Bahkan, spesies ini masuk dalam daftar 100 spesies asing invasif paling berbahaya karena kemampuannya berkembang biak dengan sangat cepat.

Salah satu faktor yang membuat populasinya mudah meledak adalah sistem reproduksinya. Bekicot merupakan hewan hermafrodit, yaitu memiliki organ reproduksi jantan dan betina dalam satu individu. Kemampuan tersebut meningkatkan peluang berkembang biak sehingga populasinya dapat bertambah dengan cepat ketika kondisi lingkungan mendukung.

Ayu menjelaskan, bekicot pertama kali masuk ke Indonesia sekitar awal 1900-an. Penyebarannya berlangsung lebih masif pada era 1940-an ketika masa pendudukan Jepang, saat hewan tersebut didatangkan untuk dibudidayakan. Sejak itu, bekicot berhasil beradaptasi dan menyebar luas di berbagai daerah.

Sebaliknya, keong endemik seperti Amphidromus javanicus memiliki sebaran yang jauh lebih terbatas. Karena hanya hidup di wilayah tertentu, spesies semacam ini lebih rentan terhadap perubahan habitat, alih fungsi lahan, maupun tekanan lingkungan lainnya.

Mengumpulkan Data untuk Mengenali Keanekaragaman Hayati

BRIN juga menjelaskan teknik pengumpulan dan identifikasi gastropoda, kelompok hewan bercangkang yang mencakup keong dan siput.

Menurut Ayu, terdapat beberapa metode yang umum digunakan peneliti saat melakukan survei lapangan. Teknik seperti time-search, visual search, maupun direct collection dilakukan dengan mengamati habitat secara langsung, kemudian mengambil spesimen menggunakan pinset atau tangan. Dalam praktiknya, beberapa metode biasanya dikombinasikan agar pengumpulan data lebih efektif, terutama ketika waktu dan sumber daya penelitian terbatas.

Setelah spesimen diperoleh, proses berikutnya adalah preservasi. Untuk koleksi berupa cangkang kosong, pembersihan dilakukan menggunakan air dan sikat berbulu halus jika ukurannya besar. Sementara cangkang berukuran kecil dapat dibersihkan menggunakan alat ultrasonik. Setiap spesimen kemudian diberi label yang memuat informasi penting, seperti nomor koleksi, lokasi penemuan, dan nama spesies.

Apabila koleksi berupa individu hidup, prosedur preservasi dilakukan mengikuti standar ilmiah agar karakter morfologi tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian di masa mendatang.

Museum Menjadi Arsip Keanekaragaman Hayati

Ayu menekankan bahwa identifikasi spesies tidak selalu harus dilakukan melalui ekspedisi ke lapangan. Museum koleksi ilmiah memiliki peran yang sama pentingnya karena menyimpan spesimen yang menjadi acuan dalam penelitian taksonomi.

Melalui koleksi tersebut, peneliti dapat membandingkan bentuk cangkang, ukuran tubuh, hingga karakter morfologi lainnya dengan bantuan literatur ilmiah yang telah diterbitkan sebelumnya. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memastikan identitas suatu spesies secara akurat.

Menurut Ayu, pengelolaan museum koleksi ilmiah perlu mendapat perhatian serius karena berfungsi sebagai penyimpan jejak keanekaragaman hayati Indonesia. Spesimen yang tersimpan hari ini dapat menjadi satu-satunya bukti keberadaan suatu spesies apabila habitat alaminya mengalami kerusakan atau bahkan hilang pada masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.