Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Mengenang Tan Liong Houw, Kapten Timnas Indonesia saat Juara Turnamen Merdeka

Mengenang Tan Liong Houw, Kapten Timnas Indonesia saat Juara Turnamen Merdeka

mengenang-tan-liong-houw,-kapten-timnas-indonesia-saat-juara-turnamen-merdeka
Mengenang Tan Liong Houw, Kapten Timnas Indonesia saat Juara Turnamen Merdeka
service

Tan Liong Houw. (Foto: X/Ravando)


Tan Liong Houw atau Latif Harris Tanoto menjadi perbincangan insan sepak bola Indonesia pada April 2026 lalu. Dalam acara penghargaan yang digelar PSSI, Tan mendapat penghargaan “Legend of the Year” dari PSSI karena sumbangsihnya dalam sepak bola nasional.

Di usia sepuh dan badan renta, Tan yang berkursi roda ditemani putranya yang dua di antaranya juga eks pesepak bola yakni Wahyu dan Budi Tanoto hadir di acara. Kehadiran Tan pun membuat insan sepak bola Indonesia belia mengenal lebih dekat melalui sosoknya.

Jauh sebelum menerima penghargaan PSSI pada 2026, Tan Liong Houw sudah meraih penghargaan serupa pada 1960. (Sumber: Koleksi MemoriOlahraga/Notulen Kongres PSSI Ke-XXI)

info gambar

Jauh sebelum menerima penghargaan PSSI pada 2026, Tan Liong Houw sudah meraih penghargaan serupa pada 1960. (Sumber: Koleksi MemoriOlahraga/Notulen Kongres PSSI Ke-XXI)


Tan seharusnya genap berusia 96 tahun pertengahan Juli 2026. Namun, takdir mengatakan batas hidupnya telah usai pada 24 Juni lalu. Ayah empat anak itu dinyatakan meninggal dunia dalam usia 95 tahun. Sepak bola Indonesia pun berduka di tengah suasana gegap gempita Piala Dunia di benua Amerika.

Pemain Istimewa

Tan lahir di Surabaya dari pasangan Tan Chin Hoat dan Ong Giok Tjiam. Darah sepak bola yang kental diwariskan langsung dari ayahnya yang merupakan pemain kenamaan di Kota Surabaya pada masa Hindia Belanda.

Pada periode 1950-an hingga 1960-an, nama Tan kerap menjadi pemberitaan sepak bola Indonesia karena seringnya ia dipanggil membela tim nasional. Empat Asian Games telah diikutinya termasuk edisi keempat yang dihelat di Jakarta pada 1962.

Tan pernah cedera patah kaki yang membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit Santo Carolus. Kendati demikian, ia masih menyempatkan diri hadir dalam laga Persija versus Persib di Lapangan Ikada pada November 1959. (Foto: Aneka)

info gambar

Tan pernah cedera patah kaki yang membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit Santo Carolus. Kendati demikian, ia masih menyempatkan diri hadir dalam laga Persija versus Persib di Lapangan Ikada pada November 1959. (Foto: Aneka)


Selain Asian Games, Tan juga termasuk bagian dari skuad Timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956. Saat itu ia bersama pemain kenamaan lainnya – di antaranya Ramang, Saelan, dan Djamiaat Dhalhar – menahan imbang tim favorit juara Uni Soviet 0-0, walaupun akhirnya tumbang 0-4 pada laga ulangan.

Puncak prestasi Tan dengan Timnas Indonesia yaitu juara Turnamen Merdeka 1961. Dalam laga mini Olimpiade buatan Malaysia itu, Tan – si gelandang tepi yang garang – mampu tampil gemilang membantu barisan pertahanan dan serangan sehingga di final Indonesia mengalahkan Malaysia 2-1 dalam final di Stadion Jalan Besar, pada 15 Agustus tahun tersebut.

Final melawan sang tetangga memang tidak mudah mengingat mereka bermain di hadapan pendukung sendiri. Akan tetapi, karena strategi pelatih Toni Pogacnik-lah yang membuat trofi juara pertama bagi Timnas Indonesia bisa diraih.

Liong Houw mengangkat trofi juara Turnamen Merdeka tengah digotong rekan setimnya seusai Timnas Indonesia mengalahkan Malaysia. (Foto: Warta Bhakti) 

info gambar

Liong Houw mengangkat trofi juara Turnamen Merdeka tengah digotong rekan setimnya seusai Timnas Indonesia mengalahkan Malaysia. (Foto: Warta Bhakti) 


“Strategilah yang menentukan kemenangan Indonesia. Kalau melihat lawan-lawan kita bertanding, sebenarnya ngeri saya karena kecepatan mereka,” kata Tan Liong Houw selaku kapten tim, dikutip Good News From Indonesia dari koran Merdeka berjudul “Harus Bekerdja Lebih Keras, karena Lawan2 Kian Madju” terbitan 22 Agustus 1961.

Tan meninggalkan banyak kenangan kendati torehan trofinya bagi Timnas Indonesia hanya bisa dihitung dengan sebelah tangan saja. Namun, jika mengesampingkan prestasi, ia adalah pemain istimewa terutama bagi orang-orang terdekatnya. Toni Pogacnik dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Kompas, T.D. Asmadi pernah berucap bahwa Tan memiliki kelebihan di mentalitasnya sehingga bisa terus berjuang meskipun tim dalam kondisi tertinggal.

“Tapi Tanoto benar-benar istimewa. Ia bukan saja pemain otak, tetapi juga pemain berjuang. Pemain berjuang akan selalu bekerja tidak peduli kalah atau menang, sangat diperlukan bagi sebuah kesebelasan,” kata Toni Pogacnik, dikutip dari artikel Kompas berjudul “Omong-omong dengan Tony Pogaknik (1): Saya Perlu Pemain-pemain yang Enteng Kaki dan yang Punya Otak” terbitan 21 Juli 1976.

Disiplin dan Keras di Mata Keluarga

Krematorium Rumah Sakit Husada, Jakarta, pada Minggu (5/7/2026) ramai akan karangan bunga untuk mendiang Tan. Pasalnya pada hari itulah jenazah eks kapten Timnas Indonesia tersebut akan dikremasikan. Karangan bunga dari sejumlah tokoh terpampang mulai dari Menteri Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir sampai keluarga mantan rekan setim Tan yakni Him Tjiang.

Good News From Indonesia ikut menghadiri upacara tersebut dan mengucapkan belasungkawa kepada putra tertua Tan, Wahyu Tanoto. “Jangan bilang begitu. Kita di sini bersuka cita,” kata Wahyu yang terkenal sebagai pesepak bola andal pada 1980-an.

Eks kiper Timnas Indonesia, Yudo Hadianto (keempat dari kanan) yang merupakan junior Tan Liong Houw menyempatkan diri untuk melayat beberapa hari sebelum upacara kremasi. (Foto: Yudo Hadianto)

info gambar

Eks kiper Timnas Indonesia, Yudo Hadianto (keempat dari kanan) yang merupakan junior Tan Liong Houw menyempatkan diri untuk melayat beberapa hari sebelum upacara kremasi. (Foto: Yudo Hadianto)


Tan meninggalkan kesan dan pelajaran berharga di mata Wahyu sebagai anak pertama. Menurutnya, sikap sang ayah yang keras dan disiplin sukses membentuknya menjadi pesepak bola sehingga menembus skuad Timnas Indonesia.

“Di rumah keras, disiplin. ‘Kamu main bola gitu ngapain? Harus jadi pemain nasional’,” ujar Wahyu memeragakan wejangan ayahnya.

Wahyu Tanoto bercerita seberapa keras tingkat disiplin sang ayah kepada anak-anaknya. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)

info gambar

Wahyu Tanoto bercerita seberapa keras tingkat disiplin sang ayah kepada anak-anaknya. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)

Tan kini sudah tiada. Bagi Wahyu, kepergian sang ayah adalah penanda bahwa sudah tidak ada lagi pemain Timnas Indonesia Olimpiade Melbourne yang masih tersisa.

“Udah terakhir. Habis,” ujar Wahyu yakin.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.