AWF 2026 Bongkar Dunia Kreatif dari Balik Layar: Branding, Media Digital, hingga Event Besar
Banyak orang melihat iklan hanya sebagai hasil akhir, yaitu visual yang menarik, video yang viral, atau event yang ramai di media sosial. Padahal, di balik semua itu ada proses panjang yang melibatkan strategi, riset audiens, teknologi, hingga kerja kolaboratif lintas industri. Hal inilah yang dibahas dalam sesi ADTALKS 1: BTS Creative Industry di Advertising Week Festival (AWF) 2026.
Melalui sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana industri kreatif bekerja dari belakang layar langsung dari para praktisinya. Tiga pembicara yang hadir berasal dari bidang berbeda, mulai dari branding, media digital, hingga teknologi event, yaitu Art Director Satu Collective Fikri Ardiansyah, Brand & Partnership Manager Good News From Indonesia (GNFI) Vicky Ferbian, serta Commercial Director Goers Ranggaz Ananta Laksmana.
Diskusi ini tidak hanya membahas soal kreativitas, tetapi juga bagaimana industri kreatif terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan perilaku audiens.
Desain Tidak Pernah Diam
Fikri Ardiansyah membuka sesi dengan membahas bagaimana dunia desain terus bergerak dan tidak pernah benar-benar memiliki rumus tetap. Menurutnya, perubahan tren, media, hingga cara audiens menikmati visual membuat pekerja kreatif harus terus belajar.
“Desain itu bukan ilmu yang pasti. Itu terus bergerak,” ujar Fikri.
Ia menjelaskan bahwa Satu Collective yang telah berdiri selama 13 tahun awalnya fokus pada branding dan pembuatan identitas visual. Namun seiring perkembangan industri, ruang kerja mereka kini meluas ke advertising, immersive design, hingga environment design.
Bagi Fikri, dunia kreatif bukan hanya soal menghasilkan visual yang bagus, tetapi juga soal kemampuan menghadapi tekanan dan tantangan. Ia bahkan menyebut ada “kekacauan” di balik visual yang terlihat rapi dan menarik.
“Di balik gemerlapnya visual yang bagus, visual yang menarik, ada kekacauan di dalamnya,” katanya.
Menurutnya, pekerja kreatif perlu memiliki empati, kemampuan komunikasi, dan tanggung jawab terhadap karya yang dibuat. Sebab, desain tidak hanya dituntut menarik secara visual, tetapi juga harus relevan dan bertahan lama.
“Good design itu bukan design yang keren aja, tapi design yang bermakna dan juga long lasting,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Fikri juga membagikan cerita di balik proses kreatif identitas visual G20 Indonesia 2022. Logo G20, menurutnya, tidak dibuat hanya untuk kebutuhan estetika, tetapi juga membawa narasi budaya Indonesia ke panggung global.
Elemen gunungan wayang dipilih sebagai simbol babak baru sekaligus representasi Indonesia setelah pandemi. “Indonesia adalah dalang perubahan untuk dunia yang lebih baik,” kata Fikri saat menjelaskan filosofi visual G20.
Ia juga menekankan bahwa desain harus memiliki “nyawa” dan cerita yang dapat dirasakan audiens. “Kita harus membuat sesuatu tuh ada jiwanya, harus ada narasi dan ceritanya,” ujarnya.
Ketika Media Tidak Lagi Sekadar Membuat Konten
Jika Fikri berbicara soal desain dan identitas visual, Vicky Ferbian dari GNFI membahas bagaimana media digital kini berkembang jauh melampaui produksi konten.
Menurut Vicky, GNFI membangun ekosistem media yang terdiri dari berbagai platform dan komunitas, mulai dari Good News From Indonesia, komunitas Kawan GNFI, hingga media olahraga Garuda Stats yang bekerja sama dengan PSSI.
Namun yang paling penting, kata Vicky, adalah bagaimana semua konten dan campaign dibuat berdasarkan kebutuhan audiens.
“Konten-konten kami adalah berdasarkan dari audience insights,” jelasnya.
GNFI tidak hanya memproduksi berita positif, tetapi juga menjalankan aktivasi, program komunitas, hingga campaign digital yang melibatkan audiens secara langsung. Salah satu program yang paling banyak dibahas adalah Good Creators Academy, program kolaborasi bersama Unilever untuk membina kreator muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Program tersebut lahir dari keresahan GNFI terhadap minimnya regenerasi audiens muda di media positif. Mereka kemudian melihat bahwa pelajar SMA memiliki potensi besar untuk menjadi kreator konten yang lebih edukatif dan inspiratif.
“Anak-anak SMA ini sebenarnya sangat potensial sebagai perpanjangan tangan kabar baik di Indonesia,” kata Vicky.
Melalui program itu, peserta dari berbagai daerah seperti Aceh, Papua, hingga NTT mengikuti pelatihan membuat konten positif. Tidak sedikit peserta yang kemudian mendapat perhatian dari pemerintah daerah maupun brand lokal.
“Every campaign created to create meaningful impact,” ujar Vicky.
Bagi GNFI, keberhasilan sebuah campaign bukan hanya soal angka views atau engagement, tetapi juga dampak yang ditinggalkan. Karena itu, mereka selalu membawa dua prinsip utama dalam setiap program: inclusivity dan impact.
“Inclusivity adalah seberapa luas masyarakat bisa ikut berpartisipasi. Dan yang enggak kalah penting adalah impact,” jelasnya.
Industri Event Berubah karena Teknologi
Sementara itu, Ranggaz Ananta Laksmana dari Goers membahas bagaimana teknologi mengubah industri event dan hiburan dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa Goers awalnya dikenal sebagai platform ticketing digital. Namun kini, perusahaan tersebut berkembang menjadi penyedia layanan venue digitalization dan media agency yang bekerja sama dengan berbagai promotor dan brand besar.
Menurut Ranggaz, pandemi menjadi titik penting yang mempercepat transformasi digital di industri event. Saat itu, Goers membantu Ancol mengubah seluruh sistem transaksi menjadi digital untuk mengurangi kontak fisik.
“Pandemi waktu itu memaksa semuanya berubah menjadi digital,” ujarnya.
Goers kemudian memperluas layanan mereka, mulai dari digitalisasi venue hingga integrasi ticketing dengan berbagai super apps dan aplikasi perbankan. Strategi ini membuat layanan mereka dapat menjangkau pengguna lebih luas tanpa harus bergantung pada satu aplikasi saja.
“Konten daripada Goers itu sudah reach lebih dari 100 million potential ticket buyers,” kata Ranggaz.
Ia juga menjelaskan bahwa kolaborasi menjadi salah satu kunci penting dalam industri event saat ini. Banyak promotor, menurutnya, memiliki konsep acara yang kuat tetapi kesulitan mencari sponsor atau membangun sistem distribusi tiket yang efektif. Di sinilah Goers mencoba mengambil peran sebagai penghubung antara promotor, brand, dan audiens.
Melalui ADTALKS 1, AWF 2026 menunjukkan bahwa industri kreatif saat ini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Branding, media digital, teknologi, hingga event kini saling terhubung dan bergerak bersama membentuk pengalaman baru bagi audiens. Bagi peserta yang hadir, sesi ini bukan hanya membuka gambaran soal dunia kreatif, tetapi juga memperlihatkan bagaimana industri tersebut terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan perilaku generasi digital.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.