Jumat, 28 Agustus 2025, seorang Muktamarin Machasin melalui akun media sosial pribadinya membagikan cerita ketika seekor Ayam yang tak terdaftar dalam undangan memasuki ruang Sidang Pleno 1 tepatnya di Gedung Serba Guna Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
Iya, Machasin bercerita bahwa seekor ayam betina tiba-tiba muncul di tengah-tengah keseriusan sidang. Ia merayap pelan-pelan menuju panggung pimpinan sidang yang saat itu dipimpin oleh Steering Committe (SC) Prof Muhammad Nuh. Kepalanya mendongak. Matanya menatap ke depan. Entah apa yang hendak dicari, tetapi langkahnya tak berhenti.
Peninjau tak terdaftar itu rupanya cukup menarik perhatian. Prof Nuh, yang memimpin sidang, berusaha mengusirnya. “Suh, suh, suh,” ujar Prof Nuh.
Bukannya berbalik, sang ayam, kata Machasin, justru mengambil jalan lain. Ia terbang ke atas para peserta yang duduk di barisan depan, lalu melarikan diri keluar ruangan.
Sidang kembali berjalan.
Namun, kemunculan ayam itu meninggalkan cerita kecil yang menggelitik. Bagi sebagian orang, mungkin ia hanya ayam yang kebetulan tersesat. Tetapi bagi yang pernah mengikuti Muktamar NU di Lampung, kejadian semacam ini mengingatkan pada sebuah peristiwa lain yang tak kalah sederhana: sandal tertukar.
Sandal Tertukar
Setelah Subuh pada 24 Desember, perhatian muktamirin tertuju pada papan penghitungan suara calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Gedung Serbaguna Universitas Lampung.
Perolehan suara KH Yahya Cholil Staquf dan KH Said Aqil Siroj masih dihitung. Jutaan pasang mata menyaksikan proses itu, termasuk melalui siaran langsung YouTube.
Di tengah ketegangan penghitungan suara, tiba-tiba terdengar pengumuman.
“Darurat.”
Pengumuman itu ditujukan kepada para kiai yang baru saja menunaikan salat Subuh di sekitar lokasi penghitungan suara.
“Barangkali para kiai yang tadi salat Subuh di sebelah kiri, ada sandal yang tertukar,” ujar petugas melalui pengeras suara.
Suasana sejenak gaduh.
Para kiai menengok sandal masing-masing. Jangan-jangan sandal kiri semua. Atau malah kanan semua.
Tidak diketahui secara pasti merek sandal yang tertukar itu. Namun, diduga sandal Lily—sandal khas yang banyak dipakai para kiai di pesantren.
Peristiwa sederhana itu bahkan bertahan menjadi bahan pembicaraan di media sosial hingga beberapa hari kemudian.
Komentarnya pun beragam.
“Siapa berani ghosob sandal kiai. Kualat, lho.”
“Kalau yang ghosob sandal kiai juga kiai, ya enggak bisa kualat.”
“Banser, tolong awasi yang datang pakai Swallow!”
Ada-ada saja.
Kini, di Jombang, cerita kecil lain muncul. Bukan sandal, melainkan ayam muktamar.
Menariknya, Prof Nuh kembali menjadi pemimpin sidang, sebagaimana saat Muktamar di Lampung. Jika di Lampung ia harus mengumumkan keberadaan sandal yang tertukar, kali ini ia berhadapan dengan “peninjau” berkaki dua yang masuk tanpa registrasi.
“Seseorang kemudian bertanya kepada saya, “Alamat apa ini?” kata Machasin.
“Saya tidak menjawab.”
Biarlah ayam itu membawa pergi tafsirnya sendiri.
Mungkin ia sekadar ayam yang tersesat dan ingin tahu apa yang sedang diperdebatkan para muktamirin. Mungkin pula ia hanya kebetulan lewat di tengah sebuah perhelatan besar.
“Tetapi mudah-mudahan, sebagai sebuah alamat, kemunculan ayam yang kemudian terusir dan melarikan diri ke luar itu menjadi pertanda baik: segala potensi yang tidak diharapkan menjauh dari Muktamar ke-35 NU,” harapan Machasin.
Sebab dalam perhelatan sebesar Muktamar, selain gagasan besar, selalu ada cerita-cerita kecil yang kelak justru paling mudah diingat. Di
Lampung, ada sandal tertukar. Di Jombang, ada ayam memasuki ruang sidang.





Comments are closed.