New Delhi, Arina.id – Banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan monsun telah menewaskan lebih dari 100 orang di berbagai wilayah India sejak Juli 2026. Bencana tersebut juga memaksa ribuan warga mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir, menurut data resmi yang dirilis Rabu (5/8/2026).
Meski musim monsun menjadi sumber air penting bagi sektor pertanian, para ilmuwan menilai perubahan iklim membuat pola hujan semakin tidak menentu, sulit diprediksi, dan lebih mematikan di kawasan Asia Selatan.
Negara bagian Assam di timur laut India menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Kepala Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, mengatakan sedikitnya 87 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor.
Kabupaten Sivasagar menjadi daerah dengan korban terbanyak. Sebanyak 47 orang dilaporkan tewas, sementara sejumlah wilayah masih terendam banjir.
Pemerintah negara bagian telah mengajak masyarakat memberikan donasi guna mendukung upaya tanggap darurat, bantuan kemanusiaan, serta rehabilitasi wilayah terdampak.
“Kerusakan yang terjadi di sini tidak pernah dialami wilayah-wilayah ini sebelumnya,” tulis Sarma di platform X.
“Kerugian materi dapat dipulihkan, tetapi tidak ada kompensasi yang dapat menggantikan orang yang dicintai.”
Foto-foto yang dirilis AFP memperlihatkan warga dievakuasi menggunakan rakit dan perahu karet menuju tempat yang lebih aman dengan bantuan petugas penanggulangan bencana.
Di negara bagian Kerala, India selatan, hujan deras selama beberapa hari menyebabkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia dan tujuh lainnya masih dinyatakan hilang.
Pemerintah Kerala telah mendirikan lebih dari 300 pos pengungsian yang menampung lebih dari 10.000 warga. Selain memicu tanah longsor, hujan lebat juga menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman.
Sementara itu, di wilayah Himalaya Jammu dan Kashmir, sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas akibat beberapa kali hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.
Bencana yang berkaitan dengan musim monsun hampir setiap tahun melanda India, terutama setelah musim panas panjang yang menyebabkan banyak wilayah mengalami kekeringan dan krisis air.
Sri Lanka Juga Dilanda Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem turut melanda Sri Lanka. Hujan monsun yang lebih deras dari biasanya memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya delapan orang sejak Senin lalu, menurut Disaster Management Centre.
Sekitar 12.000 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang terendam banjir di wilayah tengah negara tersebut.
Ironisnya, pada saat yang sama wilayah timur Sri Lanka justru mengalami kekeringan parah. Pemerintah harus mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemerintah Sri Lanka bulan lalu menyatakan cuaca ekstrem tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino, yang meningkatkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
Hingga kini pemerintah masih menghitung potensi kerugian ekonomi akibat dampak El Nino, sekaligus membentuk satuan tugas tingkat kementerian untuk mengurangi dampak bencana tersebut.




Comments are closed.