Jakarta, Arina.id—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menepis isu Istana cawe-cawe dalam agenda Muktamar NU. Dia menegaskan tidak ada intervensi baik dari Istana maupun Presiden Prabowo Subianto.
“Saya tidak melihat juga kepentingan Presiden atau Istana misalnya untuk mempengaruhi, untuk cawe-cawe terkait dengan NU ini buat apa? Enggak ada gunanya bagi pemerintah, enggak ada gunanya bagi presiden sendiri misalnya,” ujarnya dalam jumpa pers yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7).
Gus Yahya menegaskan jika ada klaim dari figur tertentu yang mengantongi restu presiden untuk maju sebagai caketum PBNU itu adalah kebohongan.
“Dan kalau ada yang mengklaim bahwa dia misalnya direstui bahkan diperintah oleh Presiden, pasti bohong,” imbuh Gus Yahya.
Gus Yahya menjelaskan, NU telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola dinamika organisasinya secara mandiri. Bahkan, usia NU lebih tua dibandingkan Republik Indonesia.
“Nahdlatul Ulama ini umurnya lebih tua dari Indonesia. Nahdlatul Ulama itu lahir 1926, Indonesia proklamasi baru 1945,” kata Gus Yahya.
Ia mengatakan, sebagai organisasi yang telah berdiri hampir satu abad, NU memiliki kematangan dalam menyelesaikan berbagai dinamika internal secara independen.
Gus Yahya mengakui selalu ada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi sebesar NU. Namun, menurut dia, upaya-upaya tersebut tidak pernah menghilangkan kemandirian organisasi.
“Bahwa ada pihak-pihak yang ingin campur tangan, ingin ini, ingin itu ya ini biasa. Namanya di dalam masyarakat itu ada pihak-pihak yang punya kepentingan masing-masing dan mungkin selama ini juga sudah dicoba,” tutur dia.
“Tetapi kita bisa lihat bukti bahwa NU senantiasa tetap di dalam kemandiriannya, tetap di dalam kedewasaannya untuk menyelesaikan dan memproses dinamika organisasi ini secara dewasa dan independen,” imbuhnya.




Comments are closed.