Mubadalah.id – Pertengahan tahun 2026 menjadi salah satu fase paling mendalam dalam perjalanan hidup saya. Tepat setelah Lebaran tahun ini, saya mengalami sebuah peristiwa yang hingga kini masih sulit saya cerna. Pengalaman trauma itu tidak mudah saya ceritakan, terlebih ketika orang-orang terdekat, termasuk keluarga, justru meragukan apa yang saya alami.
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Luka semacam itu tidak selalu membutuhkan pertanyaan panjang. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan orang lain yang mau duduk, mendengarkan, lalu berkata, “Saya percaya kamu sedang mengalami sesuatu yang berat.”
Sayangnya, dukungan semacam itu tidak selalu saya dapatkan. Pada saat itu, saya mendengar dan melihat sesuatu yang sulit saya pahami karena tidak masuk dalam logika yang saya kenal. Saya sempat bersilaturahmi ke pondok, tetapi saya tidak berani menceritakan kejadian tersebut. Dalam kondisi itu, keluarga membawa saya tiga kali menemui psikiater.
Namun, saya tidak memperoleh penjelasan diagnosis yang jelas tentang apa yang sedang saya alami. Saya hanya menerima obat yang membuat saya lebih banyak tidur dan kesulitan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Keluarga saya juga membawa saya menemui seorang tokoh Jawa. Alih-alih merasa lebih tenang, saya justru semakin dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan ketika menjalani aktivitas sehari-hari.
Dari situ, saya belajar satu hal penting, manusia yang sedang berada dalam kondisi rapuh tidak selalu membutuhkan orang yang tergesa-gesa memberikan label. Ia membutuhkan ruang aman untuk didengarkan.
Di sinilah saya mulai memahami pentingnya kesalingan atau mubadalah. Dalam relasi antarmanusia, kita tidak cukup bertanya tentang apa yang harus orang lain lakukan kepada kita. Kita juga perlu bertanya: Jika suatu hari saya berada di posisi orang yang sedang terluka, bagaimana saya ingin diperlakukan? Pertanyaan sederhana tersebut semestinya menjadi dasar ketika kita membangun hubungan sosial.
Sebelum Jatuh, Saya Dihadapkan pada Tanggung Jawab
Peristiwa tersebut hadir ketika kehidupan saya memang sedang berada dalam fase yang berat dan belum pernah saya jalani sebelumnya. Setelah almarhum Bapak meninggal, saya perlahan belajar menjalankan berbagai peran yang sebelumnya banyak beliau lakukan. Saya mulai belajar menjadi kepala keluarga, membangun hubungan dengan masyarakat, sekaligus mengambil keputusan dengan lebih bijak.
Di tengah keadaan itu, saya juga harus memikirkan keuangan untuk memenuhi kebutuhan rumah sekaligus membiayai studi S2. Waktu saya harus terbagi antara kuliah, mengajar di sekolah dasar, dan bertani. Persoalan hubungan juga hadir sebagai bagian dari masa depan yang kala itu saya pandang serius. Selain itu, saya ingin menyiapkan kemandirian ekonomi agar keluarga yang kelak saya bangun dapat menjalani kehidupan dengan baik.
Semua persoalan tersebut bertemu dengan pengalaman masa kecil yang belum sepenuhnya selesai. Trauma yang belum pulih, tekanan lingkungan, serta kondisi sosial dari waktu ke waktu turut memengaruhi kehidupan saya.
Manusia sering terlihat baik-baik saja dari luar. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak beban yang sedang ia bawa. Karena itu, perspektif mubadalah mengajarkan satu hal penting yakni jangan memahami seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Kesalingan mengajak kita menempatkan diri bukan sebagai hakim atas kehidupan orang lain, melainkan sebagai sesama manusia yang sama-sama memiliki keterbatasan, luka, kebutuhan, dan harapan. Hari ini mungkin kita merasa kuat. Namun, tidak ada jaminan bahwa esok kita tidak membutuhkan pertolongan orang lain.
Stigma Datang Saat Kita Membutuhkan Dukungan
Dalam kondisi tersebut, beberapa lingkaran di sekitar saya mengatakan bahwa saya sedang mengalami stres dan depresi berat. Sebagian lainnya bahkan mengaitkan keadaan itu dengan faktor keturunan keluarga.
Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seseorang yang sedang berada di titik paling rapuh dalam kehidupan, sebuah label dapat terasa seperti pukulan kedua. Ketika saya membutuhkan dukungan untuk bangkit, saya justru merasa orang lain menempatkan saya dalam sebuah kotak bernama “orang sakit”.
Beberapa bulan terakhir, saya memilih memperkecil lingkungan sosial, mengisolasi diri untuk sementara, dan menjaga batas dengan orang lain. Keputusan itu bukan karena saya membenci siapa pun. Saya juga tidak bermaksud menjauh dari kehidupan. Saya hanya sedang berusaha memberikan ruang bagi diri sendiri untuk pulih.
Menjaga jarak untuk sementara bukan berarti menyerah. Terkadang, batas justru membantu seseorang menyelamatkan dirinya agar kelak dapat kembali hadir dalam kehidupan dengan kondisi yang lebih sehat. Dalam perspektif mubadalah, merawat relasi tidak berarti selalu memaksakan kedekatan. Kesalingan juga berarti menghormati batas, kebutuhan, dan ruang masing-masing.
Jangan Terburu-buru Memberi Label
Dalam sebuah percakapan, seorang kawan menyampaikan dengan cukup keras bahwa saya mengidap skizofrenia. Ada pula yang menghubungkannya dengan asam lambung yang naik hingga membuat pikiran dan daya fokus saya terasa tidak stabil.
Namun, sampai pada titik ini, saya tidak ingin menulis seolah-olah mengetahui diagnosis diri sendiri. Saya bukan orang yang memiliki kewenangan untuk memberikan diagnosis medis, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman ketika seseorang berada dalam kondisi yang tidak mudah dipahami, sementara orang-orang di sekelilingnya berlomba-lomba memberikan kesimpulan. Bukankah pada titik seperti itu kita perlu berhenti sejenak?
Seseorang yang mengalami persoalan kesehatan mental bukan berarti kehilangan seluruh kemampuan berpikirnya. Kondisi tersebut tidak serta-merta membuatnya kehilangan kemampuan untuk mencintai, bekerja, belajar, berkarya, berorganisasi, atau berkontribusi bagi masyarakat. Saya tetap manusia. Karena itu, persoalan kesehatan mental tidak otomatis menghilangkan martabat saya sebagai manusia.
Perspektif mubadalah membantu kita melihat persoalan tersebut melalui prinsip kesalingan dalam memanusiakan. Kita tentu tidak ingin menerima label yang merendahkan ketika sedang berada dalam kondisi sulit. Maka, kita pun tidak seharusnya memberikan perlakuan serupa kepada orang lain.
Kita ingin didengarkan sebelum dihakimi. Maka, kita juga perlu belajar mendengarkan sebelum menyimpulkan. Kita ingin memperoleh kesempatan untuk menjelaskan diri. Dengan prinsip yang sama, kita perlu memberikan kesempatan tersebut kepada orang lain. Inilah kesalingan: memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Diagnosis Bukan Identitas Seseorang
Dalam konteks Indonesia, persoalan kesehatan mental sesungguhnya tidak hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan hak dan martabat manusia. Ketika seseorang memperoleh diagnosis tertentu, termasuk skizofrenia, diagnosis tersebut semestinya membantu proses perawatan dan pemulihan, bukan berubah menjadi identitas tunggal yang menghapus seluruh sisi kemanusiaannya.
Seseorang mungkin sedang mengalami gangguan kesehatan mental, tetapi ia tetap seorang anak bagi keluarganya, seorang sahabat bagi kawannya, seorang guru bagi muridnya, seorang mahasiswa, seorang petani, seorang pekerja, seorang anggota masyarakat, sekaligus seseorang yang memiliki mimpi dan harapan.
Kondisi seseorang boleh berubah, tetapi martabatnya sebagai manusia tidak seharusnya ikut berkurang. Semangat mubadalah melihat manusia bukan semata-mata berdasarkan kelemahannya. Perspektif tersebut menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kemampuan, kebutuhan, kehendak, dan hak untuk menentukan kehidupannya.
Karena itu, dukungan yang seseorang butuhkan mestinya hadir dalam bentuk pendampingan sesuai kebutuhan, bukan pengucilan. Kita perlu memberikan kesempatan untuk pulih, bukan sekadar menempelkan label. Kita juga tidak perlu mengambil alih seluruh kehidupannya, melainkan membantu agar ia tetap memiliki ruang untuk menentukan dan menjalani hidupnya.
Kesehatan Mental Menjadi Persoalan Kemanusiaan
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, apakah seseorang yang mengalami persoalan kesehatan mental boleh mengalami diskriminasi dari lingkungan sosial? Tentu tidak.
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku untuk saya. Siapa pun dapat berada dalam posisi yang sama. Kita sering berbicara tentang masyarakat yang inklusif, tetapi terkadang masih kesulitan menerima orang yang berbeda dari ukuran “normal” yang kita bangun sendiri.
Kita ingin masyarakat menjadi tempat yang aman bagi diri kita. Namun, ketika orang lain mengalami kerentanan, kita justru menjauhinya. Di sinilah prinsip mubadalah menjadi sangat relevan. Mubadalah tidak berhenti pada gagasan “saling”. Ia mengajak kita memahami bahwa kehidupan manusia tumbuh melalui hubungan yang setara, berkeadilan, saling menghormati, dan saling menguatkan.
Karena itu, ketika seseorang sedang jatuh, masyarakat seharusnya tidak membuatnya semakin terpuruk.
Ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengurus sebagian kehidupannya, kita dapat membantu sesuai kebutuhannya. Saat seseorang membutuhkan ruang, kita menghormatinya. Ketika ia mulai bangkit, kita tidak perlu terus-menerus mengingatkan masa ketika ia jatuh. Membantu seseorang bangkit juga berarti belajar melepaskan label yang pernah kita sematkan kepadanya.
Hak Hidup dengan Martabat
Saya menulis pengalaman ini bukan untuk meminta belas kasihan. Saya menulis karena tidak ingin pengalaman semacam ini berhenti sebagai luka pribadi.
Harapan saya sederhana, jangan sampai ada korban berikutnya yang harus menghadapi kesendirian hanya karena masyarakat tidak tahu bagaimana merespons persoalan kesehatan mental. Setiap manusia memiliki hak untuk hidup, mendapatkan penghormatan atas martabatnya, bebas dari stigma dan diskriminasi, memperoleh privasi, serta mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum.
Kepada siapa pun yang pernah berada di sekitar orang dengan persoalan kesehatan mental, saya ingin menyampaikan satu hal, angan mudah memberikan stigma hanya karena kita mendengar cerita tentang dirinya.
Apalagi jika kita tidak pernah berada dalam situasi yang sama. Jangan menjadikan satu peristiwa sebagai keseluruhan identitas seseorang. Jangan pula menjadikan satu diagnosis sebagai seluruh cerita hidupnya. Masa terburuk seseorang tidak seharusnya menjadi cara kita mendefinisikan masa depannya.
Jatuh Bukan Berarti Selesai
Dalam proses pemulihan ini, saya teringat pada seseorang yang dahulu sering memberikan nasihat kepada saya. Beliau pernah menyampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki fase ketika hidup terasa jatuh sedalam-dalamnya. Namun, kita tidak boleh terus-menerus memeluk luka tersebut. Luka perlu disembuhkan, sedangkan hidup perlu ditata kembali.
Nasihat itu kemudian hadir melalui sebuah filosofi sederhana tentang huruf “U”. Huruf U dimulai dari atas, turun ke bagian paling bawah, lalu perlahan bergerak naik kembali. Saya menyukai filosofi sederhana tersebut.
Bukankah kehidupan juga demikian?
Ada masa ketika kita berada di atas. Pada masa lain, kita bisa jatuh begitu dalam hingga tidak tahu harus mulai dari mana. Meski begitu, mencapai dasar bukan berarti perjalanan telah selesai. Masih ada jalan untuk naik. Ada kemungkinan untuk pulih. Adada kesempatan untuk menata ulang kehidupan.
Dalam proses tersebut, kita tidak selalu mampu bangkit sendirian. Terkadang, kita membutuhkan keluarga. Pada kesempatan lain, kita membutuhkan sahabat. Ada pula saat ketika kita membutuhkan tenaga profesional atau lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Manusia memang tidak diciptakan untuk menjalani seluruh kehidupannya seorang diri.
Perlahan Kembali Menjalani Kehidupan
Alhamdulillah, hari ini saya mulai merasakan perubahan itu, meskipun berlangsung perlahan. Saya mulai kembali mengajar, menyelesaikan tesis yang sempat tertunda, kembali bertani, berkarya, serta perlahan membuka ruang sosial yang sempat saya tutup.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai. Mungkin memang belum. Namun, sekarang saya memahami bahwa proses pulih tidak harus berlangsung dengan terburu-buru. Ada hari ketika saya merasa kuat. Pada hari lain, saya kembali lelah. Terkadang saya juga ingin sendiri. Semua pengalaman tersebut merupakan bagian dari perjalanan.
Saya sedang belajar berdamai dengan apa yang telah terjadi tanpa membiarkan peristiwa tersebut menentukan seluruh masa depan. Mungkin, inilah pesan terpenting yang ingin saya sampaikan dari perjalanan tersebut.
Kita tidak pernah tahu kapan posisi kita akan bertukar. Hari ini kita mungkin menjadi orang yang mendampingi. Esok bisa jadi justru kita yang membutuhkan pendampingan. Saat ini kita merasa kuat, tetapi esok mungkin kita berada di titik paling rapuh. Sekarang kita merasa mampu memahami orang lain, tetapi suatu hari nanti kita mungkin membutuhkan orang lain untuk memahami kita.
Saya mungkin pernah berada di dasar huruf “U”. Namun, kini saya sedang belajar naik kembali. Pelan-pelan, dengan luka yang mungkin tidak sepenuhnya hilang, tetapi dengan keberanian untuk menata ulang kehidupan. Dan jika pengalaman ini memiliki satu makna yang ingin saya bagikan, mungkin pesannya sederhana: jangan biarkan seseorang merasa sendirian hanya karena ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Sebab, suatu hari nanti, kita semua mungkin membutuhkan tangan yang sama untuk membantu kita bangkit. []





Comments are closed.