Jakarta, Arina.id—Akademisi sekaligus pengkaji filsuf, Fahruddin Faiz, menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh semangat, keberanian, atau cita-cita. Menurutnya, setiap individu juga harus terus mengasah keahlian melalui proses belajar yang berkelanjutan agar potensi yang dimiliki dapat diwujudkan secara nyata.
Dalam pemaparannya, Fahruddin mengutip nasihat Alexander the Great yang menekankan keterkaitan antara pengetahuan, keahlian, dan kekuatan. Ia mengutip tiga kalimat penting, yakni, “Tanpa pengetahuan keahlian tidak dapat difokuskan. Tanpa keahlian, kekuatan tidak dapat digunakan. Tanpa kekuatan, pengetahuan tidak dapat diterapkan.”
Menurut Fahruddin, kalimat pertama mengajarkan bahwa keahlian tidak akan berkembang tanpa pengetahuan. Setiap orang memang memiliki bidang keahlian masing-masing, tetapi kemampuan tersebut harus terus diasah dengan memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Jika seseorang berhenti belajar, maka keahliannya akan tetap dangkal dan sulit berkembang.
“Kalau kita tidak mau belajar, keahlian kita akan tetap dangkal. Kita hanya tahu sedikit, dan pengetahuan yang setengah-setengah justru bisa berbahaya,” ujarnya sebagaimana ditayangkan di akun YouTube Channel Ngaji Filsafat diakses Sabtu (4/7/2026)
.Ia mencontohkan seseorang yang hanya membaca satu buku filsafat lalu merasa telah menguasai seluruh disiplin tersebut. Kondisi seperti itu, menurutnya, dapat menimbulkan kesalahpahaman hingga membuat seseorang terlalu percaya diri mengomentari berbagai persoalan tanpa landasan pengetahuan yang memadai.
Fahruddin menegaskan bahwa keahlian harus terus dipupuk melalui proses belajar yang konsisten. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin tajam pula kemampuan yang dimilikinya dalam bidang tertentu.
Selain pengetahuan, ia juga menyoroti pentingnya keahlian sebagai sarana untuk mengaktualisasikan potensi. Menurutnya, setiap orang memiliki kekuatan atau bakat yang berbeda-beda. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diiringi dengan latihan hingga menjadi sebuah keahlian.
“Kalau kita punya potensi, tetapi tidak pernah mengasahnya menjadi keahlian, maka potensi itu hanya akan tinggal sebagai potensi. Tidak pernah menjadi kemampuan yang benar-benar bisa digunakan,” jelasnya.
Ia memberi contoh seseorang yang memiliki bakat berbicara di depan umum. Bakat tersebut tidak akan berkembang apabila tidak dilatih melalui pengalaman, pembelajaran, maupun peningkatan kemampuan komunikasi. Dengan kata lain, potensi hanya akan menghasilkan manfaat ketika diwujudkan menjadi keahlian.
Lebih lanjut, Fahruddin menjelaskan bahwa pengetahuan juga memerlukan kekuatan agar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Seseorang bisa saja memiliki wawasan yang luas, tetapi apabila tidak memiliki kemampuan atau daya untuk mengimplementasikannya, maka ilmu tersebut hanya akan berhenti sebagai pengetahuan semata.
Karena itu, ia menilai pengetahuan, keahlian, dan kekuatan merupakan tiga unsur yang saling melengkapi dalam membangun kapasitas diri.
“Pengetahuan semakin bertambah, keahlian juga semakin meningkat. Kemudian kekuatan yang kita miliki bisa diwujudkan. Ketiganya saling berkaitan dan saling menguatkan,” katanya.
Fahruddin mengajak setiap orang untuk melakukan refleksi terhadap kapasitas dirinya. Menurutnya, penting bagi setiap individu untuk mengenali potensi yang dimiliki, mengembangkan keahlian melalui proses belajar, serta memastikan kemampuan tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa potensi dasar berkaitan dengan kekuatan, pengembangannya diwujudkan melalui keahlian, sedangkan peningkatan kualitas keahlian sangat ditentukan oleh pengetahuan. Sebaliknya, pengetahuan baru akan memberikan manfaat apabila didukung oleh kekuatan dan keahlian yang memadai.
“Pelajaran dari Alexander the Great ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan, keahlian, dan kekuatan bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri. Ketiganya harus tumbuh bersama agar seseorang mampu mencapai kapasitas terbaiknya,” tegasnya.




Comments are closed.