Sat,25 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. 6.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz, PBB: Kondisinya Sangat Mengerikan Butuh Segera Dievakuasi

6.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz, PBB: Kondisinya Sangat Mengerikan Butuh Segera Dievakuasi

6.000-pelaut-terjebak-di-selat-hormuz,-pbb:-kondisinya-sangat-mengerikan-butuh-segera-dievakuasi
6.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz, PBB: Kondisinya Sangat Mengerikan Butuh Segera Dievakuasi
service

Arina.id — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak negara-negara yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah untuk segera mengambil langkah bersama guna mengevakuasi dan memulangkan sekitar 6.000 pelaut yang hingga kini masih terjebak di perairan Selat Hormuz.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menilai kondisi yang dialami para pelaut telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang serius. Melalui juru bicaranya, Shabia Mantoo, PBB meminta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik maupun industri pelayaran untuk menjamin keselamatan awak kapal yang masih berada di kawasan tersebut.

“Para pelaut menghadapi krisis kemanusiaan dan hak asasi manusia yang mengerikan. Mereka harus segera diberikan akses untuk dievakuasi, dipulangkan, dan memperoleh perlindungan yang layak,” kata Mantoo saat menyampaikan pernyataan Volker Turk dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (24/7/2026).

PBB juga menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai membuka jalur aman sehingga pergantian awak kapal (crew change) dapat dilakukan tanpa hambatan. Selain itu, kapal-kapal yang masih berada di kawasan konflik harus tetap memperoleh pasokan kebutuhan pokok, termasuk makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data International Maritime Organization (IMO), sekitar 6.000 pelaut yang bekerja di hampir 400 kapal masih berada di Selat Hormuz dan belum dapat meninggalkan wilayah tersebut akibat memburuknya situasi keamanan. Sebagian dari mereka telah berada di laut jauh melebihi masa kontrak kerja karena pergantian awak kapal tidak dapat dilakukan.

PBB mengungkapkan, selain ancaman keamanan akibat konflik bersenjata, sebagian pelaut juga menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Sedikitnya 93 awak kapal di sembilan kapal dilaporkan ditelantarkan oleh pemilik kapal. Mereka tidak menerima upah, kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, dan tidak memiliki kepastian mengenai proses pemulangan ke negara asal.

Volker Turk menegaskan bahwa para pelaut merupakan pekerja sipil yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan perdagangan internasional. Karena itu, mereka tidak boleh menjadi korban dari konflik bersenjata.

“Mereka bukan bagian dari konflik. Mereka menjalankan fungsi vital bagi perdagangan global dan berhak mendapatkan perlindungan sesuai hukum internasional,” ujar Mantoo mengutip pernyataan Volker Turk.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Gangguan keamanan di kawasan ini tidak hanya mengancam keselamatan pelaut, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan meningkatkan biaya logistik internasional.

Sejak eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat, sejumlah perusahaan pelayaran memilih membatasi bahkan menunda pelayaran melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan awak kapal tertahan di kawasan dengan tingkat risiko keamanan yang tinggi, sementara biaya asuransi perang dan ongkos pengiriman internasional terus meningkat.
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.