Mimpi kerap memunculkan pengalaman yang terasa begitu nyata hingga memunculkan anggapan bahwa manusia sedang mengakses realitas lain atau bahkan alam semesta paralel. Namun, apakah klaim itu benar adanya?
Guru Besar Fisika Teori IPB University, Husin Alatas, menegaskan hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim itu. Menurutnya, mimpi lebih dapat dijelaskan sebagai hasil aktivitas kompleks otak selama tidur dibandingkan sebagai akses menuju “dunia lain”.
“Dari sudut pandang fisika-kimia, otak merupakan sistem kompleks yang terdiri atas miliaran neuron yang saling terhubung melalui sinyal listrik dan komunikasi kimiawi menggunakan neurotransmiter,” kata Husin. Ia pengajar mata kuliah Biofisika dan Kompleksitas pada Program Studi Magister Biofisika IPB University.
Saat seseorang terjaga, lanjutnya, otak secara aktif menerima, mengintegrasikan, dan memproses informasi dari lingkungan hingga membentuk persepsi mengenai realitas.
“Ketika tidur, aktivitas otak tidak berhenti. Justru pada fase rapid eye movement (REM), aktivitas beberapa wilayah otak mendekati kondisi saat terjaga. Pada fase inilah mimpi paling sering dan paling jelas terjadi,” ujarnya.
Selama fase REM, otak memproses kembali pengalaman, emosi, serta ingatan yang diperoleh ketika terjaga. Hipokampus bersama jaringan korteks berperan dalam proses konsolidasi memori sehingga berbagai orang, tempat, maupun peristiwa yang pernah dialami dapat muncul kembali dalam mimpi.
“Otak juga memiliki kemampuan mengombinasikan berbagai fragmen memori dengan imajinasi secara kreatif,” kata Husin menambahkan.
Mengapa mimpi terasa aneh?
Husin menerangkan, aktivasi spontan berbagai jaringan otak selama REM menyebabkan rangkaian peristiwa dalam mimpi sering kali tidak mengikuti logika kehidupan sehari-hari. Berdasarkan temuan neurosains, fenomena ini merupakan konstruksi internal otak. Kondisi ini yang membuat mimpi terasa seperti berasal dari realitas yang berbeda.
Di sisi lain, ia mengakui fisika modern memang mengenal sejumlah konsep mengenai kemungkinan adanya alam semesta lain. Salah satunya adalah interpretasi Many-Worlds dalam mekanika kuantum yang mengusulkan bahwa setiap kemungkinan hasil pengukuran kuantum terealisasi pada cabang alam semesta yang berbeda.
Selain itu, terdapat pula hipotesis multiverse dalam kosmologi yang berkembang dari teori inflasi kosmik.
“Meski demikian, kedua gagasan tersebut masih bersifat teoretis dan belum memiliki bukti observasional langsung. Hingga kini juga belum ada teori fisika yang menghubungkan aktivitas otak saat bermimpi dengan akses menuju alam semesta paralel,” katanya.
Karena itu, Husin menilai klaim bahwa mimpi merupakan bukti keberadaan alam semesta paralel lebih tepat dipandang sebagai spekulasi filosofis atau interpretasi metafisis daripada kesimpulan ilmiah.
Ia menambahkan mekanisme terbentuknya mimpi memang masih terus diteliti, Tapi berdasarkan pengetahuan ilmiah saat ini, mimpi dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara ingatan, emosi, persepsi, dan imajinasi selama tidur, bukan sebagai jendela menuju realitas lain.





Comments are closed.