Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Food Loss and Waste Hortikultura Jangkau 31.80 Persen, Perlunya Manajemen Pascapanen Presisi

Food Loss and Waste Hortikultura Jangkau 31.80 Persen, Perlunya Manajemen Pascapanen Presisi

food-loss-and-waste-hortikultura-jangkau-31.80-persen,-perlunya-manajemen-pascapanen-presisi
Food Loss and Waste Hortikultura Jangkau 31.80 Persen, Perlunya Manajemen Pascapanen Presisi
service

Tingkat food loss and waste (FLW) pada komoditas hortikultura di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data FLW Indonesia periode 2000–2019 pada kategori pangan, losses pada buah-buahan mencapai 45,5 persen, sedangkan sayuran mencapai 62,8 persen dari total suplai domestik

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas padi-padian yang berada di angka 13,4 persen. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian Ketty Suketi, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University.

Dalam orasi ilmiahnya, 22 Agustus, 2026, Ketty mengangkat konsep “Manajemen Pascapanen Presisi untuk Menekan Losses dan Meningkatkan Mutu Hortikultura Tropika”. Konsep ini menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kehilangan hasil sekaligus mempertahankan kualitas produk hortikultura.

“Keunggulan manajemen pascapanen presisi dibandingkan metode pascapanen konvensional terletak pada ketepatan intervensi. Teknologi tidak diterapkan secara seragam untuk semua komoditas, tetapi disesuaikan dengan karakter fisiologi, tingkat kematangan, waktu dan dosis aplikasi, serta kondisi lingkungan,” ujar Ketty.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki suhu dan kelembapan relatif tinggi yang dapat mempercepat penurunan mutu serta meningkatkan risiko serangan penyakit pascapanen. Di sisi lain, setiap komoditas hortikultura memiliki karakter fisiologis, tingkat kematangan, dan umur simpan yang berbeda. Karena itulah, Ketty menegaskan, perlunya penanganan yang spesifik.

Ia menjelaskan, sejumlah teknologi pascapanen berbasis biologi telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Aplikasi khamir Aureobasidium pullulans dan Candida tropicalis, misalnya, mampu meningkatkan daya simpan buah pepaya Calina hingga 13 hari pada suhu ruang atau enam hari lebih lama dibandingkan kontrol.

Pada buah mangga yang disimpan pada suhu 15 derajat celsius, penggunaan kedua jenis khamir tersebut mampu memperpanjang umur simpan hingga 30–39 hari atau sekitar 5–14 hari lebih lama dibandingkan kontrol.

Teknologi pascapanen berbasis kimia juga menunjukkan potensi dalam memperpanjang masa simpan. Penggunaan asam askorbat dan BAP pada buah rambutan mampu memperpanjang daya simpan sekitar dua hari untuk kualitas ekspor. Sementara itu, aplikasi kitosan pada pepaya Calina dapat meningkatkan umur simpan hingga 11 hari atau empat hari lebih lama dibandingkan kontrol.

Pada komoditas pisang Raja Bulu, aplikasi kalium permanganat (KMnO4) mampu menunda puncak klimakterik hingga delapan hari penyimpanan. Kondisi ini dapat memperpanjang masa simpan sekaligus memberikan waktu distribusi yang lebih panjang.

Selain pendekatan biologis dan kimia, teknologi fisik juga menjadi bagian dari manajemen pascapanen presisi. Aplikasi UV-C, misalnya, dapat memperpanjang kesegaran produk selama 9–12 hari penyimpanan sekaligus meningkatkan kandungan capsaicin.

Sementara itu, penggunaan LED biru pada cabai merah keriting dapat memperpanjang umur simpan hingga sembilan hari dibandingkan kontrol. Pada buah rambutan, aplikasi LED putih mampu mempertahankan tingkat kecerahan dan kemerahan kulit buah hingga enam hari penyimpanan.

Ia menambahkan, penerapan manajemen pascapanen presisi pada akhirnya dapat memberikan dampak ekonomi bagi petani. Untuk pasar domestik, mutu produk yang lebih konsisten dapat memperbesar peluang hortikultura Indonesia diterima pasar modern, industri pengolahan, maupun konsumen.

“Adapun untuk pasar ekspor, kemampuan mempertahankan mutu selama penyimpanan dan distribusi menjadi semakin penting karena produk harus menempuh jarak dan waktu pengiriman yang lebih panjang,” ujarnya.

Menurutnya, arah pengembangan teknologi pascapanen bukan menerapkan satu teknologi dengan cara yang sama pada seluruh komoditas. Melainkan menghasilkan teknologi yang semakin aplikatif, tepat sasaran, dan sesuai dengan karakter masing-masing produk.

Dengan pendekatan ini, manajemen pascapanen presisi diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan food loss, mempertahankan mutu hortikultura tropika, memperpanjang rantai distribusi, serta meningkatkan peluang produk Indonesia memasuki pasar bernilai tambah lebih tinggi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.